Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Godzilla El Nino Mengintai! Kemarau Diprediksi Lebih Panjang, Sumut Sudah Dilanda Panas Ekstrem

Editor Satu • Jumat, 27 Maret 2026 | 10:10 WIB

Warga beraktivitas di bawah terik matahari di Sumatera Utara, suhu mencapai 36°C dengan indeks UV kategori bahaya di tengah ancaman kemarau panjang.
Warga beraktivitas di bawah terik matahari di Sumatera Utara, suhu mencapai 36°C dengan indeks UV kategori bahaya di tengah ancaman kemarau panjang.

JAKARTA, METRODAILY – Fenomena iklim ekstrem yang dijuluki Godzilla El Nino diperkirakan akan memperpanjang musim kemarau di Indonesia pada 2026.

Kondisi ini semakin diperparah dengan potensi terjadinya Indian Ocean Dipole (IOD) positif secara bersamaan mulai April mendatang.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyebut kombinasi kedua fenomena tersebut berpotensi menyebabkan cuaca lebih kering dengan curah hujan yang minim di sejumlah wilayah Indonesia, meski dampaknya tidak merata.

Mengantisipasi risiko terhadap sektor pangan, pemerintah mulai memperkuat Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) agar tetap mampu menjaga stabilitas pasokan dan harga.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, menegaskan pemerintah telah menyiapkan langkah antisipatif.

“Prediksi Godzilla El Nino menjadi perhatian serius. Kami memastikan stok CPP terus diperkuat agar bisa segera disalurkan saat dibutuhkan,” ujarnya, Kamis (26/3).

Per 25 Maret 2026, stok pangan strategis nasional dinilai masih dalam kondisi aman. Stok beras yang dikelola Perum Bulog tercatat mencapai 4,08 juta ton atau naik 77,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 2,29 juta ton.

Selain beras, pemerintah juga memperkuat stok jagung sebesar 144 ribu ton, minyak goreng 95 ribu kiloliter, gula konsumsi 50 ribu ton, serta daging sapi/kerbau 11 ribu ton.

Sementara itu, stok daging ayam dan telur ayam masing-masing tercatat 39 ton dan 62 ton.

Ketut menambahkan, stok tersebut akan digunakan untuk berbagai program intervensi, seperti bantuan pangan beras dan minyak goreng serta program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP).

Hingga 25 Maret, realisasi bantuan pangan telah menjangkau 378.666 penerima di 24 provinsi. Sementara penyaluran beras SPHP selama Maret mencapai 43,17 ribu ton.

Sebelumnya, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan pentingnya penguatan ketahanan pangan nasional di tengah ancaman krisis global.

“Setiap negara harus memperkuat ketahanan pangannya dan tidak bergantung pada negara lain. Indonesia harus mampu memproduksi pangannya sendiri,” tegasnya.

Sumut Dilanda Panas Ekstrem, Sinar UV Masuk Kategori Bahaya

Sementara itu, dampak awal kondisi cuaca kering mulai dirasakan di sejumlah wilayah, termasuk Sumatera Utara. Suhu udara dalam beberapa hari terakhir meningkat signifikan, bahkan mencapai 36 derajat Celsius.

Kepala BBMKG Wilayah I, Hendro Nugroho, menjelaskan fenomena ini dipicu posisi matahari yang berada tepat di garis khatulistiwa serta minimnya tutupan awan.

“Radiasi matahari yang diterima menjadi lebih maksimal, sehingga suhu terasa lebih panas dari biasanya,” ujarnya.

Selain itu, kondisi angin yang bersifat divergen serta kelembapan udara yang rendah, berkisar 20–40 persen, membuat pembentukan awan semakin sulit, khususnya di wilayah pesisir timur Sumut seperti Medan dan Deliserdang.

BMKG juga mencatat indeks sinar ultraviolet (UV) di wilayah tersebut telah masuk kategori bahaya, terutama pada pukul 10.00 hingga 14.00 WIB.

Tak hanya itu, terdeteksi sebanyak 33 titik panas (hotspot) di Sumatera Utara yang berpotensi memicu kebakaran lahan.

BMKG mengimbau masyarakat untuk membatasi aktivitas luar ruangan pada jam puncak panas, memperbanyak konsumsi air, serta menggunakan pelindung seperti tabir surya guna menghindari dampak paparan sinar UV. (Dtc)

Editor : Editor Satu
#kemarau panjang #Godzilla El Nino