JAKARTA, METRODAILY – Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengeluarkan peringatan serius kepada masyarakat Indonesia mengenai potensi gempa besar dan tsunami akibat aktivitas tiga zona Megathrust yang bisa “pecah” sewaktu-waktu.
Teuku menjelaskan, secara geografis, Indonesia berada di pertemuan tiga lempeng aktif dunia: Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Kondisi ini membuat Indonesia menjadi salah satu wilayah paling rawan bencana.
"Negara kita berada sangat rawan terhadap bencana. Serta geotektonik yang berada di antara 3 lempeng aktif utama dunia sehingga mengimplikasikan ada tumpukan lempeng ini," ujarnya saat rapat kerja dengan DPR, dikutip Senin (10/11).
Baca Juga: Cekcok Mulut Remaja Berujung Penganiayaan, Diduga Oknum Guru Ikut Terlibat3 Zona Megathrust Paling Berbahaya di Indonesia
Dari total 13 zona Megathrust, BMKG mencatat tiga zona berisiko tinggi yang bisa melepaskan energi besar tanpa bisa diprediksi:
-
Mentawai-Siberut: Potensi gempa magnitudo M8,9
-
Selat Sunda: Ancaman gempa M8,7
-
Sumba: Potensi gempa M8,5
Teuku menegaskan, ketiga zona ini belum pernah mengalami gempa besar dalam puluhan hingga ratusan tahun, sehingga energi tektonik saat ini terus terakumulasi.
"Diduga kuat saat ini sedang terjadi proses akumulasi energi tektonik yang dapat merilis gempa besar sewaktu-waktu tanpa dapat diprediksi," tambahnya.
Baca Juga: Bandar Sabu Palas Ditangkap di Medan, Hape Disita untuk Jejak Jaringan Narkoba
35.832 Gempa Terjadi Sepanjang 2025
Data BMKG menunjukkan, selama Januari–Oktober 2025, Indonesia telah diguncang 35.832 kali gempa bumi, menegaskan aktivitas seismik yang sangat tinggi. Rinciannya:
-
Gempa < M5: 35.645 kejadian
-
Gempa > M5: 187 kejadian
-
Gempa dirasakan masyarakat: 850 kali
-
Gempa merusak: 21 kali
Teuku menekankan, data ini menjadi bukti nyata ancaman gempa di Indonesia, dan masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan serta kesiapsiagaan bencana sejak dini. (jp)