Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Hanya 5 Km dari Kantor PLN, tapi Warga Sopo Batu Masih Gunakan Teplok

Metro Daily • Kamis, 8 Juli 2021 | 11:05 WIB
Lampu teplok-Ilustrasi
Lampu teplok-Ilustrasi
MADINA, METRODAILY.id - Hingga saat ini di Kabupaten Mandailing Natal, masih ada beberapa desa belum teraliri jaringan listrik. Seperti Desa Sopo Batu di Kecamatan Panyabungan.

Posisi desa ini sebenarnya tidak jauh dari pusat ibukota Kabupaten Mandailing Natal (Madina) dan kantor PLN yang jaraknya diperkirakan hanya lima kilometer saja. Dan hingga saat ini, warga di desa itu masih menggunakan lampu teplok atau lampu semprong sebagai alat penerang di malam hari.

Setiap malam, warga desa setempat merasakan kondisi gelap gulita tanpa ada penerangan dari PLN. Hanya segelintir warga mampu saja dapat menikmati listrik, itu pun dengan menggunakan bantuan genset.

Pj Kepala Desa Sopo Batu, Usri Lubis mengaku, para warga sudah pernah mengajukan pemasangan jaringan listrik ke PLN maupun pemerintah daerah setempat, agar kampung mereka dapat aliran listrik. Namun sampai saat ini hasilnya nihil.

"Sejak kampung ini berdiri, sampai sekarang di 2021 warga kami belum mendapat aliran listrik. Belum sekalipun kami rasakan sarana PLN," kata Usri, seperti dikutip dari Antara.

Sementara itu, Manajer PLN ULP Panyabungan, Andi Lala menyebutkan, untuk Lisdes Sopo Batu Sigalapang Ujung sudah pernah masuk permohonan di 2016 dan sudah disurvei, namun terkendala di pembebasan lahan.

"Sudah pernah disurvei tahun 2016 lalu, namun terkendala oleh surat pembebasan lahan. Kalau bisa dibuatkan kembali surat permohonannya lagi yang dilampirkan surat pembebasan lahan dari masyarakat," sebut Andi.

Selain listrik, warga kampung yang memiliki 180 Kepala Keluarga (KK) itu juga mengeluhkan kondisi infrastruktur jalan menuju desa mereka.

Kondisi jalan yang cukup memprihatinkan itu bisa dirasakan mulai dari Desa Sigalapang Julu hingga Desa Sopo Batu.

Dengan kondisi jalan yang belum diaspal, jalan tersebut dilewati warga setiap harinya menggunakan kenderaan roda dua dan roda empat.

"Sejak merdeka jalannya juga belum diaspal, hanya jalan batu saja. Padahal cuma Lima kilometer saja dari pusat Kota Panyabungan," sebut Kades.

Meskipun begitu, para warga sekarang sudah sedikit merasa lega, sebab sebagian jalan pernah dilebarkan sepanjang lima kilometer pada masa pemerintahan Bupati Madina Drs Dahlan Hasan.

"Dulu jalannya sempit sekali cuma tiga meter saja, namun sekarang sudah diperlebar lima kilometer dan yang jalan sempit cuma tiga kilometer lagi," ujarnya.

Selain jaringan listrik dan infrastruktur jalan, pelayanan kesehatan dan sarana telekomunikasi seluler juga menjadi keluhan warga.

Disebutkan bila mana ada warga desa yang mendadak sakit terpaksa harus dibawa berobat ke Panyabungan meskipun di desa itu ada Polindes. Hal itu dilakukan warga karena petugas jarang masuk.

"Polindesnya ada, petugas dari Puskesmas kan datangnya cuma sekali dua minggu, jadi kalau ada yang sakit mendadak terpaksa dibawa berobat ke pusat Kota Panyabungan," sebut Kades.

Begitu juga dengan jaringan telekomunikasi seluler yang sekarang telah menjadi kebutuhan utama bagi anak sekolah, khususnya pada kegiatan daring.

Namun kebutuhan itu terpaksa harus ditebus para siswa dengan berjalan kaki sepanjang 2,5 kilometer untuk mendapatkannya. (ant/int) Editor : Metro Daily