Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Pustaha Laklak, Kitab Kuno Batak Toba yang Simpan Ilmu Pengobatan hingga Ramalan Leluhur

Editor Satu • Senin, 2 Februari 2026 | 12:50 WIB
Pustaha laklak, kitab kuno Batak Toba berbahan kulit kayu, berisi pengetahuan ritual, pengobatan, dan peramalan yang diwariskan para datu.
Pustaha laklak, kitab kuno Batak Toba berbahan kulit kayu, berisi pengetahuan ritual, pengobatan, dan peramalan yang diwariskan para datu.

SIANTAR, METRODAILY – Jauh sebelum pengaruh Barat masuk ke Tanah Batak, masyarakat Batak Toba telah mengenal tradisi tulis dan sistem pendidikan lokal melalui pustaha laklak, kitab kuno yang berisi pengetahuan ritual, pengobatan, hingga peramalan.

Pustaha laklak merupakan naskah rujukan yang digunakan oleh datu, tokoh adat Batak Toba yang berperan sebagai pemimpin ritual sekaligus penjaga ilmu tradisional.

Hal ini diungkapkan peneliti René Teygeler dalam kajian akademik berjudul Pustaha: A Study into the Production Process of the Batak Book yang dimuat dalam jurnal Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde.

“Pustaha merupakan buku rujukan yang digunakan oleh datu dan berfungsi sebagai pedoman ritual, peramalan, serta pengobatan,” tulis Teygeler (1993).

Baca Juga: Wamen Dikdasmen Hadiri Serah Terima Renovasi Masjid Taqwa di Siantar

Menurutnya, pustaha laklak tidak dibuat untuk konsumsi masyarakat umum. Kitab ini bersifat terbatas dan menjadi bagian dari proses pendidikan calon datu.

“Isi pustaha tidak dimaksudkan untuk dibaca secara luas, melainkan sebagai sarana pembelajaran bagi calon datu,” jelas Teygeler.

Dibuat dari Kulit Kayu

Secara fisik, pustaha laklak dibuat dari kulit kayu, terutama kulit kayu alim. Kulit kayu tersebut diolah hingga menjadi lembaran tipis namun kuat, lalu dilipat memanjang menyerupai bentuk akordeon.

“Hampir seluruh pustaha ditulis di atas kulit kayu dan dilipat memanjang seperti akordeon,” tulis Teygeler.

Baca Juga: Polisi Siantar Survei Perlintasan KA, Masih Ada Titik Tanpa Palang di Jalan Medan

Untuk melindungi isinya, bagian luar pustaha dilapisi papan kayu sebagai sampul. Bentuk ini memudahkan datu membawa kitab tersebut saat berpindah tempat sekaligus menjaga daya tahan naskah.

Ditulis dengan Aksara Batak

Seluruh isi pustaha laklak ditulis menggunakan aksara Batak, sistem tulisan tradisional yang berbeda dari aksara Latin. Penulisan dilakukan tanpa spasi antarkata, sehingga hanya orang yang benar-benar memahami aksara Batak yang dapat membacanya.

Kajian filologi P. Voorhoeve menyebut aksara Batak sebagai bagian dari tradisi literasi lokal yang berkembang secara mandiri.

Baca Juga: Dewan Pendidikan Simalungun Periode 2025–2030 Resmi Dilantik

“Aksara Batak merupakan tradisi tulisan asli yang telah ada jauh sebelum pendidikan Barat diperkenalkan,” tulis Voorhoeve.

Dalam konteks pustaha, aksara Batak tidak hanya berfungsi sebagai alat tulis, tetapi juga sebagai sistem simbol yang berkaitan erat dengan praktik ritual dan pengobatan tradisional.

Isi dan Fungsi Pustaha

Isi pustaha laklak sangat beragam. Teygeler mencatat, naskah ini memuat resep pengobatan tradisional, perhitungan hari baik dan buruk, ramalan, serta panduan ritual adat.

“Pustaha memuat resep pengobatan, tabel peramalan, serta petunjuk ritual,” tulisnya.

Baca Juga: Arsenal Langganan Pesta di Kandang Leeds

Setiap pustaha memiliki karakter dan isi yang berbeda, tergantung pengalaman serta keahlian datu yang menyusunnya.

“Tidak ada dua pustaha yang benar-benar sama,” tegas Teygeler.

Simbol Otoritas Datu

Antropolog J.C. Vergouwen menilai pustaha memiliki peran penting dalam struktur sosial masyarakat Batak Toba. Penguasaan pustaha menjadi sumber legitimasi dan kewibawaan seorang datu.

“Seorang datu memperoleh otoritas dari penguasaan pengetahuan ritual dan tradisi tulis,” tulis Vergouwen.

Dengan demikian, pustaha bukan sekadar kitab, melainkan simbol kekuasaan pengetahuan dalam komunitas Batak Toba.

Baca Juga: Arsenal Pesta 4-0 di Kandang Leeds, Akhiri Puasa Kemenangan

Jejak Kolonialisme

Seiring masuknya kolonialisme dan misi keagamaan, penggunaan pustaha laklak perlahan menurun. Banyak naskah Batak kemudian dikumpulkan dan dibawa ke luar negeri.

“Sejumlah besar manuskrip Batak dikoleksi dan dibawa ke Eropa pada masa kolonial,” catat Teygeler.

Kini, pustaha laklak tersimpan di berbagai museum dan perpustakaan, baik di Indonesia maupun luar negeri. Keberadaannya menjadi bukti kuat bahwa masyarakat Batak Toba telah memiliki sistem pengetahuan, pendidikan, dan literasi yang mapan jauh sebelum kolonialisme hadir. (dtc)

Editor : Editor Satu
#Kitab Kuno Batak Toba #pustaha laklak batak