MEDAN, METRODAILY - Kasat Reskrim Polres Teluk Bintuni AKP Tomi Samuel Marbun dilaporkan hilang setelah terjadi kontak tembak dengan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) atau Organisasi Papua Merdeka (OPM) di Teluk Bintuni, Papua Barat, Rabu (18/12).
Aparat gabungan masih terus melakukan pencarian. Namun hingga Minggu (22/12), belum ada kabar kebedaraan perwira polisi asal Kota Pematangsiantar tersebut.
Kasi Humas Polres Teluk Bintuni Ipda Teguh menyampaikan proses pencarian sedang berlangsung. "Mohon doanya, tim masih melakukan pencarian," ujar Teguh kepada wartawan, Jumat (20/12) malam.
Dari informasi sementara, Tomi dilaporkan hilang setelah terpeleset di sungai usai baku tembak dengan KKB/OPM di wilayah tersebut. Bahkan mertua Tomi turut membantu proses pencarian.
Kejadian ini menjadi perhatian serius, mengingat tingginya risiko operasi di kawasan rawan konflik seperti Teluk Bintuni.
Tomi Samuel Marbun merupakan putra asal Kota Pematangsiantar, beralamat di Jalan Dalil Tani I Kelurahan Kebun Sayur Kecamatan Siantar Timur Kota Pematangsiantar.
Tomi menikah pada November 2022 di HKBP Sopogodang Pematangsiantar. Tomi juga memiliki seorang adik anggota Polri, sama-sama lulusan Akpol.
Tomi resmi menjabat sebagai Kasat Reskrim Polres Teluk Bintuni sejak Selasa (14/9/2021). Ia menggantikan AKP Junaidi A Weken yang menempati jabatan baru sebagai Kabag Ops Polres Manokwari.
Jabatan Kasat Reskrim tersebut berdasarkan Surat Telegram Kapolda Papua Barat ST/340/VIII/KEP/2021 tentang Pemberhentian dari dan Pengangkatan Pamen dan Pama di lingkungan Polda Papua Barat.
Tomi pernah mendapatkan penghargaan dari Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo.
Penyerahaan penghargaan dilaksanakan di lapangan apel Polres Teluk Bintuni, Senin (21/10). Penghargaan tersebut diberikan karena Tomi bersama 10 anggota Polres Teluk Bintuni dinilai berhasil mengungkap kasus pembunuhan empat pekerja Jalan Trans Papua Barat di Moskono Barat pada 22 September 2022.
Informasi lainnya dihimpun, OPM mengaku markas mereka di Distrik Moskona, Kabupaten Teluk Bintuni, Papua Barat, diserang gabungan TNI dan Polri. Juru Bicara Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) OPM, Sebi Sambom menyatakan, markas TPNPB Batalyon Moskona diserang oleh TNI dan Polri, hingga terjadi kontak tembak.
"Markas Pusat Komnas TPNPB telah menerima laporan resmi dari pasukan TPNPB Kodap IV Sorong Raya pada hari Jumat, 20 Desember 2024, sekitar pukul 20.00."
"Militer Indonesia telah melakukan penyerangan ke Markas TPNPB di Batalion Moskona pada hari Rabu, 18 Desember 2024," kata Sebi, Jumat malam.
Sebi menyebut, laporan lebih lanjut dari pasukan TPNPB Kodap IV Sorong Raya menyebut, sejak Jumat pagi, militer Indonesia terus dikirim dan telah memasuki wilayah operasi TPNPB dari Batalion Moskona.
Pasukan tersebut, kata Sebi, melalui hutan, rawa, dan udara, sehingga saat ini pasukan TPNPB sedang dalam status siaga satu.
"TPNPB juga melaporkan selama aparat militer Indonesia melakukan perjalanan pulang dari hutan belantara, dua agen intelijen turut serta, dan mengakibatkan sejumlah aparat Indonesia tenggelam di dalam sungai," tambah dia.
Akibat kejadian tersebut, salah satu agen intelijen, Silas Meyem, melarikan diri ke Kampung Majnic di Distrik Moskona Barat.
Sementara, sambung Sebi, keberadaan anggota lain yang bernama Toni Orocomna dan sejumlah lainnya pun belum diketahui. Sebi menjelaskan, sebelum penyerangan, aparat TNI/Polri telah melakukan penyisiran dari Kampung Meyah menuju Markas Moskona dengan berjalan kaki sekitar 20 kilometer melalui kali, rawa, dan hutan belantara dari Distrik Moskona Barat.
"Dalam waktu yang bersamaan, Komandan Batalion Moskona, Matrhen Aikingging, sedang melakukan patroli, dan akhirnya terjadi baku tembak antara kedua belah pihak di rawa-rawa dalam hutan sagu."
"Rentetan tembakan terdengar jelas dari Markas TPNPB selama kurang lebih satu jam," kata Sebi.
Selama baku tembak tersebut, Mayor Marthen Aikingging berteriak kepada pasukannya untuk melakukan serangan balasan.
Kata Sebbi, tidak ada korban jiwa dari pihak TPNPB. Namun demikian, keberadaan Mayor OPM Marthen Aikingging juga belum diketahui.
Akibat baku tembak tersebut, sejumlah warga sipil, termasuk anak-anak dan perempuan, melarikan diri ke hutan di Distrik Moskona.
Di antara mereka, kata Sebi, terdapat istri Mayor Marthen yang hingga kini belum ditemukan. (int)