Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Anyaman Asal Nias Curi Perhatian Orang Jepang dan Korea

Admin Metro Daily • Minggu, 3 Maret 2024 | 15:52 WIB
Para peserta antusias melakukan praktek Craft Workshop yang dipersembahkan Dekranasda Sumut di panggung utama Inacraft, JCC, Jakarta pada Sabtu 2 Maret 2024.
Para peserta antusias melakukan praktek Craft Workshop yang dipersembahkan Dekranasda Sumut di panggung utama Inacraft, JCC, Jakarta pada Sabtu 2 Maret 2024.

JAKARTA, METRODAILY — Anyaman unik dari Nias yang terbuat dari pandan duri yang banyak tumbuh di pantai, dipamerkan pada panggung utama International Handicraft Trade Fair atau Inacraft 2024 di Jakarta Convention Centre (JCC), Sabtu 2 Maret kemarin.

Uniknya, peserta yang mengikuti pelatihan tersebut, selain berasal dari berbagai provinsi di tanah air, juga diikuti tiga peserta warga negara Jepang. Ternyata memang kerajinan anyaman ini sejak dipamerkan di stan Dekranasda Sumut, cukup menarik perhatian para pengunjung mancanegara terkhusus asal negara Jepang dan Korea.

Dina Waoma, pengrajin anyaman asal Kota Gunung Sitoli Nias, Sumatera Utara, menjelaskan selama beberapa hari mengikuti pameran Inacraft, produknya mendapat respons yang sangat baik dari pengunjung Jepang dan Korea. Setiap ada WNA Jepang yang singgah di stan melihat produk anyaman tersebut, mereka antusias dan berseru “kawaii” yang dalam Bahasa Jepang secara harfiah berarti imut-imut, comel, molek, atau mungil.

Dina Waoma pada workshop tersebut menjadi instruktur, ditemani dua orang putrinya. Dengan telaten, mereka memberikan penjelasan tahapan pembuatan anyaman.

“Karena ini untuk pemula, maka kami mengajarkan produk anyaman aksesoris yang mudah pembuatannya, seperti bross dan anting,” kata Dina.

Produk anyaman pandan khas Pulau Nias memang memiliki keunikan jika dibandingkan produk anyaman pandan dari daerah lain. Hal ini dikarenakan detail-detail berupa pola terawang yang rumit namun menghasilkan keindahan.

Anyaman pandan ini menurut Dina, sudah dibuat dari zaman leluhur yang dilestarikan secara turun temurun.

“Dahulu anyaman ini digunakan sebagai tempat sirih yang digunakan para raja dan permaisuri. Tempat sirih ini disebut bola nafo,” ujarnya.

Dina beserta kedua putrinya sejak beberapa tahun belakang melestarikan teknik anyaman warisan leluhur dengan memproduksi berbagai produk anyaman. Bahan anyaman dikreasikan menjadi berbagai produk yakni produk dekor rumah seperti tikar, tas, dompet, anting dengan berbagai motif terawang yang indah.

Pihaknya juga melibatkan perempuan-perempuan Nias dengan memberikan pelatihan dan pendampingan untuk dapat ikut memproduksi anyaman.

“Membuat anyaman ini butuh waktu lama dan ketekunan yang tinggi. Kita tidak mungkin bisa maju sendiri, karena itu butuh menularkan keterampilan ini kepada orang lain,” pungkasnya.

Workshop tersebut berkat inisiasi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Sumatera Utara. Lewat Craft Workshop di panggung utama ini, Dekranasda Sumut memerkenalkan semua hasil kerajinan unggulan dari Sumut. (*)

Editor : Prans Metro
#Inacraft 2024 #Anyaman Nias #Dekranasda Sumut