TAPTENG, METRODAILY – Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Masinton Pasaribu mendorong kolaborasi strategis dengan Sekolah Tinggi Kelautan dan Perikanan (STPK) Matauli Pandan untuk mengoptimalkan potensi ekonomi biru (blue economy) di wilayah pesisir.
Sinergi tersebut dinilai penting guna mempercepat pengelolaan sumber daya kelautan yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Komitmen itu disampaikan Masinton saat menghadiri Studium Generale bertema "Positioning Sekolah Tinggi Kelautan dan Perikanan Matauli serta Alumninya dalam Pembangunan Ekonomi Biru Menuju Indonesia Emas 2045" di Kampus STPK Matauli Pandan, Kamis (9/7).
Baca Juga: Sequis Hadirkan Sequis CareIn, Perlindungan Kesehatan Menyeluruh dari Diagnosis hingga Pemulihan
Kuliah umum menghadirkan pakar kelautan Rokhmin Dahuri, anggota Komisi IV DPR RI sekaligus Menteri Kelautan dan Perikanan periode 2001-2004.
Garis Pantai 200 Kilometer Belum Tergarap Maksimal
Masinton mengatakan Tapanuli Tengah memiliki garis pantai sekitar 200 kilometer dengan potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar. Namun hingga kini, sebagian besar potensi tersebut belum dikelola secara optimal.
Menurutnya, sektor perikanan maupun pertanian di daerah itu masih didominasi pola pengelolaan tradisional sehingga nilai tambah ekonomi yang diterima masyarakat belum maksimal.
Baca Juga: Hakim MK Kritik Maskapai, Penumpang Delay Pesawat Tak Cukup Diganti Snack
"Garis pantai Tapanuli Tengah sangat panjang, membentang sekitar 200 kilometer. Namun banyak potensi yang belum tergali secara optimal dan belum memberikan dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat. Karena itu, kami berharap dapat membangun sinergi strategis dengan Yayasan Matauli," ujar Masinton.
Ia juga menegaskan pentingnya dukungan dunia pendidikan dalam menyiapkan sumber daya manusia yang mampu mengelola potensi kelautan secara modern dan berkelanjutan.
Tapteng Diusulkan Jadi Kawasan Heritage Pantai Barat Sumatra
Selain pengembangan ekonomi biru, Masinton mengungkapkan Pemkab Tapanuli Tengah tengah menyiapkan langkah untuk mengusulkan wilayah tersebut sebagai kawasan heritage di jalur Pantai Barat Sumatra.
Baca Juga: 10 Pejabat Berebut Lima Kursi Kepala OPD, Pemkab Simalungun Gelar Seleksi Manajemen Talenta
Pengakuan tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya tarik investasi sekaligus memperkuat sektor pariwisata berbasis sejarah, budaya, dan kelautan.
Dalam paparannya, Rokhmin Dahuri menilai Tapanuli Tengah memiliki modal alam yang sangat kuat untuk menjadi salah satu pusat pertumbuhan ekonomi berbasis kelautan di Indonesia.
Menurutnya, pemerintah daerah perlu memfokuskan pembangunan pada tiga sektor utama dalam kurun tiga hingga lima tahun ke depan.
Pertama, budidaya perikanan laut dengan pengembangan komoditas bernilai ekonomi tinggi seperti lobster, udang vaname, dan rumput laut.
Baca Juga: Pramuka Simalungun Raih Terbaik III di Jamdasu XI 2026, Harumkan Nama Daerah
Kedua, hilirisasi industri perikanan tangkap melalui pembangunan industri pengolahan ikan yang modern, ramah lingkungan, dan berorientasi ekspor.
Ketiga, pariwisata bahari kelas dunia dengan memperkuat fasilitas pendukung, penataan destinasi, serta konektivitas agar mampu bersaing dengan destinasi internasional seperti Maladewa.
"Tapanuli Tengah memiliki potensi blue economy yang sangat besar karena garis pantainya mencapai lebih dari 200 kilometer," kata Rokhmin.
Melalui kolaborasi antara Pemerintah Kabupaten Tapanuli Tengah dan STPK Matauli, pengembangan ekonomi biru diharapkan menjadi motor baru pertumbuhan ekonomi daerah sekaligus mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045. (net)
Editor : Editor Satu