DEPOK, METRODAILY – Ikke Nurjanah angkat bicara terkait penurunan drastis royalti yang diterima Anugrah Royalti Dangdut Indonesia (ARDI) pada periode pertama 2025. Dari sebelumnya mencapai Rp1,5 miliar, kini jumlah yang diterima hanya Rp25 juta.
Ikke mengaku terkejut dengan angka tersebut, mengingat total penghimpunan royalti oleh Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN) mencapai Rp6 miliar.
“Untuk periode pertama, Januari sampai Juni 2025, kami diinformasikan mendapatkan Rp25 juta dari total Rp6 miliar yang didapat oleh LMKN,” ujar Ikke di Soneta Record, Depok, Jawa Barat.
Baca Juga: Angel Karamoy Putus, Berpisah Karena Perbedaan Keyakinan?
Menurutnya, penurunan ini sangat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, saat ARDI menerima Rp1,5 miliar dari distribusi royalti.
Kondisi tersebut memicu tanda tanya besar, terutama terkait mekanisme perhitungan yang digunakan LMKN. Ikke menyebut pihaknya tidak dilibatkan dalam proses tersebut.
“Jika sekarang hanya Rp25 juta, bagaimana prosesnya, kami tidak tahu. Bagaimana kami mempertanggungjawabkan hal ini kepada anggota?” tegasnya.
Baca Juga: Nama Dicatut Akun Centang Biru, Dewi Perssik Geram: Siap Tempuh Jalur Hukum!
Ia menilai transparansi menjadi persoalan utama yang hingga kini belum dijelaskan oleh LMKN. Bahkan, hingga memasuki 2025, ARDI mengaku belum pernah diajak berdiskusi secara teknis terkait skema distribusi royalti.
“Masalah transparansi juga menjadi catatan. Kami belum mendapatkan penjelasan, dan tidak pernah diajak berdiskusi,” ungkap Ikke.
Sebagai bentuk keberatan, ARDI telah melayangkan surat penolakan terhadap nominal royalti tersebut.
“Rp25 juta itu kami melakukan surat penolakan,” katanya.
Baca Juga: Kartu Merah Cubarsi Jadi Awal Kekalahan Barcelona
Ikke juga mengungkapkan bahwa pihaknya telah berulang kali mencoba membuka komunikasi dengan LMKN, namun belum membuahkan hasil konkret.
“Setiap habis bertemu, kita ajak ngobrol, kita kasih masukan, tapi tidak ada kelanjutannya. Hanya sebatas verbal,” ujarnya.
Ia berharap polemik ini segera mendapat respons agar tidak berlarut-larut dan dapat diselesaikan secara terbuka.
“Padahal kita sangat terbuka, tidak ingin ribut. Uangnya ada, datanya ada, kita juga ada, ya ngobrol lah,” pungkasnya. (Oz)
Editor : Editor Satu