
JAKARTA, METRODAILY – Bunga Zainal akhirnya buka suara terkait polemik keluarga yang menyeret namanya di media sosial. Ia membantah tudingan sebagai sosok “pelit” dan tidak peduli, sekaligus menjelaskan alasan memilih diam selama ini.
Dalam siaran langsung di TikTok pada 19 April 2026, Bunga menyampaikan bahwa keputusannya untuk tidak merespons tudingan berasal dari pertimbangan kondisi kesehatan sang ayah yang tengah sakit.
“Aku yang bawa bapakku berobat, aku yang urus semuanya,” ujar Bunga dengan suara bergetar.
Baca Juga: Arne Slot Diprediksi Tetap Latih Liverpool Meski Musim Tanpa Gelar
Ia mengungkapkan telah mendampingi pengobatan ayahnya, termasuk membawa ke luar negeri untuk pemeriksaan lanjutan di Kuala Lumpur.
Tudingan Keluarga Viral di Media Sosial
Nama Bunga menjadi sorotan setelah beredar tudingan dari pihak keluarga yang menyebut dirinya tidak peduli, bahkan dituduh pelit dan menikah tanpa wali. Informasi tersebut ramai diperbincangkan di media sosial, salah satunya melalui akun Instagram Instagram @lambegosiip.
Isu tersebut memicu perdebatan publik dan memperkeruh konflik keluarga yang sebelumnya tidak terekspos.
Bunga menegaskan, ia sebenarnya mampu membantah berbagai tudingan tersebut. Namun, ia memilih menahan diri karena khawatir konflik terbuka akan berdampak pada kondisi kesehatan ayahnya.
Baca Juga: Real Madrid Tekuk Alaves 2-1, Mbappe-Vinicius Jadi Penentu Kemenangan
“Kalau sampai ribut, kondisi bapak bisa drop,” katanya.
Ia bahkan mengaku siap menerima penilaian negatif dari publik demi menjaga situasi tetap kondusif.
“Biar saja aku jadi yang disalahkan,” ujarnya.
Soroti Privasi Keluarga
Selain itu, Bunga juga menyayangkan kondisi kesehatan ayahnya yang ikut menjadi konsumsi publik. Ia menilai persoalan keluarga seharusnya tidak diumbar ke media sosial.
“Tidak perlu diposting, tidak perlu dikasihani orang,” tegasnya.
Baca Juga: Inter Milan Comeback Dramatis, Hajar Como 3-2 dan Lolos ke Final Coppa Italia
Pernyataan Bunga memicu beragam reaksi. Sejumlah warganet menunjukkan empati terhadap sikapnya yang mengutamakan keluarga. Namun, sebagian lainnya menilai klarifikasi terbuka tetap diperlukan agar polemik tidak berlarut.
Perdebatan ini mencerminkan fenomena konflik keluarga yang kerap menjadi konsumsi publik di era digital, ketika batas antara ranah privat dan ruang publik semakin tipis. (net)