Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Ritual Mangarontas Diabadikan, Sanggar Maduma Humbahas Terbitkan Buku tentang Haminjon

Editor Satu • Selasa, 20 Januari 2026 | 11:20 WIB
Flayer Sanggar Maduma di Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, yang akan menerbitkan buku dokumentasi ritual mangarontas dan haminjon.
Flayer Sanggar Maduma di Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatra Utara, yang akan menerbitkan buku dokumentasi ritual mangarontas dan haminjon.

HUMBAHAS, METRODAILY – Sanggar Maduma Dolok Sanggul, Kabupaten Humbang Hasundutan (Humbahas), Sumatra Utara, berkolaborasi dengan penulis dan pegiat seni budaya Batak Toba, Riduan Situmorang, untuk mendokumentasikan tradisi adat mangarontas, ritual sebelum penyadapan getah haminjon (kemenyan).

Pendokumentasian tradisi tersebut akan diwujudkan dalam bentuk penerbitan buku, film dokumenter, serta pertunjukan seni.

Proses pengerjaan dijadwalkan dimulai dalam waktu dekat sebagai bagian dari proyek kolaborasi kreatif antara Riduan Situmorang dan Sanggar Maduma.

Baca Juga: Pembunuh Pengunjung Kafe Lotta Ditangkap di Parapat, Pelaku Serahkan Diri

Riduan Situmorang, yang juga merupakan penerima manfaat Dana Indonesiana, mengatakan bahwa dokumentasi mangarontas menjadi penting karena ritual ini telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia sejak 2018, berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 264/M/2018.

“Pendokumentasian ini mendapat dukungan Dana Indonesiana dan dilakukan bersama Sanggar Maduma. Kami sangat mengapresiasi kesempatan serta dukungan yang diberikan untuk terus berkarya dan merawat warisan budaya,” ujar Riduan, Senin (19/1/2025).

Menurut Riduan, haminjon dipilih sebagai fokus kajian karena memiliki nilai strategis, baik secara budaya maupun historis, bagi masyarakat Batak Toba, khususnya di wilayah Humbahas. Sejak ratusan tahun lalu, haminjon dari Tanah Batak dikenal sebagai komoditas bernilai tinggi.

Baca Juga: Timbul Jaya Sibarani Tegaskan Dukungan ke Andar Amin Harahap Tanpa Tekanan

“Haminjon bukan sekadar hasil alam. Di dalamnya melekat ritual adat dan nilai-nilai budaya yang mencerminkan kearifan lokal masyarakat Batak Toba. Nilai-nilai inilah yang perlu digali, dikembangkan, dan diwariskan,” tegasnya.

Riduan menambahkan, kolaborasi dengan Sanggar Maduma menjadi bagian penting dalam proses kreatif tersebut. Sejak berdiri, sanggar ini aktif memproduksi dan menampilkan karya seni, baik atas inisiatif sendiri maupun memenuhi undangan berbagai pihak.

Ia juga mengungkapkan bahwa gagasan pendirian Sanggar Maduma telah dirintis sejak 2015 melalui Toba Writers Forum (TWF). Ide tersebut kemudian berkembang melalui diskusi dengan Pusat Latihan Opera Batak pada 2019, sebelum Sanggar Maduma mulai beroperasi secara terbatas pada Maret 2020.

“Maret 2021 menjadi penampilan perdana Sanggar Maduma di hadapan publik. Selanjutnya, sanggar ini resmi berdiri secara legal pada 24 Juni 2021,” jelas Riduan.

Baca Juga: Lansia Almen Manurung Ditemukan Tewas di Kebun Sawit Simalungun

Berdasarkan legalitas tersebut, Sanggar Maduma akan genap berusia lima tahun pada 2026. Momentum ini sekaligus menjadi penanda semangat baru untuk melahirkan karya dokumentasi budaya, pertunjukan seni, serta menerbitkan dua buku baru, melengkapi buku yang telah terbit pada 2023.

“Harapannya, Sanggar Maduma dapat bermuara sebagai rumah pengetahuan—menjadi komunitas penggerak sastra dan literasi yang berpijak pada seni tradisi dan budaya Batak Toba,” pungkas Riduan. (net)

Editor : Editor Satu
#haminjon #ritual mangarontas #kemenyan #Sanggar Maduma Humbahas