Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Joko Anwar: Rasisme Itu Ada dan Kita Mungkin Pernah jadi Pelakunya

Editor Satu • Rabu, 16 April 2025 | 07:30 WIB
Joko Anwar (kanan) saat temu media di Medan, Senin (14/4/2025), didampingi Morgan Oey dan Omara.
Joko Anwar (kanan) saat temu media di Medan, Senin (14/4/2025), didampingi Morgan Oey dan Omara.

MEDAN, METRODAILY – Joko Anwar tidak sedang membuat film hiburan semata. Kali ini, ia menghadirkan refleksi tajam tentang wajah Indonesia masa kini dalam film terbarunya, Pengepungan di Bukit Duri.

Dalam temu media di Medan, Senin (14/4/2025), sang sutradara menyebut film ini sebagai karya paling spesial sepanjang kariernya.

“Film ini membicarakan tentang negara. Tentang kita. Tentang budaya kekerasan dan intoleransi yang sudah merambah ke generasi muda. Ini bukan tentang politik, tapi tentang rakyat,” ujar Joko Anwar.

Dalam Pengepungan di Bukit Duri, Joko ingin penonton tidak sekadar menyaksikan, tapi juga bercermin.

“Tujuan film ini adalah menunjukkan bahwa rasisme itu ada. Kita mungkin tidak sadar bahwa kita juga pernah melakukannya. Tidak ada dunia yang hitam-putih. Tidak ada satu pihak yang mutlak benar atau salah. Semua orang harus berefleksi, karena kita semua berkontribusi pada ketidaksempurnaan dunia ini—dengan level yang berbeda-beda,” katanya.

Joko menyoroti fenomena global: naiknya gelombang rasisme dan fasisme. Ironisnya, di era keterbukaan informasi seperti sekarang, manusia justru makin tertutup.

“Kita hanya mencari informasi yang mendukung apa yang kita percaya. Algoritma hanya menyajikan apa yang membuat kita merasa benar sendiri. Ini terjadi di seluruh dunia,” jelasnya.

Kata dia, Amazon MGM Studios, produser film ini bersama Come and See Pictures, bahkan menyebut Pengepungan di Bukit Duri sebagai film yang relevan untuk seluruh dunia.

Sistem Pendidikan Gagal

Film ini mengangkat banyak kegelisahan, termasuk soal pendidikan. Joko tidak menyebut pihak tertentu secara frontal, tapi kritiknya jelas: “Sistem pendidikan gagal. Dan itu tanggung jawab manajernya, yaitu pemerintah!"

Ia menggambarkan ketimpangan akses pendidikan yang nyata. Di kota-kota besar, guru dan siswa bisa mengajar dan belajar dengan lancar. Namun di daerah pinggiran, banyak sekolah rusak, anak-anak harus menyeberang sungai dengan sampan terbalik.

Baca Juga: Mangkir dan Terlibat Narkoba, 8 ASN Pemko Tanjungbalai Dipecat

Bahkan, hubungan antara guru dan murid makin memburuk: “Sekarang murid bisa mukulin guru.”

Joko menilai pendidikan gagal membentuk karakter anak. “Kalau pendidikan tidak dijadikan prioritas, kita akan semakin terpuruk. Sekolah seharusnya bukan hanya tempat belajar, tapi tempat membentuk nilai dan karakter.”

Drama Thriller yang Bukan Sekadar Hiburan

Film Pengepungan di Bukit Duri berlatarkan tahun 2027, dan berangkat dari naskah yang ia tulis sejak 2007. Joko memotret Indonesia yang penuh kekerasan, intoleransi, serta hilangnya kepercayaan terhadap hukum.

Ia menyebut masa SMA adalah waktu paling krusial dalam pembentukan nilai seseorang. “Nilai yang akan mereka anut seumur hidup terbentuk di masa ini,” katanya.

Morgan Oey berperan sebagai Edwin, guru baru di SMA Duri, yang juga tengah mencari keponakannya yang hilang. Namun, saat kerusuhan besar terjadi dan kota lumpuh, ia dan para siswa terjebak di sekolah. Kekacauan dimulai.

Pelajar bernama Jefry yang diperankan Omara Esteghlal, tampil apik dengan ekspresi kemarahan akut di wajahnya. 

“Negara kita itu seperti kaca yang paling tipis,” kata Edwin dalam trailer.

Film ini memperlihatkan siswa yang brutal, sekolah yang gagal menjadi rumah nilai, dan masyarakat yang tidak lagi takut hukum.

“Di Jawa, geng motor baru bisa diterima kalau sudah bacok orang. Kekerasan tidak hanya dilakukan orang tua, tetapi sudah dibudayakan generasi muda,” kata Joko.

Para pemain juga memiliki kegelisahan yang sama. “Kami punya keresahan yang sama. Film ini adalah cara saya berkontribusi, setidaknya memantik diskusi: kenapa Jefry bisa seperti itu? Apakah dia jahat sejak lahir? Tidak. Dia adalah produk dari keluarga dan lingkungan,” ucap Joko.

Sebagai filmmaker, Joko Anwar ingin membangkitkan kesadaran. “Kami tidak ingin menyuapi solusi. Film ini untuk membuka pikiran, menyalakan diskusi. Sistemlah yang membuat kita saling membenci."

Sinematik, Relevan, dan Mencekam

Diproduksi oleh Come and See Pictures dan Amazon MGM Studios, film ini dibintangi Morgan Oey, Omara Esteghlal, Hana Pitrashata Malasan, hingga Satine Zaneta dan Endy Arfian.

Final trailer yang dirilis dua hari sebelum penayangan, memperlihatkan kontras antara kehidupan yang tampak damai dan ledakan kekerasan yang tersembunyi di bawah permukaannya.

Pengepungan di Bukit Duri akan tayang di bioskop mulai 17 April 2025 dan menandai dua dekade perjalanan Joko Anwar sebagai sutradara yang konsisten mengangkat narasi-narasi penting. (Mea)

 

Editor : Editor Satu
#Omara Esteghlal #Pengepungan di Bukit Duri #joko anwar #morgan oey