Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

BRIN Prediksi Awal Ramadan 2026 Jatuh 19 Februari, Berbeda dengan Muhammadiyah

Editor Satu • Kamis, 5 Februari 2026 | 14:35 WIB
Ilustrasi pengamatan hilal sebagai penentuan awal Ramadan yang berpotensi berbeda antara pemerintah dan Muhammadiyah pada 2026.
Ilustrasi pengamatan hilal sebagai penentuan awal Ramadan yang berpotensi berbeda antara pemerintah dan Muhammadiyah pada 2026.

JAKARTA, METRODAILY – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi pemerintah akan menetapkan awal puasa Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada 19 Februari 2026.

Prediksi ini berpotensi berbeda dengan keputusan PP Muhammadiyah yang telah lebih dulu menetapkan 1 Ramadan pada 18 Februari 2026.

Peneliti BRIN, Prof Thomas Djamaluddin, menjelaskan perbedaan tersebut bukan disebabkan oleh kekeliruan data astronomi, melainkan perbedaan metode penentuan awal bulan Hijriah, yakni antara hilal lokal dan hilal global.

“Akan ada perbedaan penentuan awal Ramadan 1447. Sumber perbedaan bukan seperti sebelumnya terkait posisi hilal, tetapi karena perbedaan penggunaan hilal lokal dan hilal global,” kata Thomas saat dihubungi, Kamis (5/2).

Baca Juga: Bobby Nasution Minta Dirut Baru Bawa Bank Sumut Lebih Progresif

Thomas menjelaskan, pemerintah melalui Kementerian Agama bersama mayoritas organisasi masyarakat Islam menggunakan kriteria hilal lokal, yakni posisi hilal harus memenuhi kriteria visibilitas di wilayah Indonesia.

Menurut perhitungan astronomi, pada saat magrib 17 Februari 2026, posisi hilal masih berada di bawah ufuk di wilayah Indonesia sehingga tidak memungkinkan untuk dirukyat.

“Pada saat magrib 17 Februari, posisi hilal masih di bawah ufuk. Artinya tidak mungkin dirukyat. Karena itu, awal Ramadan jatuh pada hari berikutnya, yaitu 19 Februari 2026,” jelas Koordinator Kelompok Riset Astronomi dan Observatorium Pusat Riset Antariksa BRIN tersebut.

Baca Juga: Universitas Royal Kisaran dan BPJS Ketenagakerjaan Kerjasama Lindungi Mahasiswa Magang, PKL dan KKL

Sementara itu, Muhammadiyah menggunakan konsep hilal global atau matlak global dalam penentuan awal bulan Hijriah.

Dalam metode ini, selama hilal memenuhi kriteria visibilitas di mana pun di dunia dan ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru, maka keesokan harinya sudah masuk bulan baru.

“Pada 17 Februari 2026, posisi hilal telah memenuhi kriteria visibilitas di Alaska dan konjungsi terjadi sebelum fajar di Selandia Baru. Karena itu, Muhammadiyah menetapkan awal Ramadan pada 18 Februari 2026,” ujar Thomas.

Ia menegaskan, kedua metode tersebut sama-sama benar secara astronomis.

Baca Juga: Tiga Hari Operasi Keselamatan Toba 2026, Laka Lantas Turun 44,7 Persen

“Tidak ada yang keliru dari segi data astronominya. Hasilnya berbeda karena kriteria yang digunakan untuk lingkup lokal dan global. Silakan ikuti yang diyakini,” katanya.

Sebelumnya, PP Muhammadiyah melalui Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 telah menetapkan 1 Ramadan 1447 H jatuh pada Rabu Legi, 18 Februari 2026. Penetapan tersebut berdasarkan metode hisab dengan prinsip Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT).

Ijtimak jelang Ramadan 1447 H diketahui terjadi pada 17 Februari 2026 pukul 12.01.09 UTC. Dalam perhitungan awal, hingga sebelum pukul 24.00 UTC belum ada wilayah yang memenuhi Parameter Hilal Global (PKG) 1. Namun, pada parameter lanjutan (PKG 2), terdapat wilayah yang memenuhi syarat sehingga matlak global diberlakukan. (dtc)

Editor : Editor Satu
#Awal Ramadan 2026 #BRIN