Pustaha dan Pusaka Batak di Belanda Didorong Pulang ke Tanah Leluhur

Editor Satu • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 12:44 WIB
Sekda Tapanuli Utara Henry MM Sitompul menyampaikan sambutan mewakili Bupati JTP Hutabarat saat Festival Masyarakat Batak di Tarutung, Sabtu (26/9/2026).
Sekda Tapanuli Utara Henry MM Sitompul menyampaikan sambutan mewakili Bupati JTP Hutabarat saat Festival Masyarakat Batak di Tarutung, Sabtu (26/9/2026).

TAPUT, METRODAILY — Naskah kuno Pustaha dan sejumlah benda pusaka warisan leluhur Batak yang berada di Belanda didorong untuk kembali ke Tanah Batak. Pemerintah Kabupaten Tapanuli Utara (Pemkab Taput) menyatakan dukungan terhadap upaya repatriasi tersebut.

Dukungan itu disampaikan Sekretaris Daerah Taput Henry MM Sitompul saat mewakili Bupati Tapanuli Utara Jonius Taripar Parsaoran (JTP) Hutabarat membuka Festival Masyarakat Batak (FMB) di Gedung Sopo Partukkoan, Tarutung, Sabtu (26/9/2026).

Dalam arahan tertulis Bupati JTP Hutabarat yang dibacakan Henry, repatriasi warisan leluhur Batak disebut sebagai momentum penting untuk memulihkan sejarah sekaligus menjaga martabat budaya Batak.

Baca Juga: Tol Simpang Panei–Parapat Diproyeksikan Bisa Juga Jadi Landasan Darurat Pesawat

Menurut Henry, upaya membawa pulang benda-benda bersejarah tersebut tidak bisa dilakukan oleh satu pihak. Pemerintah daerah, pemerintah provinsi, pemerintah pusat dan masyarakat perlu bekerja bersama.

“Satu kata kuncinya adalah kolaborasi. Pemulangan warisan leluhur ini membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah daerah, provinsi, pusat hingga masyarakat,” ujar Henry.

Bukan Sekadar Benda Lama

Bagi Pemkab Taput, kembalinya Pustaha dan benda pusaka ke Tanah Batak bukan sekadar memindahkan koleksi dari satu tempat ke tempat lain.

Baca Juga: Rp168 Juta Uang Waket DPRD Simalungun Dilarikan, Pelaku Ditangkap di Asahan

Benda-benda tersebut dinilai dapat menjadi sumber pembelajaran bagi generasi muda untuk mengenal sejarah, identitas dan kearifan lokal Batak.

“Benda bersejarah ini nantinya menjadi sarana edukasi kearifan lokal agar generasi muda bangga akan identitasnya, sejalan dengan visi ‘Berbudaya’ Tapanuli Utara,” kata Henry.

Pemkab Taput juga mengapresiasi Pengurus Daerah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Tapanuli Utara sebagai penyelenggara Festival Masyarakat Batak.

Apresiasi turut disampaikan kepada Charlotte Roijackers, yang hadir langsung dari Belanda untuk mendukung dan mengawal proses repatriasi warisan budaya Batak.

Baca Juga: Audi Marissa-Anthony Xie Sepakat Damai, Status Rujuk Tunggu Sidang 6 Oktober

Festival Masyarakat Batak menjadi ruang untuk memperkuat perhatian terhadap sejarah, budaya dan warisan leluhur Batak. Di dalamnya, isu pengembalian benda-benda bersejarah yang kini berada di luar negeri kembali mendapat perhatian.

Bagi Taput, upaya tersebut sekaligus membuka jalan agar generasi muda tidak hanya mengenal budaya Batak dari cerita, tetapi juga dapat mempelajari langsung jejak sejarah yang ditinggalkan leluhurnya. (net)

Editor : Editor Satu
Pustaha Batak Pusaka Batak belanda