Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Soimah Ungkap Rahasia Kesuksesan

Metro Daily • Selasa, 28 November 2023 | 12:19 WIB
Soimah Pancawati
Soimah Pancawati
METRODAILY - Mubaligh muda asal Blitar, Muhammad Iqdam Kholid, atau kerap disapa Gus Iqdam, diundang untuk mengisi acara pengajian Haul Leluhur artis Soimah Pancawati di Pendopo Tulungo, Bantul, Yogyakarta, Jumat (24/11) malam.
Seperti yang terlihat dari unggahan kanal YouTube Sulaiman Audio Sound System (SA Music), para jamaah memenuhi area Pendopo Tulungo, demi menyaksikan penceramah kesayangan mereka, Gus Iqdam berdakwah untuk yang pertama kalinya di kota Yogyakarta.
Gus Iqdam tersohor akan gaya ceramahnya yang unik, kocak, dan kerap melontarkan istilah-istilah lucu seperti 'ST Nyell' (Semua jamaah Majelis Taklim Sabilul Taubah binaannya) dan 'Dekengane Pusat' (Dukungan Allah) ini mampu merangkul semua lapisan masyarakat, artis, pejabat, bahkan menyentuh kalangan orang-orang jalanan yang dekat dengan dunia kriminal.
Tak terlepas sinden sekaligus presenter Soimah. Di hadapan Gus Iqdam, Soimah mengaku bahwa dirinya merasa ‘malu’ jika berhadapan dengan sosok ‘Kyai’.
Mendengar ucapan artis yang mahir menyanyikan tembang Jawa itu, Gus Iqdam balik bertanya disambut gelak tawa jemaah, “Kok dengaren (kok tumben)?”
Dengan tersipu, Soimah menjelaskan jika di luar kamera, ia bisa serius. Tetapi jika sedang berakting, dia bisa berubah menjadi ‘tidak tahu malu’, demi tuntutan skenario.
Artis yang kerap didaulat menjadi juri di berbagai ajang pencarian bakat itu mengaku dirinya menjadi cengeng dan mudah menangis jika membicarakan tentang orang tua dan anak. Ia mengaku semua kesuksesan yang dicapainya adalah berkat doa orang tua.
“Semua doa orang tua itu kok nyata dan qabul,” terang Soimah diikuti ucapan hamdalah dari Gus Iqdam.
Soimah adalah anak kelima dari tujuh bersaudara. Lima anak pertama, diberi nama oleh pegawai Modin, yang semua berawalan ‘So’. Sementara anak ke-6 dan ke-7, tidak berawalan ‘So’, sebab sang pegawai Modin sudah meninggal dunia.
“Solihati, Solikin, Sofiyah, Sobiyatun, trus kulo Soimah. Dadi, limo niku So-So-So, sing njenengi Mbah Modin riyin. Mbah Modin seda, sing nomer nem kalih pitu, Nur Lailatin kalih Sinta Fitriani,” kata Soimah sembari memperkenalkan satu persatu saudara-saudaranya tersebut kepada jamaah yang hadir.
“Wooo... Modin’e mati, ganti jeneng (Modin meninggal, lalu anak jadi ganti nama),” timpal Gus Iqdam.
Menurut Gus Iqdam, kisah Soimah ini menarik, dan layak dibuat novel, meski tidak nyambung. Lagi-lagi hadirin jamaah terpingkal-pingkal mendengar candaan Gus Iqdam dan Soimah.
Soimah kemudian bercerita tentang perjuangannya di masa kecil, di mana setiap hari ia membantu ibunya berdagang ikan pindang, hingga tangannya kapalan, bahkan sampai tidak belajar dan tidak mengaji.
“Kerjo terus, ora ono wektu dolan. Dadi nek dikon ngaji, kulo dadine dolan. (Kerja terus, tidak ada waktu bermain. Akhirnya ketika disuruh mengaji, saya malah bermain),” ucap Soimah.
Gus Baha lalu menimpali Soimah, menasehati jamaah agar jangan mencontoh perilaku Soimah di waktu kecil, “Ojo kok tiru, Cah (Jangan kalian tiru, Nak)...”
Soimah pun meng-aamiin-i Gus Iqdam, bahwa kelakuannya memang tidak patut dicontoh. Akan tetapi ia juga mengatakan bahwa ketika itu, orang tuanya berbicara yang menyakitkan hati Soimah.
“Jadi ketika saya dan Ibu menonton (penyanyi) di TV, sambil menata ikan, Ibu saya nyeletuk ‘Kowe iso lho Im (Soimah), koyok ngono’. Suaramu apik, iso kowe. (Kamu bisa lho Im, seperti penyanyi itu. Suaramu bagus, kamu bisa.)”
Mendengar ucapan ibunya, Soimah remaja hanya berkata dalam hati, ‘Bagaimana bisa jadi penyanyi, sementara sehari-sehari kerjanya hanya memanggang ikan?’
“Trus Mak kulo nyetel TV malih. Acarane dagelan Abah Kirun. Angger ndelok Abah Kirun, nganti kepuyuh-puyuh. ‘Kowe yo lucu, Im. Iso kowe koyok ngono kuwi... (Lalu ibu saya menonton TV lagi. Acara lawak Kirun. Kalau menonton Kirun, sampai terkencing-kencing. Ibu saya berkata, ‘Kamu ya lucu, Im. Kamu bisa seperti Kirun.)” cerita Soimah sambil menggambarkan tutur kata ibunya semasa hidup.
Bahkan ketika menonton acara balapan atau tinju di televisi, Ibu Soimah akan menyemangati Soimah agar dirinya bisa seperti pembalap atau petinju yang ada di televisi.
“Wah ngeri... Sing tinju iku sing ngeri... (Wah ngeri... Yang jadi petinju itu yang ngeri),” sahut Gus Iqdam.
Akan tetapi, meski Soimah sakit hati dan kesal dengan perkataan orang tuanya, ia bersyukur bahwa dirinya tidak pernah membantah satu kalipun ucapan mereka, sebab dirinya ketika kecil adalah seorang anak yang pendiam. Para jamaah kembali tertawa, menyangsikan ucapan Soimah.
“Sa’estu kulo pendiam. Demi Allah. Taken mbakyu-mbakyu kulo (Sungguh saya pendiam. Demi Allah. Tanya saja pada kakak-kakak perempuan saya),” kata Soimah menegaskan pernyataannya.
Kakak-kakak Soimah juga merasa heran, karena setelah menjadi artis, Soimah berubah 180 derajat menjadi ceriwis, tidak lagi pendiam seperti ketika masih kanak-kanak.
Ketika menceritakan ayahnya, Soimah juga terlihat berkaca-kaca. Ia teringat dirinya pernah meminta ayahnya untuk mengajari menyanyi ‘Gambuh’ (bagian lagu Tembang Macapat dari Jawa Tengah).
“Kulo nembang Gambuh. Kulo taken Bapak kulo. ‘Piye, suaraku apik ora, Pak?’ (Saya nyanyi Gambuh. Saya tanya ayah saya. ‘Bagaimana, suara saya bagus atau tidak, Pak?’).”
“Suaramu ki, mbesuk sing ngrungokne wong sak-songgo buwono. (Suaramu ini, besok yang akan mendengarkan orang sedunia),” lanjut Soimah menceritakan ayahnya.
Menurut ayah Soimah, suara Soimah sangat bagus dan akan disukai seluruh orang sedunia.
Gus Iqdam meminta Soimah menyanyikan ‘Gambuh’, namun Soimah justru ingin menyanyikan lagu ‘Jenang Gulo’, karena ia tidak ingin melupakan masa lalunya yang berat/pahit.
Menurut Soimah, masa lalu yang berat adalah sumber kekuatan dalam menghadapi kerasnya ujian kehidupan.
“Kulo mboten gelem nek kulo ning negoro/kutho-ne wong, trus kulo di-nyek. (Saya tidak mau jika saya sedang berada di negara/kota lain, lalu saya dihina orang),” jelas Soimah.
“Ket cilik urip-e wis karo geni, karo banyu, karo watu ibarat-e. (Sejak kecil, saya sudah terbiasa hidup susah),” sambungnya lagi.
Soimah kemudian menyanyikan ‘Jenang Gulo’ dengan iringan musik rebana yang dimainkan Hadrah Pusat Sabilu Taubah (ST) Nyell binaan Gus Iqdam.

Gus Iqdam juga mendoakan Soimah, agar bisa istiqomah menyelenggarakan Haul setiap tahunnya.
Tak lupa, pengasuh Pondok Pesantren Mambaul Hikam II Blitar ini juga menasihatkan jemaah agar senantiasa sabar seperti halnya Soimah, yang tidak pernah membalas ucapan menyakitkan orang tua, hingga Soimah kini diberkahi kesuksesan dalam hidupnya.
Meski belum bisa meninggalkan seluruh kemaksiatan, akan tetapi selagi masih memiliki orang tua, berusaha untuk selalu berbakti kepada mereka, karena orang tua merupakan jalan memperoleh kebahagiaan dunia dan akhirat.
“Nek mboten ngeten, ora entuk dhuwit (Kalau tidak begitu (tidak tahu malu), tidak bisa dapat uang),” seloroh Soimah.
Meski demikian, Soimah tetap merasa bangga, karena meskipun dirinya dikenal sebagai artis yang doyan ngebanyol, tetapi ia terlahir dalam keluarga besar yang religius dan taat agama.
Soimah menyebutkan, banyak di antara keponakan-keponakannya yang khatam Al-Qur’an, dan ada pula kerabat yang memiliki pondok pesantren di Pati.
Awalnya, Soimah bermaksud mengadakan Haul leluhurnya di Pati, kota kelahirannya, akan tetapi baru bisa terlaksana di Bantul.
Sehari sebelum Haul diselenggarakan, Soimah menangis ketika menyaksikan orang-orang bekerja bakti mempersiapkan acara. Ia tidak percaya sekaligus bersyukur, dirinya bisa mewujudkan hajatnya tersebut, meski bukan di kota kelahirannya. (jp) Editor : Metro Daily
#soimah pancawati