SIMALUNGUN, METRODAILY- Sepakbola adalah cabang olahraga yang paling banyak penggemar di muka bumi ini. Bukan hanya sepakbola pria, bahkan sepakbola wanita pun mulai memikat perhatian di liga-liga di eropa , Amerika bahkan Asia.
Laporan:
Leonardus Sihotang-Simalungun
Demikian juga kecintaan Yersi Gusfina boru Purba akan cabang olahraga 11 lawan 11 ini. Tak tanggung-tanggung, karena kecintaan akan sepakbola gadis berparas cantik ini bahkan menggalkan profesinya sebagai guru olahraga dan memilih berkelana main bola sampai Pulau Jawa.
Ditemui di Lapangan Sepakbola Dolok Kahean, Kecamatan Tapian Dolok, salah satu putri kebanggan Simalungun Yersi Purba dengan ramah menyambut wartawan Metro Siantar untuk berbincang-bincang.
Setelah memperkenalkan diri, wanita kelahiran Pane Raya, Kecamatan Raya Kahean, Kabupaten Simalungun 26 Agustus tahun 1996 itu, bercerita panjang lebar soal pengalaman di sepakbola dan bagaimana dia mencintai olahraga sikulit bundar tersebut.
Sejak kecil dia memang hobi olahraga, bukan hanya sepakbola bahkan voli dan olahraga lainnya dia suka. “Suka banyak cabang olahraga sebenarnya Bang. Tadinya, sempat juga menjadi pemain voli dan juga futsal. Tapi, jarang ada kawan cewek yang mau main bola dan voli di kampung,” katanya mengisahkan.
Anak ketiga dari lima bersaudara ini bersekolah di SD Negeri Pane Raya kampung halamannya dan kuliah di Unimed Medan.
Dan, dukungan orangtua yang juga membuatnya lebih tekun dan punya harapan tinggi akan karirnya di sepakbola. “Bapak dan Mamak sangat mendukung sejak kecil, mulai dari perlengkapan sepakbola dan biaya selalu didukung,” katanya yang saat itu didampingi kedua orangtuanya.
Melalui perjalanan panjang, dia pun terpilih satu dari 23 atlet sepakbola putri Sumut untuk kejuaraan PON XXI di Sumut-Aceh 2024.
Putri dari pasangan Jansir Purba dan Elpiana Saragih ini sudah sangat dikenal oleh para pelatih sepakbola putri dan juga diantara pemain-pemain kelas nasional. Dia bahkan punya klub di Jogya bernama Renjana Angels.
Soal pengalaman sampai meninggalkan profesi guru, karena dia menilai gaji dari guru di salah satu sekolah swasta di Medan sangat sedikit. Sementara di sepakbola, dia mendapat penghasilan lebih.
“Untuk turnamen ya Bang, bayaran saya bisa sampai Rp1,5 juta per pertandingan. Sangat cukuplah dibandingkan mengajar di sekolah,” katanya sambil senyum.
Untuk prestasi, Yersi Purba pernah menjadi juara Asprov Sumut dengan membawa nama PSSA Asahan. Itu di turnamen resmi Asprov, untuk tingkat turnamen di luar agenda PSSI selalu menjadi juara dan paling turun jadi runner up.
Harapan dari Yersi Purba, semoga Liga 1 untuk wanita segera ada di Indonesia. Sebab, sampai hari ini belum ada liga sepakbola resmi untuk putri.
Selain itu, dia berharap agar Pemkab Simalungun melalui Bupati RHS memperhatikan atlet-atlet Simalungun yang berlaga di kancah nasional. “Ya, belum pernah dipanggil Bupati Simalungun kami, Bang. Ingin juganya kita terjun ke arena diberangkatkan Bupati, itu jadi salah satu kebanggaan bahwa kita diperhatikan pemerintah,” kata pemain yang berposisi sebagai bek (pemain bertahan) ini.
Untuk level Nasional, Yersi Purba masih memendam hasrat untuk masuk Timnas Puti Indonesia. Dia bahkan sudah sekali mencoba seleksi Timnas Sepakbola Putri dan balum pernah berhasil. “Selanin bola, dua kali juga aku coba tes masuk Polwan Bang, namun tak berhasil juga,” katanya.
Selain Yersi Gusfina Purba ada satu lagi atlet sepakbola putri PON Sumut kebanggaan Simalungun bernama Akila Afifa, warga Bandar Rejo, Bandar Masilam.
Wanita kelahiran Bandar Rejo 21 tahun silam ini berposisi sebagai penjaga gawang dengan tinggi 175 cm. Namun dia belum sampai ke pulau Jawa bermain sepakbola. Tapi dia mengaku sangat bangga terpilih dari ratusan orang untuk membawa nama Sumut di PON XXI tahun 2024.
“Bangga saya Bang, tapi sama seperti Kak Yesri, kami maunya diperhatikan sama Pemkab Simalungun,” katanya. (***)