SIBOLGA, METRODAILY.id- Adanya ikan-ikan yang mati di Pesisir Pantai Sibolga dan berubahnya air laut menjadi keruh, ternyata bukan disebabkan karena fenomena alam.
Menurut Kepala Litbang Bappeda Sibolga, Dr Lucien Pahala Sitanggang yang juga Ketua Sekolah Tinggi Perikanan Sibolga (STPS), bahwa perubahan warna air di Pesisir Pantai Sibolga, dikenal secara ilmiah dengan nama Red Type.
Di mana terjadi blooming alga yang biasanya blooming alga dari kelompok flagelata itu memberikan warna merah kecoklatan, Dino flagelata ini berkembang, baik pada kondisi perairan yang memiliki nutrisi cukup baik.
“Ada dua asumsi yang mungkin menyebabkan pelimpahan dinoflagelata ini cukup besar di bibir pantai Sibolga, pertama secara hydrologis, merupakan reaksi dari proses apweli dan donweli untuk Zooplankton akibat terjadinya pasang surut. Kedua, secara kelimpahan nutrisi di perairan, itu biasanya hasil dari pembuangan limbah organik, baik dari sisa metabolisme tubuh manusia, (pembuangan BAB masyarakat, red) jatuh langsung ke laut tanpa menggunakan septictank,” jelasnya, Rabu (2/6) di Sibolga.
Menurut dia, penyebab ini tentunya masih dikaji dan diyakini, LHKP berkompetan untuk melakukan hal ini dan Litbang Pemko Sibolga akan tetap mendukung upaya ini.
Pihaknya berasumsi, karena kemarin timnya dengan dukungan LHKP berangkat menuju pulau-pulau kecil yang ada di Sibolga termasuk yang ada di Tapanuli Tengah sampai ke Pulau Mursala tepatnya di Kuala Batu, ternyata blooming alga tidak sampai ke sana.
“Jadi kemungkinan besar penyebab utamanya bukan karena reaksi hydro logis atau fenomena sistem perairan, tetapi karena pelimpahan nutrisi organik yang ada di sekitar perairan Pantai Sibolga, khususnya di Kelurahan Sibolga Ilir. Tentu pertanyaannya ketika ada sanggahan, bagaimana cara mengatasinya? Setelah kami amati di laboratorium Sekolah Tinggi Perikanan Sibolga, kebetulan saya sudah mengirim hasil video dan foto mikroskop elektron dengan besaran 40 ribu kali, itu adalah hasil pemotoan 40 ribu kali di bawah mikroskop. Terbukti bahwa jenis fitoplankton melimpah di Sibolga adalah didominasi oleh omodion, kalau dua hari lalu saya masih berasumsi, kemudian adalah Firophyton, tetapi setelah diamati di bawah mikroskop, ternyata ini adalah Ginodius yang berasal dari Dinoflagelata,” tegasnya.
Apa dampak buruk kepada lingkungan? Dampak terburuk menyebabkan ikan menjadi anokside (kurangnya kelimpahan oksigen) pada saat malam hari, karena diketahui bersama karena fito plankton melakukan fotosintetis pada siang hari, jadi di malam hari mereka akan melakukan sebaliknya, mengkonsumsi oksigen dan membakar hasil pembakarannya adalah CO2 karbon dioksida.
“Oleh sebab itu, kita temukan pada sample ikan yang ada di masyarakat Panomboman sebagian besar adalah Overkulun atau menutup insang yang ditutupi oleh Inodium. Jadi Kesimpulannya sudah terbukti secara ilmiah bahwa jenis Pythoplankton yang melimpah di Sibolga adalah jenis Dinoflagelata dari spesies Inodium. Nanti akan saya beri tanggapan saya selaku Ketua STPS dan selaku Kepala Inovasi dan Penelitian Bappeda Kota Sibolga. Yang paling sederhana kita lakukan saat ini adalah membiarkan alga berkumpul di satu titik karena dinoflagelata bersifat fotosintetis positif, maka akan aktif bergerak pada saat sinar matahari terik dan mereka akan melakukan fotosintetis mendekati permukaan air,” terang dia.
Menurutnya, ada beberapa indikator yang sudah dihitung di lapangan, satu Saniditas, masalah saniditas perairan Sibolga, saat ini hanya 24 sampai 26. “Logikanya, untuk berkembang biak secara baik ikan-ikan yang ada di perairan kita ini harus memiliki saniditas 28 sampai 32. Kedua, suhu meningkat sebesar 33 derajat celcius. Untuk perairan kita ini seharusnya maksimal 31 derajat celcius, jadi peningkatan suhu tentunya akan menyebabkan semakin rendahnya jumlah oksigen larut dalam air. “Mudah-mudahan berkat dukungan LHKP bekerja sama dengan STPS, metode yang ditawarkan untuk melakukan metode sweeping atau melakukan penyaringan kita coba menyaring air permukaan saat pukul 10.00 Wib hingga pukul 14.00 Wib dengan melakukan penyaringan flanktonet, kalau sudah disaring selama 2 hari saya yakin jumlah dinoflagelata akan menurun,” kata Dr Lucien . (mis) Editor : Leo Sihotang