METRODAILY - Timnas Senegal melancarkan aksi simbolik sebagai bentuk protes terhadap keputusan Konfederasi Sepak Bola Afrika yang mencabut gelar juara Piala Afrika mereka.
Menjelang laga uji coba kontra Timnas Peru di Stade de France, Minggu (29/3/2026), skuad Senegal menggelar parade kecil dengan memamerkan trofi yang statusnya kini disengketakan.
Aksi tersebut menjadi sinyal kuat bahwa Senegal belum menerima keputusan CAF yang secara kontroversial mencabut gelar mereka dan mengalihkannya kepada Timnas Maroko.
Pencabutan gelar dilakukan setelah CAF menyatakan Senegal melakukan walk-out pada masa injury time final melawan Maroko. Insiden itu dipicu keputusan wasit yang memberikan penalti kepada Maroko.
Baca Juga: Konfercab XII GMNI Siantar Digelar, Pemko Dorong Lahirnya Pemimpin Muda Visioner
Sebagai konsekuensi, CAF menetapkan kemenangan 3-0 untuk Maroko. Namun, keputusan tersebut menuai polemik karena baru diumumkan dua bulan setelah pertandingan final berlangsung.
Merespons hal itu, Senegal telah mengajukan banding ke Pengadilan Arbitrase Olahraga pada 24 Maret 2026. Proses hukum tersebut kini masih berjalan.
Di tengah ketidakpastian status gelar, aksi parade trofi yang dilakukan Senegal dapat dibaca sebagai bentuk perlawanan terbuka—bukan hanya terhadap keputusan administratif, tetapi juga terhadap legitimasi hasil kompetisi.
Langkah ini memperlihatkan bahwa sengketa tidak lagi sekadar berada di ranah hukum olahraga, melainkan juga menyentuh aspek simbolik dan citra nasional.
Baca Juga: Sah! Gita Bhebhita ‘Agak Laen 2’ Resmi Menikah di Medan, Momen Haru Warnai Ijab Kabul
Selama proses banding berlangsung, posisi juara masih berada dalam wilayah sengketa. Namun bagi Senegal, trofi yang mereka angkat di lapangan tetap dianggap sah—dan itu yang ingin mereka tunjukkan ke publik dunia. (dtc)