MEDAN, METRODAILY — Tanoto Foundation menetapkan target ambisius: pada 2029, tidak boleh ada lagi satu pun siswa di jenjang kelas tinggi sekolah dasar yang tidak mampu membaca atau berhitung.
Komitmen itu diumumkan dalam Dialog Publik Peningkatan Literasi dan Numerasi Sumatera Utara, Kamis (7/5/2026), di Batanghari Coffee & Dining, Jl. Sei Batang Hari No.46, Medan.
"Literasi dan numerasi adalah fondasi. Melalui kolaborasi multipihak dan partisipasi semesta, kita memastikan tidak ada anak yang tertinggal dalam menguasai keterampilan dasar untuk masa depan mereka," ujar Medi Yusva, Regional Lead Tanoto Foundation Sumatera Utara.
Baca Juga: OJK Sumut Dorong Skema SEJAGAT, Pembiayaan Jagung Tapsel Tembus Rp716,5 Miliar
Dialog ini digelar bersama Pemerintah Kota Pematangsiantar dan Balai Bahasa Provinsi Sumatera Utara, serta menghadirkan Komunitas Literasi dan Numerasi dan Forum Jurnalis Peduli Sumatera Utara. Kota Medan dan Pematangsiantar menjadi wilayah prioritas intervensi pertama di Sumatera Utara.
Alarm PISA 2022
Urgensi program ini bukan tanpa dasar. Data PISA 2022 menunjukkan Indonesia masih jauh tertinggal dari rata-rata OECD: hanya 25 persen siswa yang mampu memenuhi rata-rata skor literasi membaca, dan angka itu lebih rendah lagi untuk matematika, yakni hanya 18 persen.
Medi menegaskan bahwa akar masalahnya bukan sekadar soal akses sekolah, melainkan kualitas pembelajaran di dalam kelas. Kesenjangan antara wilayah perkotaan dan daerah terpencil, ditambah rendahnya minat baca di tengah gempuran informasi digital, menjadi tantangan nyata yang harus dihadapi.
Baca Juga: Wakil Wali Kota Tanjungbalai Tinjau 2 Dapur SPPG, Pastikan Sesuai Standar BGN
"Dibutuhkan intervensi nyata sejak kelas awal untuk membangun fondasi logika dan pemahaman yang kuat, bukan sekadar menambah jam belajar," tegasnya.
Koalisi Besar untuk Percepatan Nasional
Untuk mewujudkan target tersebut, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi menggandeng Tanoto Foundation, Gates Foundation, dan UNICEF dalam satu kemitraan strategis.
Hingga 2029, koalisi ini menargetkan pendampingan terhadap 500 sekolah dasar negeri di seluruh Indonesia, pelatihan bagi 1.500 guru kelas awal dan kepala sekolah, serta manfaat langsung bagi minimal 45.000 siswa.
Program ini berpijak pada tiga pilar utama. Pertama, pembangunan kompetensi dan pedagogi — pembelajaran disesuaikan usia dengan metode terstruktur agar siswa benar-benar paham, bukan sekadar menghafal.
Baca Juga: Digerebek Sat Narkoba, 4 Pria Positif Sabu di Batubara
Kedua, menumbuhkan kebiasaan membaca, karena kompetensi teknis membaca harus berjalan beriringan dengan kegemaran membaca.
Ketiga, pendekatan numerasi berbasis logika: membangun nalar sistematis sejak dini, bukan hanya kemampuan hitung teknis.
Guru sebagai Ujung Tombak
Di lapangan, program menempatkan guru sebagai aktor utama perubahan. Penguatan praktik kelas didukung data asesmen diagnostik untuk memetakan kebutuhan unik setiap siswa. Penyelarasan kebijakan antara pemerintah pusat dan daerah juga menjadi prioritas demi ekosistem pendidikan yang berkelanjutan.
Baca Juga: 6 Begal Sadis Dibekuk di Kisaran, Polisi Ungkap Komplotan Sudah Beraksi di 20 Titik
Secara nasional, inisiatif ini selaras dengan Asta Cita pemerintahan Prabowo-Gibran serta RPJMN 2025–2029 yang menempatkan kualitas SDM dan transformasi pendidikan sebagai prioritas.
"Pendidikan bukan lagi urusan satu pihak. Ini tanggung jawab semua — pemerintah, swasta, komunitas, keluarga, dan media. Dengan gotong-royong, kita tingkatkan literasi bersama," kata Medi Yusva.
Tanoto Foundation menegaskan komitmennya menjadikan pendidikan berkualitas sebagai hak dasar yang harus terpenuhi bagi setiap anak Indonesia. (Mea)
Editor : Editor Satu