Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Artaban, Orang Majus Keempat, Tokoh Real atau Fiksi?

Editor Satu • Kamis, 26 Desember 2024 | 06:55 WIB
Orang majus keempat-Ilustrasi.
Orang majus keempat-Ilustrasi.

METRODAILY - Orang Kristen umumnya akrab dengan kisah orang Majus, para ahli perbintangan yang selalu hadir dalam drama Natal kelahiran Yesus Kristus.

Meski Alkitab tidak menyebutkan nama, jumlah pasti, atau identitas tambahan orang Majus yang datang, orang Kristen kerap menggambarkan mereka berjumlah tiga orang, karena persembahannya ada tiga, yakni emas, mur, dan kemenyan.

Belakangan, muncul tokoh legendaris orang majus keempat, yakni Artaban. Kisahnya pertama kali diperkenalkan dalam cerita pendek "The Other Wise Man" (1895) karya Henry van Dyke.

Berbeda dengan tiga orang Majus yang membawa emas, kemenyan, dan mur untuk Yesus, Artaban digambarkan sebagai seorang sarjana dari Persia yang juga bermaksud mengikuti bintang menuju tempat kelahiran Sang Mesias.

Menurut legenda, Artaban membawa tiga hadiah berharga: sebutir batu delima, safir, dan mutiara, sebagai persembahan bagi Yesus. Namun, dalam perjalanannya, ia terus-menerus menghadapi situasi di mana ia harus menggunakan hadiah tersebut untuk menolong orang yang membutuhkan. Beberapa peristiwa penting dalam cerita ini:

1. Menolong Orang Sakit:
Artaban melewatkan perjalanannya bersama tiga Majus lainnya karena berhenti untuk membantu seorang pria sakit yang ia temui di tepi jalan. Untuk membayar perawatan pria itu, ia menjual batu safirnya.

2. Membantu Seorang Ibu yang Terancam:
Dalam perjalanan ke Betlehem, Artaban tiba saat Herodes mengirim pasukan untuk membunuh bayi-bayi. Di sana, ia menggunakan batu delima untuk menyuap para prajurit agar menyelamatkan seorang ibu dan bayinya.

3. Mencari Yesus:
Setelah bertahun-tahun mencari, Artaban akhirnya tiba di Yerusalem saat Yesus disalibkan. Di sana, ia berniat memberikan mutiara terakhirnya untuk membebaskan Yesus, tetapi terlambat.

Di saat terakhir hidupnya, Artaban diyakini menerima wahyu bahwa semua bantuan yang telah ia berikan kepada orang-orang selama perjalanannya dihitung sebagai persembahan untuk Kristus. Yesus sendiri, dalam kisah ini, "berbicara" kepadanya, mengutip ajaran:

"Apa yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk-Ku." (Matius 25:40).

Jadi, apakah Artaban tokoh real atau fiksi?

Diduga, Artaban tidak memiliki dasar historis atau teologis dalam kepercayaan Kristen, melainkan merupakan karya sastra yang bertujuan untuk menyampaikan pesan moral.

Henry van Dyke menciptakan Artaban sebagai tokoh imajiner untuk menggambarkan nilai-nilai pengorbanan dan cinta kasih. Tujuannya bukan untuk menambah tradisi Alkitab, melainkan untuk memberikan pelajaran moral melalui sebuah cerita fabel.

Bahkan, nama-nama yang sering dikaitkan dengan tiga orang Majus (Gaspar, Melkior, dan Balthasar) juga tidak disebutkan dalam Alkitab, melainkan muncul dari tradisi apokrif dan pengembangan legenda di abad-abad berikutnya.

Kisah Artaban adalah alegori tentang pengorbanan, cinta kasih, dan makna sejati dari pemberian. Pesan utamanya adalah bahwa pelayanan kepada sesama adalah bentuk ibadah yang tidak kalah penting dari persembahan material.

Walaupun tidak tercatat dalam Alkitab, cerita ini tetap menjadi inspirasi tentang bagaimana iman diwujudkan melalui tindakan kasih terhadap orang lain. (Net)

Editor : Editor Satu
#orang majus keempat #Artaban #Ahli perbintangan