LONDON, METRODAILY – Tottenham Hotspur berada dalam situasi genting di musim 2025/2026.
Ancaman degradasi dari Premier League bukan hanya berdampak pada reputasi klub, tetapi juga berpotensi memangkas gaji para pemain hingga 50 persen.
Spurs saat ini terpuruk di peringkat ke-16 klasemen dan hanya unggul lima poin dari zona merah.
Dengan kompetisi menyisakan 10 pekan, risiko turun kasta semakin nyata jika performa tak kunjung membaik.
Krisis Manajer, Hasil Tak Berubah
Musim buruk Tottenham diawali pergantian pelatih dari Ange Postecoglou ke Thomas Frank pada musim panas lalu. Namun perubahan tersebut gagal mengangkat performa tim.
Frank bahkan harus angkat kaki beberapa pekan lalu setelah Spurs terus terperosok di papan bawah.
Manajemen kemudian menunjuk Igor Tudor sebagai manajer interim, tetapi dua laga awalnya berakhir dengan kekalahan.
Lebih mengkhawatirkan lagi, Tottenham belum meraih satu pun kemenangan sepanjang tahun kalender 2026.
Klausul Pemotongan Gaji 50 Persen
Menurut laporan The Athletic, para pemain Tottenham terikat klausul dalam kontrak yang memungkinkan pemotongan gaji signifikan jika klub terdegradasi. Besarannya disebut mencapai kisaran 50 persen.
Klausul tersebut disepakati dalam kontrak yang diteken di era kepemimpinan Daniel Levy. Levy sendiri sudah meninggalkan klub sejak September lalu.
Kebijakan ini diyakini sebagai langkah antisipatif untuk menjaga stabilitas finansial klub apabila gagal bertahan di Premier League, termasuk potensi hilangnya pemasukan hak siar dan sponsor.
Tekanan untuk Bangkit
Ancaman tersebut menjadi tekanan tambahan bagi para pemain, termasuk bek utama Cristian Romero dan rekan-rekannya, untuk segera memperbaiki performa.
Dengan jadwal yang masih menyisakan 10 pertandingan, Tottenham wajib segera keluar dari tren negatif jika tak ingin menghadapi skenario terburuk: degradasi dan pemotongan gaji besar-besaran. (Dtc)
Editor : Editor Satu