JAKARTA, METRODAILY – Artis Jessica Iskandar mengungkapkan pengalaman traumatis yang pernah dialaminya terkait pelecehan seksual di masa kecil.
Pengakuan tersebut disampaikan Jessica saat menanggapi isu child grooming yang kembali menjadi sorotan publik.
Isu tersebut mencuat setelah Aurelie Moeremans merilis buku Broken Strings yang mengangkat kisah kelam masa lalunya.
Keberanian Aurelie untuk berbicara terbuka memantik respons dari sejumlah figur publik, termasuk Jessica Iskandar.
Perempuan yang akrab disapa Jedar itu mengaku pernah mengalami pelecehan seksual saat masih duduk di bangku taman kanak-kanak.
Namun, ia menyebut tidak memiliki keberanian untuk menceritakan pengalaman tersebut sejak awal.
“Aku sendiri pribadi, aku pernah mengalami tindak seksual kayak gitu waktu aku TK. Tapi aku enggak seberani Aurelie untuk cerita. Aku baru cerita di Pagi-Pagi Ambyar,” ujar Jessica saat ditemui di Studio Trans TV, Mampang, Jakarta Selatan, kemarin.
Jessica menilai berbagi cerita menjadi salah satu cara untuk melepaskan dan meringankan beban trauma yang selama ini dipendam seorang diri.
“Dengan cerita kita bisa sedikit banyak berbagi, jadi bisa mengurangi beratnya perasaan-perasaan itu. Jadi enggak ditanggung sendiri,” lanjutnya.
Ia juga mengungkapkan bahwa keberanian Aurelie Moeremans untuk berbicara terbuka membuatnya kembali mengingat pengalaman pahit yang pernah dialaminya, meski menurutnya tidak seberat yang dialami Aurelie.
“Dengan Aurelie berani speak up itu, aku jadi ingat kalau dulu aku pernah mengalami hal yang bikin trauma juga,” ungkap Jessica.
Baca Juga: Prilly Latuconsina Hengkang dari Rumah Produksi yang Dibangunnya
Lebih lanjut, Jessica menekankan pentingnya peran perempuan untuk saling mendukung, terutama di era digital saat ini.
Menurutnya, akses informasi yang semakin luas dapat menjadi ruang aman bagi perempuan untuk berbagi pengalaman dan memperoleh dukungan.
“Women support women. Di zaman digital sekarang, kita lebih gampang dapat informasi dan tahu banyak hal,” ujarnya.
Jessica berharap media sosial dapat dimanfaatkan secara positif sebagai sarana edukasi dan saling menguatkan, selama digunakan dengan logika dan pemikiran yang sehat.
“Mudah-mudahan sosial media bisa digunakan untuk membantu hidup kita jadi lebih pintar dan lebih mudah,” pungkasnya. (dtc)
Editor : Editor Satu