Urdo-Urdo, Nyanyian yang Hampir Hilang Kini Kembali Mengayun Anak-anak Siantar

Editor Satu • Dipublikasikan Rabu, 29 Juli 2026 | 12:49 WIB
Regional Lead Tanoto Foundation Sumatera Utara, Medi Yusva (tengah), berfoto bersama para pemenang lomba Doding Urdo-urdo usai penyerahan hadiah pada puncak peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Lapangan Adam Malik, Pematangsiantar, Senin (27/7/2026).
Regional Lead Tanoto Foundation Sumatera Utara, Medi Yusva (tengah), berfoto bersama para pemenang lomba Doding Urdo-urdo usai penyerahan hadiah pada puncak peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Lapangan Adam Malik, Pematangsiantar, Senin (27/7/2026).

SIANTAR, METRODAILY — Ibu-ibu muda bergantian mengalunkan nyanyian berbahasa Simalungun untuk mengayun anak. Ada yang suaranya terdengar lembut, ada yang bergetar, ada yang nyaris pecah karena gugup. Beberapa ibu bahkan terdengar lebih seperti menangis daripada bernyanyi.

Seorang peserta berkali-kali meminta maaf kepada dewan juri karena merasa salah mengingat lirik. Bibirnya mulai melantunkan Doding Urdo-urdo, tetapi suaranya terhenti. Ia tersenyum kaku, meminta maaf, lalu mencoba lagi. Merasa masih keliru, ia kembali meminta maaf sebelum akhirnya menuntaskan nyanyian tradisional Simalungun untuk menimang anak itu.

Namun, beberapa peserta berhasil tampil memukau dengan nada yang indah dan penghayatan yang kuat. Kebanyakan bernyanyi sambil mengayunkan anak di pelukan seolah benar-benar sedang menidurkannya. Ada pula yang membaringkan anak di lantai karena usianya sudah lebih besar. Anak-anak pun tampak tenang menikmati alunan lagu.

Baca Juga: Doding Urdo-urdo Dilombakan di Siantar, Cara Lama Orangtua Simalungun Perkuat Ikatan Hangat dengan Anak

Begitulah suasana Lomba Doding Urdo-urdo yang digelar Tim Penggerak PKK Kota Pematangsiantar pada puncak peringatan Hari Anak Nasional ke-42 di Lapangan Adam Malik, Senin (27/7/2026).

Sebanyak 36 peserta dari berbagai kelurahan mengikuti perlombaan. Jumlah itu lebih sedikit dibanding target awal 55 peserta, sesuai jumlah kelurahan di Kota Pematangsiantar.

"Seharusnya ada 55 peserta, tetapi yang hadir 36 orang," kata Sekretaris TP PKK Kota Pematangsiantar, Rasta Elia Ginting.

Namun, lomba itu bukan sekadar mencari pemenang. Di balik setiap senandung, tersimpan upaya menghidupkan kembali tradisi yang perlahan mulai ditinggalkan.

Baca Juga: Jembatan Perintis Garuda Resmi Dibuka, Warga Medan Polonia Tak Lagi Menyeberang Pipa

Ketua Dewan Juri, Hotman Damanik, mengatakan Urdo-urdo merupakan nyanyian pengantar tidur khas masyarakat Simalungun. Seorang ibu atau pengasuh yang menyanyikannya sambil menggendong atau mengayun anak disebut pangurdo.

"Urdo-urdo merupakan nyanyian pengantar tidur khas masyarakat Simalungun. Seorang ibu atau pengasuh yang menyanyikannya sambil menggendong atau mengayun anak disebut pangurdo," katanya.

Puluhan ibu dari berbagai kelurahan di Kota Pematangsiantar mengikuti Lomba Doding Urdo-urdo pada puncak Hari Anak Nasional ke-42 di Lapangan Adam Malik, Senin (27/7/2026). 
Puluhan ibu dari berbagai kelurahan di Kota Pematangsiantar mengikuti Lomba Doding Urdo-urdo pada puncak Hari Anak Nasional ke-42 di Lapangan Adam Malik, Senin (27/7/2026). 

Tradisi sederhana itu kini dipandang memiliki makna lebih besar. Bukan hanya menjaga warisan budaya, tetapi juga menjadi media pengasuhan anak usia dini yang memperkuat ikatan emosional orang tua dan anak, terutama pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan.

Kolaborasi Pemerintah Kota Pematangsiantar, TP PKK, dan Tanoto Foundation menjadikan Urdo-urdo sebagai kampanye pengasuhan berbasis budaya lokal. Pesannya sederhana: sentuhan, tatapan mata, pelukan, dan suara ibu merupakan stimulasi penting bagi tumbuh kembang anak.

Baca Juga: Oknum Polisi Prapidkan Kejagung, Gugat Status Tersangka Korupsi Bansos Rp1,9 Miliar

Tema yang diangkat, "Menjalin Hubungan Emosional antara Anak dan Orang Tua melalui Urdo-urdo", menegaskan bahwa pembangunan anak dimulai dari rumah, jauh sebelum memasuki ruang kelas.

Lomba Doding Urdo-urdo dinilai oleh dewan juri yang berasal dari kalangan budayawan, seniman, akademisi, dan tokoh masyarakat. Mereka adalah Hotman Damanik, ST, selaku Ketua Dewan Juri dan budayawan sekaligus arsitek Monumen Sangnaualuh Damanik; Lina Damanik, maestro seni tradisi Simalungun; Jayamin Sipayung, S.Pd., M.Si., budayawan; Pdt. Jannes Purba, S.Th., M.A., M.Th., LM, komposer Simalungun; Juli Aprianty Saragih, S.KM dari TP PKK Kota Pematangsiantar; Prof. Dr. Hisarma Saragih, M.Hum., akademisi; serta Rico Damanik, Ketua Tumpuan Damanik Boru Panogolan Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun.

Hotman mengatakan melantunkan Urdo-urdo jauh lebih sulit daripada sekadar bernyanyi.

"Urdo-urdo memiliki cengkok khas. Yang dinilai bukan hanya vokal, tetapi juga penghayatan dan kemampuan membangun ikatan emosional dengan anak," ujarnya.

Baca Juga: Pangdam I BB Kunker ke Wilayah Kodim 0212/TS, Perkuat Sinergi dan Pembangunan Tabagsel

Menurut dia, ada empat aspek utama penilaian, yakni teknik vokal, penguasaan Doding Urdo-urdo, penghayatan, serta penampilan yang mencerminkan budaya Simalungun. Juri juga memberi perhatian pada orisinalitas. Bahasa yang digunakan harus konsisten dan tidak dicampur dengan bahasa lain. Intonasi, artikulasi, hingga ekspresi menjadi bagian penting dalam penilaian.

Bagi masyarakat Simalungun, Urdo-urdo bukan sekadar lagu pengantar tidur. Di dalamnya terselip doa, harapan, dan nasihat orang tua kepada anak yang dibungkus dalam alunan lembut.

"Tradisi itu lahir jauh sebelum gawai dan video pengantar tidur mengambil alih peran orang tua," kata anggota dewan juri, Pdt. Jannes Purba.

Juara 1 Lomba Doding Urdo-urdo pada puncak Hari Anak Nasional ke-42 di Lapangan Adam Malik, Senin (27/7/2026). 
Juara 1 Lomba Doding Urdo-urdo pada puncak Hari Anak Nasional ke-42 di Lapangan Adam Malik, Senin (27/7/2026). 

Regional Lead Tanoto Foundation Sumatera Utara, Medi Yusva, menilai penguatan ekosistem pengasuhan menjadi kebutuhan mendesak di tengah tantangan pembangunan sumber daya manusia. Menurut dia, usia 0-6 tahun merupakan fase yang menentukan kualitas perkembangan anak pada masa berikutnya.

Baca Juga: Sequis Life Resmikan Kantor Baru di Medan, Ajak Masyarakat Evaluasi Asuransi di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

"Melalui Doding Urdo-urdo, kita mengembalikan pengasuhan kepada landasan utamanya, yaitu keluarga. Orang tua hadir sepenuhnya untuk mendampingi, berbicara, mendengarkan, dan membangun kedekatan dengan anak," katanya.

Medi menambahkan, tradisi tersebut menunjukkan masyarakat Simalungun telah lama memiliki praktik stimulasi dini yang selaras dengan ilmu perkembangan anak. Dalam praktiknya, Urdo-urdo menghadirkan sentuhan, pelukan, tatapan mata, dan suara ibu dalam satu rangkaian interaksi yang merangsang perkembangan bahasa, emosi, motorik, sekaligus membangun rasa aman anak sejak usia dini. Karena itu, pelestarian budaya bukan hanya berkaitan dengan identitas, tetapi juga menjadi investasi bagi kualitas generasi mendatang.

Rico Damanik menilai perlombaan tersebut menjadi ruang untuk merawat identitas budaya Simalungun. Tradisi yang terus dipraktikkan, katanya, akan membuat generasi muda tetap mengenali akar budayanya di tengah perubahan zaman.

Baca Juga: Chelsea Incar Alvaro Carreras, Disiapkan Jadi Pengganti Marc Cucurella

"Harapan orang tua kepada anak tersimpan di dalam syair. Di situlah nilai Urdo-urdo. Yang dibangun bukan sekadar lagu, tetapi hubungan batin antara ibu dan anak," ujarnya.

Lomba yang baru pertama kali digelar di Pematangsiantar ini diharapkan menjadi agenda tahunan. Bukan semata-mata untuk melestarikan budaya Simalungun, tetapi juga mengingatkan bahwa cara paling sederhana mengasuh anak sesungguhnya telah diwariskan oleh para leluhur. (Mea/rel)

Editor : Editor Satu
doding urdo-urdo pengasuhan anak usia dini tanoto foundation