METRODAILY - Fenomena perokok anak di Indonesia makin bikin geleng-geleng kepala. Data terbaru Survei Konsumsi Individu (SKI) 2023 mencatat jumlah perokok usia 10–18 tahun kini tembus 5,9 juta jiwa, melonjak drastis dari 2 juta pada 2013.
Lebih mengejutkan lagi, ada anak usia 4 tahun yang sudah mencoba rokok!
“Ini harus jadi perhatian serius. Ada hampir 2 juta anak tambahan yang jadi perokok dalam satu dekade terakhir. Angkanya gak main-main,” tegas dr. Siti Nadia Tarmidzi, Direktur Pencegahan Penyakit Tidak Menular Kemenkes RI, Rabu (11/6).
Baca Juga: Nikita Mirzani Gugat Reza Gladys Rp100 Miliar
Yang bikin prihatin, usia anak mulai merokok juga makin dini. Data SKI 2023 mengungkap:
-
2,6% mulai merokok di usia 4–9 tahun
-
44,7% mulai di usia 10–14 tahun
-
Dan puncaknya, 52,8% di usia 15–19 tahun
Dari kelompok terakhir itu, lebih dari 72% sudah merokok tiap hari!
“Anak-anak ini belum bisa protes kalau ada orang dewasa merokok di dekatnya. Mereka gak bisa bilang ‘saya pengin udara bersih’, dan itu sangat disayangkan,” ujar dr. Nadia.
Masalah lain? Akses rokok yang super mudah. Sebanyak 71,3% anak beli rokok batangan, dan 60,6% gak pernah dicegah saat beli. Rata-rata konsumsi harian mereka? 8–9 batang per hari!
Baca Juga: Jelang Nikah, Alyssa Daguise Gelar Bridal Shower Elegan
Situasi ini makin kompleks dengan naiknya tren rokok elektronik (vape). Dibandingkan data Riskesdas 2018, pengguna vape naik dua kali lipat di 2023.
Meski tidak dibakar dan tidak mengandung tar, kebanyakan tetap mengandung nikotin yang berbahaya dan bikin ketagihan.
“Banyak yang pindah ke vape karena dianggap lebih enak, tapi tetap saja mengandung nikotin yang bisa merusak,” tegasnya lagi.
Nadia menekankan pentingnya kerja sama dari semua pihak—pemerintah, sekolah, keluarga, bahkan lingkungan sekitar—untuk menyelamatkan generasi muda dari bahaya rokok.
“Kita gak bisa diam aja. Harus ada perlindungan nyata dan tegas buat anak-anak kita dari rokok,” tutupnya. (jp)
Editor : Editor Satu