METRODAILY - Sejak awal 1900-an, dataran tinggi Humbang, termasuk Siborongborong, dikenal sebagai daerah peternakan kuda khas Tanah Batak.
Pasar kuda di Siborongborong, Tapanuli Utara, Sumatera Utara, memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan budaya dan tradisi masyarakat setempat.
Pada masa kolonial Belanda, pacuan kuda menjadi hiburan bagi pejabat-pejabat Belanda di Afdeling Siborongborong. Arena pacuan kuda yang sudah berdiri sejak zaman Belanda ini menjadi saksi bahwa Siborongborong pernah menjadi ajang perlombaan tingkat nasional.
Kuda yang diperdagangkan dan dipacu di Siborongborong umumnya adalah kuda Batak, yang dikenal kuat, gesit, dan jinak.
Kuda Batak berasal dari Sumatera Utara dan memiliki ciri khas berbulu coklat terang serta tubuh lebih pendek dibandingkan kuda dari luar daerah. Kuda-kuda ini sering digunakan sebagai kuda beban atau pengangkut barang di wilayah Tapanuli Selatan.
Pemilik kuda di Siborongborong bervariasi, mulai dari peternak lokal hingga individu yang memiliki minat dalam olahraga pacuan kuda. Tradisi pacuan kuda, yang dikenal dengan sebutan "Hoda Marsiadu," telah menjadi bagian integral dari budaya lokal.
Lomba pacuan kuda ini biasanya menampilkan joki dari berbagai usia dan jenis kuda yang beragam.
Namun, popularitas pacuan kuda di Siborongborong sempat menurun drastis disebabkan oleh berkurangnya animo masyarakat, mengingat biaya pemeliharaan kuda yang relatif tinggi.
Meskipun demikian, upaya untuk menghidupkan kembali tradisi pacuan kuda di Siborongborong terus dilakukan. Beberapa pihak berencana menggelar lomba secara rutin untuk memotivasi masyarakat agar lebih mencintai olahraga berkuda dan menjadikannya sebagai ajang hiburan bagi masyarakat.
Saat ini, pasar kuda di Siborongborong masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat, meskipun tidak seaktif pada masa lalu. Beberapa peternak dan pedagang daging kuda masih beroperasi, memenuhi kebutuhan konsumsi lokal.
Namun, jumlah populasi ternak kuda telah berkurang drastis, dan untuk memenuhi permintaan, beberapa peternak harus mencari kuda hingga ke daerah lain, seperti Aceh.
Meski demikian, kawanan kuda liar masih dapat ditemukan di pegunungan antara Siborong-borong dengan Limbong, Samosir. Meski liar, kawanan kuda itu ada pemiliknya secara adat. Menurut warga lokal, kawanan kuda biasanya ditandai sebagai milik marga-marga tertentu.
Secara keseluruhan, pasar kuda dan tradisi pacuan kuda di Siborongborong mencerminkan kekayaan budaya dan sejarah daerah tersebut. Meskipun mengalami pasang surut, upaya untuk melestarikan dan menghidupkan kembali tradisi ini menunjukkan komitmen masyarakat dalam menjaga warisan budaya mereka. (Mea/ai)
Editor : Editor Satu