Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Awal Ramadan Berpotensi Beda, Kemenag Gelar Sidang Isbat 28 Februari

Editor Satu • Rabu, 12 Februari 2025 | 11:50 WIB

Seorang petugas melakukan pemantauan hilal dalam menetukan awal Ramadan 1444 H di Masjid Al-Musari
Seorang petugas melakukan pemantauan hilal dalam menetukan awal Ramadan 1444 H di Masjid Al-Musari

JAKARTA, METRODAILY – Kementerian Agama (Kemenag) akan menggelar sidang isbat penentuan awal Ramadan pada 28 Februari. Hasil sidang ini akan menentukan apakah 1 Ramadan 1446 H jatuh pada 1 atau 2 Maret.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, potensi perbedaan penetapan awal Ramadan kembali muncul di tengah masyarakat.

Perbedaan ini terjadi karena penggunaan dua metode dalam penentuan kalender Hijriah, yakni metode hisab (perhitungan astronomi) dan metode rukyat (pengamatan langsung). Menurut perhitungan hisab, hilal pada 28 Februari sudah berada di atas ufuk, tetapi metode rukyat tetap diperlukan untuk mengonfirmasi visibilitas hilal.

Dirjen Bimas Islam Kemenag Abu Rokhmad menjelaskan, sidang isbat akan melibatkan berbagai pihak, termasuk ormas Islam, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), ahli falak, serta perwakilan dari Mahkamah Agung (MA) dan DPR.

“Tahapan sidang isbat dimulai dengan pemaparan posisi hilal berdasarkan metode hisab. Kemudian dilanjutkan dengan sidang tertutup yang menerima laporan dari para perukyat di berbagai lokasi pemantauan hilal. Terakhir, hasil keputusan akan diumumkan kepada masyarakat,” ujar Abu Rokhmad, Senin (10/2).

Kemenag belum bisa memastikan apakah awal Ramadan jatuh pada 1 atau 2 Maret, berbeda dengan Muhammadiyah yang telah menetapkan awal Ramadan pada 1 Maret, sehingga jemaah Muhammadiyah akan mulai salat tarawih pada 28 Februari malam.

Profesor Riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Thomas Djamaluddin, menyebutkan bahwa potensi perbedaan tahun ini disebabkan oleh kondisi hilal yang masih rendah. Pada 28 Februari, ketinggian hilal diperkirakan antara 3 hingga 4 derajat di atas ufuk dengan elongasi antara 4 hingga 6 derajat.

Hanya wilayah Aceh yang memiliki elongasi lebih dari 6,4 derajat, yang merupakan syarat minimal keterlihatan hilal.

“Karena hanya satu wilayah dengan potensi visibilitas hilal, kemungkinan gagal melihat hilal cukup besar,” ungkap Thomas.

Sementara itu, Direktur Urusan Agama Islam dan Bina Syariah (Urais Binsyar) Kemenag, Arsad Hidayat, menambahkan bahwa data hisab menunjukkan ijtimak terjadi pada 28 Februari pukul 07.44 WIB.

Dengan kriteria astronomi ini, ada indikasi kuat bahwa hilal bisa terlihat, tetapi kepastiannya tetap bergantung pada hasil rukyatul hilal.

Untuk itu, Kemenag akan melakukan pemantauan hilal di berbagai titik di seluruh Indonesia bekerja sama dengan kantor wilayah Kemenag setempat. Hasil hisab dan rukyat ini akan menjadi dasar dalam sidang isbat yang dipimpin oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Dengan potensi perbedaan ini, masyarakat diimbau untuk menunggu hasil resmi sidang isbat Kemenag guna memastikan awal Ramadan, sekaligus menjaga persatuan dalam menjalankan ibadah puasa tahun ini. (dtc)

Editor : Editor Satu
#kemenag #awal ramadan #sidang isbat