Ramadan 2026, Badan Gizi Nasional Minta SPPG Kreatif Olah Pangan Lokal untuk MBG
Editor Satu• Kamis, 19 Februari 2026 | 10:40 WIB
Ilustrasi paket Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menu berbasis pangan lokal selama Ramadan.
JAKARTA, METRODAILY – Badan Gizi Nasional (BGN) meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih kreatif dalam mengolah pangan lokal dan mengurangi penggunaan produk pabrikan atau ultra processed food (UPF) dalam penyajian program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama Ramadan 1447 Hijriah.
Kepala BGN, Dadan Hindayana, mengatakan kebijakan tersebut tertuang dalam Surat Edaran (SE) Nomor 3 Tahun 2026 tentang mekanisme pelaksanaan Program MBG selama Ramadan dan cuti bersama Idulfitri.
“SPPG bisa membuat menu-menu makanan kreatif yang berbasis kearifan lokal untuk mencegah penyajian UPF dalam MBG selama Ramadan,” ujarnya saat dikonfirmasi di Jakarta, Rabu (18/2/2026).
Dalam SE tersebut ditegaskan bahwa selama Ramadan, penerima manfaat akan menerima menu MBG dalam paket kemasan sehat tanpa penggunaan UPF yang umumnya mengandung bahan tambahan seperti pengawet, pewarna, dan perasa.
BGN juga tidak menganjurkan penyajian makanan yang cepat basi, bercita rasa pedas, atau berpotensi menimbulkan insiden keamanan pangan.
Adapun rekomendasi menu kemasan meliputi telur asin, abon, dendeng kering, buah, makanan khas lokal, serta kurma (opsional). Seluruhnya tetap harus memenuhi standar keamanan pangan, mutu, dan kecukupan gizi sesuai kelompok usia penerima manfaat.
Untuk distribusi selama Ramadan, setiap penerima manfaat akan memperoleh dua tas kain (tote bag) dengan warna berbeda guna memudahkan identifikasi dan penukaran harian.
“SPPG menyediakan dua tote bag dengan warna berbeda, misalnya biru dan merah, sebagai pembeda antara kantong yang sudah digunakan dan yang akan ditukar pada hari berikutnya,” jelas Dadan.
Sementara itu, pada periode cuti bersama Lebaran 18–24 Maret 2026, penyaluran MBG tidak dilakukan, baik kepada peserta didik maupun non-peserta didik.
Baca Juga: Diterjang Kayu Gelondongan Saat Banjir, Jembatan di Badiri Ambruk!Sebagai pengganti, distribusi dilakukan lebih awal melalui paket bundling kemasan sehat untuk konsumsi beberapa hari sekaligus. Namun, BGN menegaskan batas maksimal ketahanan makanan yang diterima hanya tiga hari.
Kebijakan ini bertujuan memastikan kualitas gizi tetap terjaga selama Ramadan, sekaligus meminimalkan risiko keamanan pangan di tengah perubahan pola konsumsi masyarakat. (JPNN)