MANCHESTER, METRODAILY – Krisis Manchester United semakin dalam. Tak hanya gagal lolos ke kompetisi Eropa musim depan, nilai saham klub juga anjlok hingga 17 persen dalam setahun terakhir.
Kabar buruk ini makin diperparah dengan mundurnya minat Qatar untuk mengakuisisi klub.
Sheikh Jassim bin Hamad al-Thani, tokoh kunci dalam kelompok investor asal Qatar, dilaporkan tidak akan mengajukan ulang penawaran pembelian MU.
Padahal sebelumnya, ia sempat menawarkan lebih dari £5 miliar dan berjanji melunasi seluruh utang klub.
Langkah mundur Qatar ini menutup pintu bagi harapan banyak fans akan perubahan besar di bawah kepemilikan penuh.
Sheikh Jassim hanya tertarik membeli 100 persen saham, bukan sekadar saham minoritas seperti yang kini dimiliki Sir Jim Ratcliffe lewat INEOS.
Ratcliffe sendiri resmi masuk ke jajaran pemilik awal tahun ini, namun kehadirannya belum menunjukkan dampak positif.
MU justru mencatat rekor terburuk sepanjang sejarah Premier League dengan finis di posisi 15 dan kehilangan tiket Eropa—untuk pertama kalinya sejak 1990-an.
Final Liga Europa yang menjadi peluang terakhir pun kandas setelah kekalahan dari Tottenham. Situasi ini memperkuat tekanan suporter kepada keluarga Glazer yang dinilai gagal menyelamatkan klub.
Sementara itu, rival-rival MU justru terus melaju dengan sokongan investor Timur Tengah.
Manchester City (Abu Dhabi), Newcastle United (Arab Saudi), dan PSG (Qatar) jadi contoh sukses model kepemilikan tersebut. Namun untuk Qatar, langkah ke Premier League tampaknya harus tertunda lagi.
Pada laga pamungkas musim di Old Trafford, suara protes kembali menggema. Spanduk anti-Glazer berkibar, dan nyanyian desakan perubahan menggema di tribun.
Masa depan MU masih gelap—baik di lapangan, maupun di bursa saham. (net)
Editor : Editor Satu