METRODAILY - Di tengah derasnya arus modernisasi, banyak tradisi lokal yang mulai terlupakan. Salah satunya adalah Markobar, sebuah adat yang berisi nasihat dan petuah bagi pasangan yang akan membina rumah tangga.
Namun, generasi muda di Kecamatan Batang Toru semakin jarang mengenal makna dan filosofi di balik tradisi ini.
“Banyak orang tua sekarang sudah tidak tahu lagi bagaimana cara Markobar atau Mangupa-upa. Mereka juga tidak paham filosofi di balik setiap barang yang dibawa dalam upacara adat,” ungkap Sutan Khasahatan Siregar, seorang tokoh adat yang kini berjuang untuk menjaga tradisi ini tetap hidup.
Kekhawatiran akan punahnya Markobar mendorong masyarakat mencari cara agar tradisi ini tetap lestari. Momentum itu datang ketika PT Agincourt Resources (PTAR), pengelola Tambang Emas Martabe, mengadakan sinkronisasi program Pengembangan dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM).
Warga Desa Wek III dan Desa Telo memanfaatkan kesempatan ini untuk meminta dukungan pelatihan adat dari perusahaan.
Menanggapi permintaan tersebut, PTAR menunjuk Sutan Khasahatan Siregar sebagai pelatih untuk mengajarkan kembali nilai-nilai adat Batak Angkola, khususnya Markobar. Program ini menjadi titik balik bagi masyarakat dalam memahami kembali warisan leluhur mereka.
“Saya diamanahkan untuk mengajarkan kembali adat budaya kita. Supaya masyarakat paham bahwa adat bukan sekadar ritual, tetapi juga bagian dari identitas kita,” ujarnya.
Pelatihan adat ini tidak hanya menjadi sarana edukasi, tetapi juga melahirkan role model baru di tengah masyarakat. Setelah mengikuti pelatihan, para peserta kini mampu mempraktikkan kembali Markobar dan berbagai upacara adat lainnya.
“Setelah pelatihan, anggota kelompok sekarang sudah bisa menjadi contoh bagi masyarakat tentang bagaimana Markobar dilakukan,” ujar Sutan.
Antusiasme masyarakat pun menular ke desa-desa lain. Banyak yang mulai meminta pelatihan serupa, menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya menjaga tradisi semakin meningkat.
PTAR turut mendukung dengan menyediakan kostum dan alat-alat adat yang diperlukan, sebagai bentuk komitmennya dalam pelestarian budaya.
Tradisi yang Kembali Dihidupkan
Semangat untuk melestarikan Markobar juga dirasakan oleh para peserta pelatihan. Nelfan Efendi, salah satu anggota kelompok adat, menyampaikan rasa terima kasihnya atas dukungan yang diberikan PTAR.
“Kami sangat berterima kasih atas pelatihan dan fasilitas yang diberikan. Harapan kami, generasi muda semakin tertarik untuk mempelajari dan melestarikan adat Markobar,” katanya.
Di tengah gempuran modernisasi, upaya melestarikan adat seperti Markobar menjadi bukti bahwa nilai-nilai tradisional masih memiliki tempat di hati masyarakat.
Dengan kolaborasi antara tokoh adat, warga, dan pihak perusahaan, harapan untuk menjaga warisan leluhur agar tetap hidup semakin nyata.
“Ini bukan sekadar melestarikan adat, tetapi juga tentang menjaga identitas kita sebagai orang Mandailing,” pungkas Sutan Khasahatan Siregar. (Rel)
Editor : Editor Satu