METRODAILY - Old Trafford yang biasanya menjadi panggung penuh gairah saat Derby Manchester digelar, kali ini terasa dingin dan hampa.
Laga Manchester United kontra Manchester City, Minggu (6/4/2025) dini hari WIB, berakhir 0-0 tanpa tensi, tanpa drama, dan nyaris tanpa daya tarik—meninggalkan lebih banyak kekecewaan daripada kenangan.
Derby edisi ke-191 ini seolah mencerminkan musim penuh kebingungan dan inkonsistensi dari dua klub raksasa kota Manchester. Di tengah sorotan dan ekspektasi, keduanya justru tampil hati-hati, tanpa keberanian untuk mengambil risiko.
Tak ada adu taktik menarik, tak ada serangan balik eksplosif, bahkan tak ada penyelamatan gemilang dari kedua kiper.
Baca Juga: Insiden Raphinha Tak Dicatat Wasit, Barcelona Lega
Atmosfer ini diamini banyak pihak, termasuk mantan bek MU yang kini jadi komentator, Gary Neville. “Ini bukan derby yang kita kenal. Sepakbola jadi terlalu dikendalikan sistem dan data. Tidak ada kebebasan lagi,” kritik Neville tajam.
Satu-satunya percikan semangat muncul dari Alejandro Garnacho. Pemain muda asal Argentina itu menjadi ancaman sejak awal, memaksa Josko Gvardiol dan Bernardo Silva menerima kartu kuning karena melanggarnya dalam dua babak berbeda.
Namun tanpa dukungan berarti dari rekan-rekannya, Garnacho tetap tak bisa memecah kebuntuan.
Di sisi lain, laga ini juga menjadi catatan emosional bagi Kevin De Bruyne. Kapten Manchester City itu memainkan derby terakhirnya sebelum hengkang dari Etihad Stadium akhir musim ini.
Baca Juga: Evolusi Taktik Juventus Mulai Terlihat di Bawah Igor Tudor
Sayangnya, ia diturunkan sebagai false nine dalam skema eksperimental yang gagal memberi dampak. Penampilan De Bruyne pun berakhir datar—jauh dari perpisahan yang layak dikenang.
Hasil imbang ini memperumit jalan City untuk meraih tiket Liga Champions. Mereka kini tertinggal satu poin dari Chelsea di posisi empat, dengan tujuh pertandingan tersisa.
Sementara bagi Manchester United, kegagalan menang di kandang sendiri membuat mereka melewatkan peluang menyapu bersih dua derby dalam semusim—prestasi yang terakhir mereka raih lima tahun lalu.
Kini, harapan The Red Devils tinggal disandarkan pada Liga Europa. Hanya trofi Eropa tingkat kedua itu yang bisa menyelamatkan mereka dari musim yang kembali mengecewakan. (bola)
Editor : Editor Satu