Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Dampak Banjir, Tradisi Marpangir atau Balimo Sepi di Sibolga dan Tapteng

Editor Satu • Jumat, 20 Februari 2026 | 11:50 WIB

 

Bahan-bahan ramuan pangir atau limo yang digunakan dalam tradisi Marpangir masyarakat pesisir Sibolga dan Tapanuli Tengah jelang Ramadhan.
Bahan-bahan ramuan pangir atau limo yang digunakan dalam tradisi Marpangir masyarakat pesisir Sibolga dan Tapanuli Tengah jelang Ramadhan.

SIBOLGA, METRODAILY – Tradisi Marpangir atau Balimo yang biasa digelar masyarakat pesisir pantai barat Sumatera Utara menjelang bulan suci Ramadhan tahun ini tampak sepi. Kondisi tersebut dipicu dampak bencana banjir yang melanda wilayah Sibolga dan Tapanuli Tengah.

Marpangir atau Balimo merupakan tradisi mandi menggunakan ramuan alami sebagai simbol pembersihan diri lahir dan batin sebelum memasuki bulan puasa. Tradisi ini telah diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur masyarakat pesisir.

Namun, tahun ini pelaksanaannya tidak semeriah tahun-tahun sebelumnya.

“Saat ini sudah tak mungkin lagi marpangir di sungai. Hampir semua sungai di Sibolga dan Tapanuli Tengah kotor dan berlumpur akibat banjir 25 November 2025 dan banjir terakhir 16 Februari 2026,” ujar Suryanti, Rabu (18/2).

Baca Juga: Rumah Lansia 80 Tahun di Siantar Ludes Terbakar, Diduga Korsleting

Sungai Kotor, Tradisi Beralih ke Rumah

Biasanya, masyarakat melaksanakan Marpangir bersama keluarga di sungai. Namun akibat kondisi air yang tercemar lumpur dan sampah pascabanjir, sebagian warga memilih melaksanakannya secara sederhana di rumah masing-masing.

Suryanti mengaku tetap menjalankan tradisi tersebut bersama keluarga meski tidak lagi di sungai.

“Biasanya ramai-ramai di sungai. Sekarang kami lakukan di rumah saja,” katanya.

Ramuan pangir atau limo diracik dari berbagai bahan alami seperti daun pandan, serai, jeruk purut, bunga kenanga, dan mawar. Beberapa keluarga juga menambahkan akar kautsar dan embelu sebagai pelengkap.

Baca Juga: Warga Sekitar Kebun Bah Jambi Tagih 20 Persen Plasma

Namun, sejumlah bahan kini semakin sulit diperoleh.

“Bahan-bahannya mulai jarang ditemukan,” ujar Suryanti.

Simbol Penyucian Diri

Secara filosofis, Marpangir dimaknai sebagai bentuk kesiapan hati dan niat suci dalam menyambut ibadah puasa Ramadhan.

“Ini melambangkan pembersihan diri lahir dan batin sebelum memasuki bulan suci. Tradisi ini sudah dilaksanakan sejak leluhur masyarakat pesisir,” jelasnya.

Meski pelaksanaannya tahun ini lebih sederhana dan sepi akibat dampak bencana, Marpangir tetap menjadi pengingat pentingnya kesadaran dan penyucian diri sebelum Ramadhan tiba. (net)

Editor : Editor Satu
#Tradisi Marpangir #balimau