TAPSEL, METRODAILY – Ketidakpastian kelanjutan program beasiswa pendidikan dari Tambang Emas Martabe mulai dirasakan para penerima manfaat. Salah satunya dialami Zahra Nabila Siregar (19), mahasiswi semester dua Jurusan Pendidikan Seni Tari di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).
Zahra merupakan warga Desa Sipenggeng, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Ia menjadi salah satu penerima beasiswa pendidikan dari program pemberdayaan masyarakat Tambang Emas Martabe yang dikelola PT Agincourt Resources.
Setiap semester, Zahra menerima bantuan lebih dari Rp13 juta untuk membiayai uang kuliah tunggal (UKT) dan kebutuhan hidupnya selama satu semester.
“Saya tidak tahu harus bagaimana jika beasiswa itu berhenti,” ujar Zahra, Minggu (22/2).
Baca Juga: Manajemen Kebun Sawit Warisan Absen, RDP DPRD Asahan Ditunda
Beasiswa tersebut menjadi penopang utama studinya. Kondisi ekonomi keluarga dinilai belum mampu membiayai pendidikan tinggi secara mandiri.
Ayahnya, Irwan Siregar (60), membuka kedai kopi kecil dengan penghasilan tidak menentu. Sementara ibunya, Zuhria Hasibuan (47), merupakan ibu rumah tangga.
Zahra merupakan anak kedua dari empat bersaudara. Salah satu kakaknya juga sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi, sementara adiknya bersiap melanjutkan studi.
Dengan beban ekonomi keluarga, Zahra mengaku sangat bergantung pada bantuan pendidikan tersebut.
Baca Juga: TPA Pasar 8 Indrapura Overload, Pemkab Batu Bara Siapkan Relokasi 15 Hektare ke Sei Balai
Dampak Penghentian Operasi Tambang
Ketidakpastian beasiswa muncul setelah penghentian operasi tambang pascabencana hidrometeorologi pada November 2025. Sejumlah program pemberdayaan masyarakat, termasuk beasiswa pendidikan, berada dalam evaluasi.
Hingga kini belum ada kepastian apakah bantuan akan tetap diberikan kepada para penerima beasiswa seperti Zahra.
Meski dihantui kekhawatiran, Zahra tetap mengikuti perkuliahan dan latihan tari sebagai bagian dari program studinya. Ia mengaku tidak ingin menyerah pada keadaan.
“Saya ingin menyelesaikan kuliah dan membahagiakan orang tua,” ujarnya.
Baca Juga: Sekda Labura Tekankan Pentingnya Sinkronisasi Data Bantuan Sosial
Sebagai anak sanggar seni sejak usia sembilan tahun, Zahra berharap cita-citanya menjadi pendidik seni tari tetap dapat terwujud di tengah ketidakpastian tersebut. (net)