Doding Urdo-urdo Dilombakan di Siantar, Cara Lama Orangtua Simalungun Perkuat Ikatan Hangat dengan Anak

Editor Satu • Dipublikasikan Selasa, 28 Juli 2026 | 20:34 WIB
Puluhan ibu mengikuti lomba Doding Urdo-urdo pada puncak peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Lapangan Adam Malik, Pematangsiantar, Senin (27/7/2026). Tradisi pengantar tidur khas Simalungun itu dihidupkan kembali sebagai media memperkuat ikatan emosional orangtua dan anak serta kampanye pengasuhan berbasis budaya.
Puluhan ibu mengikuti lomba Doding Urdo-urdo pada puncak peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Lapangan Adam Malik, Pematangsiantar, Senin (27/7/2026). Tradisi pengantar tidur khas Simalungun itu dihidupkan kembali sebagai media memperkuat ikatan emosional orangtua dan anak serta kampanye pengasuhan berbasis budaya.

SIANTAR, METRODAILY — Memperkuat ekosistem pengasuhan anak usia dini, Pemerintah Kota Pematangsiantar bersama Tanoto Foundation, mengangkat kearifan lokal Doding Urdo-urdo—senandung pengantar tidur khas Simalungun—sebagai media pengasuhan berbasis budaya sekaligus melombakannya pada puncak peringatan Hari Anak Nasional (HAN) 2026.

Puluhan ibu dari berbagai kelurahan bergantian melantunkan Doding Urdo-urdo yang bebas dikreasikan, di Lapangan Adam Malik, Senin (27/7/2026). Lomba yang digelar TP PKK Kota Pematangsiantar itu bukan sekadar upaya melestarikan tradisi, melainkan kampanye untuk mengingatkan pentingnya kehadiran orangtua dalam 1.000 hari pertama kehidupan anak.

Wali Kota Pematangsiantar Wesly Silalahi menilai Doding Urdo-urdo merupakan warisan budaya yang sarat nilai pengasuhan. Senandung yang biasa dilantunkan saat menimang anak itu mengandung doa, harapan, dan kasih sayang yang mempererat hubungan batin orangtua dengan buah hatinya.

Baca Juga: Jembatan Perintis Garuda Resmi Dibuka, Warga Medan Polonia Tak Lagi Menyeberang Pipa

Sekretaris Daerah Kota Pematangsiantar, Junaedi Antonius Sitanggang, mengatakan derasnya arus digital membuat interaksi langsung dalam keluarga semakin berkurang. Padahal, kehadiran orangtua secara fisik dan emosional menjadi fondasi pembentukan karakter, rasa aman, serta kesehatan psikologis anak.

"Pengasuhan bukan hanya memenuhi kebutuhan fisik, tetapi menghadirkan orangtua yang mau mendengar, berbicara, bermain, dan membangun ikatan emosional secara utuh dengan anak," kata Junaedi.

Menurut dia, peringatan Hari Anak Nasional menjadi momentum mengembalikan pengasuhan kepada fondasi utamanya, yakni keluarga. Doding Urdo-urdo menjadi bukti bahwa kearifan lokal dapat menjadi sarana mempererat hubungan emosional antara orangtua dan anak sejak usia dini.

Baca Juga: Oknum Polisi Prapidkan Kejagung, Gugat Status Tersangka Korupsi Bansos Rp1,9 Miliar

Junaedi juga mengajak keluarga membatasi penggunaan gawai pada anak serta menghidupkan kembali permainan dan lagu-lagu tradisional. Menurutnya, budaya lokal bukan hanya warisan yang perlu dilestarikan, tetapi juga media stimulasi bahasa, motorik, kemampuan sosial, hingga pengendalian emosi anak.

Regional Lead Tanoto Foundation Sumatera Utara, Medi Yusva (tengah), berfoto bersama para pemenang lomba Doding Urdo-urdo usai penyerahan hadiah pada puncak peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Lapangan Adam Malik, Pematangsiantar, Senin (27/7/2026).
Regional Lead Tanoto Foundation Sumatera Utara, Medi Yusva (tengah), berfoto bersama para pemenang lomba Doding Urdo-urdo usai penyerahan hadiah pada puncak peringatan Hari Anak Nasional 2026 di Lapangan Adam Malik, Pematangsiantar, Senin (27/7/2026).

Regional Lead Tanoto Foundation Sumatera Utara, Medi Yusva, mengatakan kolaborasi dengan Pemerintah Kota Pematangsiantar bertujuan memperkuat ekosistem pengasuhan anak usia dini. Menurutnya, periode usia 0–6 tahun merupakan fase paling menentukan dalam tumbuh kembang anak sehingga keluarga harus menjadi pusat stimulasi dan kasih sayang.

"Doding Urdo-urdo membuktikan leluhur kita telah mengenal praktik pengasuhan yang hangat dan kuat secara psikologis. Tradisi ini layak dihidupkan kembali sebagai bagian dari pengasuhan modern yang berakar pada budaya," ujar Medi.

Baca Juga: Pangdam I BB Kunker ke Wilayah Kodim 0212/TS, Perkuat Sinergi dan Pembangunan Tabagsel

Budayawan Hotman Damanik yang menjadi salah satu juri mengatakan Urdo-urdo bukan sekadar lagu pengantar tidur. Dalam setiap syairnya tersimpan doa dan harapan orangtua agar anak tumbuh sehat, berhasil, serta tetap menjunjung tinggi nilai-nilai budaya Simalungun.

Lomba Doding Urdo-urdo menjadi salah satu agenda utama peringatan Hari Anak Nasional ke-42 di Pematangsiantar. 

Di tengah derasnya pengaruh teknologi, pelukan, sentuhan, dan lantunan kasih sayang kembali diingatkan sebagai stimulasi paling mendasar bagi tumbuh kembang anak. (Mea)

Editor : Editor Satu
doding urdo-urdo PKK Pematangsiantar tanoto foundation hari anak nasional