BATU BARA, METRODAILY - Bagi guru kelas I UPT SDN 30 Pasar Lapan, Batu Bara, Sumatera Utara, ramadan bukan sekadar momentum ibadah, tetapi juga ruang belajar yang sarat makna.
Hal inilah yang diyakini Hotma Wulansari Sitohang, yang akrab disapa Wulan, seorang guru yang gemar menghadirkan pembelajaran kreatif di kelasnya.
Dalam semangatnya untuk memuliakan murid, Wulan tidak ingin pembelajaran hanya berlangsung melalui metode ceramah. Ia berupaya menghadirkan pengalaman belajar yang lebih hidup, sederhana, namun bermakna.
Dari sanalah lahir sebuah inovasi media pembelajaran yang ia beri nama TOKEDAN LINU (Toples Kebaikan Ramadan Literasi Numerasi).
Ide ini berawal dari refleksi Wulan yang melihat bahwa literasi dan numerasi sering kali dipahami sebatas kemampuan membaca, menulis, dan berhitung di buku paket.
Padahal, menurutnya, kedua kemampuan dasar tersebut dapat dihidupkan melalui pengalaman nyata yang dekat dengan kehidupan murid.
“Ramadan menjadi konteks yang tepat untuk menanamkan nilai kebaikan sekaligus menguatkan kemampuan akademik murid secara alami,” ujar Wulan.
Toples Kebaikan dari Rumah
Kegiatan dimulai dengan meminta setiap murid membawa satu toples transparan dari rumah. Selain itu, disiapkan pula manik-manik, benang, dan mangkuk sebagai bahan pendukung.
Di kelas, murid bersama-sama menempelkan stiker bertuliskan “Toples Kebaikan Ramadan” pada masing-masing toples.
Stiker tersebut telah dipersiapkan sehari sebelumnya melalui kerja sama dengan rekan sejawat, Agus Dianty, guru kelas IB.
Kegiatan sederhana ini ternyata memiliki banyak manfaat. Selain melatih motorik halus dan kerapian, murid juga merasakan memiliki media belajar mereka sendiri.
Baca Juga: Jelang Ramadan dan Idulfitri, Inflasi Siantar Naik pada Februari 2026
Antusiasme terlihat ketika mereka menyadari bahwa toples tersebut akan menjadi “tabungan kebaikan” pribadi.
Menabung Kebaikan
Selanjutnya, Wulan memancing diskusi dengan pertanyaan sederhana tentang makna kebaikan. Dengan bahasa yang ringan, murid-murid kelas I mulai menyebutkan berbagai contoh.
“Bantu mamak nyapu, Bu… merapikan tempat tidur… piket kelas… berbagi makanan… salat… ngaji… jaga adik, Bu,” jawab mereka bersahutan.
Setiap kali melakukan satu kebaikan, murid menuliskannya di kertas kecil. Bagi yang belum lancar menulis, guru memberikan pendampingan atau memperbolehkan bertanya kepada teman.
Kertas kecil itu kemudian dilipat dan dimasukkan ke dalam toples masing-masing.
“Bu… Bu… kita kayak nabung ya kan?” ujar Silva polos.
Kegiatan ini tidak hanya dilakukan di sekolah. Wulan juga melibatkan orang tua melalui grup komunikasi kelas. Orang tua diminta mendampingi anak menuliskan kebaikan yang mereka lakukan di rumah.
Dengan cara ini, pendidikan karakter tidak berhenti di ruang kelas, tetapi berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.
Literasi Tumbuh dari Pengalaman Sendiri
Seminggu kemudian, murid membawa kembali toples yang kini telah berisi banyak lipatan kertas. Wajah-wajah kecil itu tampak antusias melihat “tabungan kebaikan” mereka.
“Ayo kita buka kertasnya dan dibaca,” kata Wulan.
Satu per satu murid membuka toples dan membaca isi kertas di depan kelas. Di sinilah kemampuan literasi tumbuh secara alami.
Mereka membaca kalimat sederhana yang ditulis sendiri, memahami maknanya, dan menyampaikannya dengan percaya diri.
“Ibu… ini bacaannya jaga adik… benar gak, Bu?” tanya Azril sambil memastikan tulisannya.
Belajar Matematika dengan Cara Menyenangkan
Setelah semua kertas dibacakan, kegiatan berlanjut pada pembelajaran numerasi. Murid menghitung jumlah kebaikan yang telah mereka lakukan.
Ada yang mendapatkan 10, 15, bahkan lebih dari 20 kebaikan dalam seminggu.
“Ibu… punya saya dua dua,” kata Airu.
“Bukan dua dua, Nak, tapi dua puluh dua,” jawab Wulan sambil tersenyum.
Proses menghitung ini membuat pelajaran matematika terasa menyenangkan. Murid belajar menyebutkan, mengurutkan, serta membandingkan jumlah secara nyata tanpa tekanan.
Gelang Kebaikan
Sebagai puncak kegiatan, setiap murid membuat gelang dari manik-manik sesuai jumlah kebaikan yang telah dihitung.
Jika seorang murid memiliki 18 kebaikan, maka ia meronce 18 manik-manik. Aktivitas ini menguatkan konsep berhitung sekaligus melatih kesabaran, ketelitian, dan koordinasi motorik.
Gelang yang mereka kenakan bukan sekadar aksesoris. Ia menjadi simbol nyata dari kebaikan yang telah mereka lakukan.
Inovasi Sederhana, Dampak Besar
Melalui TOKEDAN LINU, Wulan berhasil memadukan pendidikan karakter, literasi, dan numerasi dalam satu rangkaian kegiatan yang utuh.
Murid tidak hanya belajar membaca dan berhitung, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang lebih baik serta berlomba dalam melakukan kebaikan.
Praktik ini juga membuktikan bahwa inovasi pembelajaran tidak selalu membutuhkan teknologi canggih atau biaya besar.
Dengan toples transparan, kertas kecil, dan manik-manik sederhana, pembelajaran dapat menjadi pengalaman yang membekas.
Dari kelas I yang sederhana, lahir kebiasaan baik, kolaborasi antara guru dan orang tua, serta penguatan literasi numerasi yang kontekstual.
“Ketika guru berani keluar dari zona nyaman dan memaknai setiap momen sebagai ruang belajar, murid tidak hanya tumbuh cerdas secara akademik, tetapi juga kaya karakter,” tutur Wulan. (Rel/Tf)
Editor : Editor Satu