MEDAN, METRODAILY — Upaya membangun Generasi Emas Indonesia 2045 tidak hanya dimulai dari pendidikan formal, tetapi juga dari pengasuhan dan stimulasi anak sejak usia dini melalui layanan Posyandu.
Penguatan keterampilan pengasuhan dan stimulasi perkembangan anak menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan tumbuh kembang optimal anak, sekaligus mencegah stunting dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di masa depan.
Hal itu mengemuka dalam pertemuan Tanoto Foundation Sumatera Utara bersama pemangku kepentingan yang digelar di Grand Cityhall Hotel Medan, Kamis (12/3).
Regional Lead Tanoto Foundation, Medi Yusva, mengatakan pengasuhan dan stimulasi dini yang berkualitas merupakan fondasi penting untuk menyongsong bonus demografi pada 2045, ketika sekitar 70 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif.
“Jika anak-anak mendapatkan pengasuhan dan stimulasi yang tepat sejak dini, mereka akan tumbuh menjadi generasi yang mampu menggerakkan ekonomi, inovasi, dan pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.
Medi menjelaskan Tanoto Foundation berinvestasi dalam pengembangan sumber daya manusia melalui berbagai program yang berfokus pada pencegahan stunting, stimulasi dini, peningkatan keterampilan pengasuhan anak, kesehatan ibu dan bayi, serta penguatan kualitas pendidikan prasekolah.
Salah satu inisiatif yang dijalankan adalah Rumah Anak SIGAP, sebuah program berbasis komunitas yang bertujuan memperkuat layanan stimulasi dan pengasuhan anak usia dini secara berkelanjutan dan terjangkau.
Program tersebut telah dilaksanakan sejak tahun lalu di Desa Kutadame, Kecamatan Kerajaan, Kabupaten Pakpak Bharat. Saat ini, program yang sama juga tengah dipersiapkan untuk diterapkan di Kota Medan dan Pematangsiantar.
“Rumah Anak SIGAP menjadi ruang pembelajaran awal untuk menguji pendekatan layanan stimulasi dini sebagai program percontohan. Tujuannya memperkuat peran layanan kesehatan dan membangun ekosistem tumbuh kembang anak yang terintegrasi dengan program pemerintah daerah,” kata Medi.
Menurutnya, pendekatan yang dikembangkan tidak berdiri sendiri, tetapi terintegrasi dengan layanan kesehatan yang sudah ada, khususnya Posyandu.
Dalam model ini, Posyandu tidak hanya berfungsi sebagai tempat layanan kesehatan dasar, tetapi juga menjadi ruang edukasi publik bagi orang tua mengenai pentingnya stimulasi perkembangan anak.
Edukasi tersebut dilakukan secara berkelanjutan melalui sesi bulanan Posyandu, kegiatan desa, hingga kunjungan rumah, dengan dukungan media komunikasi, informasi, dan edukasi yang sederhana dan mudah dipahami.
Selain itu, program stimulasi anak usia dini dilaksanakan melalui sesi mingguan berdasarkan kelompok usia dengan durasi sekitar 45 menit. Setiap sesi didampingi fasilitator dan menggunakan modul aktivitas yang dirancang untuk menstimulasi berbagai aspek perkembangan anak.
“Modul ini mencakup stimulasi kognitif, bahasa, motorik, sosial emosional, hingga keterampilan dasar anak,” jelasnya.
Dalam implementasinya, sejumlah fasilitas layanan kesehatan juga ditata ulang untuk mendukung kegiatan stimulasi anak. Ruang yang sebelumnya digunakan untuk kegiatan umum kini dialihfungsikan menjadi ruang khusus stimulasi perkembangan anak usia dini.
Ruang tersebut dilengkapi sarana bermain dan belajar yang disesuaikan dengan kelompok usia anak sehingga proses stimulasi dapat berjalan lebih terstruktur dan aman.
Meski demikian, Medi menilai keberhasilan program ini tidak hanya bergantung pada ketersediaan infrastruktur, tetapi juga kesiapan sumber daya manusia serta pembagian peran yang jelas di tingkat layanan kesehatan.
Keterbatasan waktu tenaga kesehatan dan kader Posyandu yang memiliki berbagai tugas menjadi salah satu tantangan dalam pelaksanaan program stimulasi secara rutin.
Karena itu, pengaturan jadwal yang realistis serta pembagian tugas yang jelas menjadi faktor penting agar layanan stimulasi dapat berjalan berkelanjutan tanpa mengganggu layanan kesehatan lainnya.
“Stimulasi perkembangan anak harus dipandang sebagai bagian dari layanan kesehatan yang rutin, bukan sekadar kegiatan tambahan,” tegasnya.
Dengan dukungan sistem yang konsisten, Medi berharap stimulasi perkembangan anak dapat menjadi praktik layanan kesehatan yang terintegrasi dan berkelanjutan di tingkat masyarakat. (Rel)
Editor : Editor Satu