METRODAILY - Program makan siang gratis dengan anggaran Rp10 ribu per porsi yang diluncurkan pemerintah menuai pro dan kontra. Di satu sisi, program ini dianggap sangat membantu anak-anak di daerah miskin dan terpencil, namun di sisi lain, menu yang disediakan dinilai kurang memenuhi selera anak-anak di kota besar.
Bagi masyarakat di wilayah timur Indonesia seperti Papua, program ini menjadi solusi atas sulitnya akses makanan bergizi. Harga bahan pokok yang mahal dan keterbatasan sumber daya membuat masyarakat sangat mengapresiasi langkah pemerintah ini.
“Anak-anak di sini sering makan sore karena harus mencari bahan makanan terlebih dahulu. Program ini sangat membantu, apalagi dengan harga bahan yang mahal di Papua,” ujar seorang warga Papua, Kamis (11/1).
Namun, kritik datang dari masyarakat kota besar. Anak-anak yang terbiasa dengan makanan cepat saji atau junk food dinilai memiliki ekspektasi tinggi terhadap kualitas dan rasa makanan.
“Anak-anak kota sudah biasa makan makanan online atau jajan di minimarket. Dikasih menu sederhana pasti ada saja yang mengeluh,” kata seorang netizen di medsos.
Perbedaan harga bahan pokok di berbagai daerah juga menjadi sorotan. Di kota besar, anggaran Rp10 ribu dinilai tidak cukup untuk menyediakan makanan bergizi yang layak. Sebaliknya, di daerah pedesaan atau terpencil, anggaran ini dianggap cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan anak-anak.
Pemerintah diharapkan lebih selektif dalam menentukan sasaran program agar manfaatnya lebih tepat guna. “Untuk daerah pedesaan dan wilayah timur Indonesia, program ini sangat layak. Namun, perlu penyesuaian untuk daerah perkotaan,” ungkap seorang pemerhati sosial di medsos.
Program makan siang gratis ini diharapkan dapat meningkatkan gizi anak-anak Indonesia, terutama di wilayah yang selama ini kesulitan mengakses makanan sehat. Pemerintah diminta memastikan implementasi program ini berjalan efektif dan tepat sasaran. (Net)
Editor : Editor Satu