Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Pemerintah Terbitkan 156 Prodi Spesialis Kedokteran Baru, Tambah 3.150 Mahasiswa Fakultas Kedokteran

Editor Satu • Jumat, 16 Januari 2026 | 11:40 WIB
Mendiktisaintek Brian Yuliarto dalam dialog Presiden RI Prabowo Subianto bersama akademisi di Istana Negara, Jakarta.
Mendiktisaintek Brian Yuliarto dalam dialog Presiden RI Prabowo Subianto bersama akademisi di Istana Negara, Jakarta.

JAKARTA, METRODAILY – Pemerintah terus memperkuat layanan kesehatan nasional melalui penambahan signifikan pendidikan dokter spesialis dan subspesialis.

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) bersama Kementerian Kesehatan telah menerbitkan 156 izin pembukaan program studi (prodi) spesialis dan subspesialis kedokteran.

Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) Brian Yuliarto menyampaikan, kebijakan tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden RI Prabowo Subianto untuk memperkuat sistem kesehatan nasional, terutama dari sisi ketersediaan tenaga medis spesialis.

“Kementerian Kesehatan telah menerbitkan 156 izin prodi spesialis baru, terdiri dari 126 prodi spesialis dan 30 prodi subspesialis,” ujar Brian saat dialog Presiden RI Prabowo Subianto bersama 1.000 akademisi di Istana Negara, Jakarta, Kamis (15/1/2026).

Brian menjelaskan, pembukaan ratusan prodi baru tersebut berdampak langsung terhadap peningkatan jumlah mahasiswa kedokteran di Indonesia.

Pada awal tahun 2026, jumlah mahasiswa baru pada pendidikan dokter spesialis dan subspesialis bertambah sebanyak 3.150 orang.

“Sebelumnya terdapat sekitar 5.000 mahasiswa, sehingga dengan penambahan ini totalnya menjadi 8.650 mahasiswa,” jelasnya.

Selain sektor kesehatan, Mendiktisaintek juga melaporkan perkembangan positif pada pendanaan riset nasional.

Saat ini, total anggaran penelitian nasional telah melampaui Rp8 triliun, baik yang dikelola oleh Kemendiktisaintek maupun melalui kolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Rasio anggaran riset terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kini mencapai 0,34 persen.

Sesuai arahan Presiden Prabowo, riset nasional diarahkan agar tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi penghubung antara pengembangan ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata industri nasional, dengan Danantara sebagai salah satu lokomotif penggerak.

Sejumlah kajian strategis industri nasional yang saat ini tengah dikerjakan antara lain pengembangan industri tenaga surya (solar cell), logam tanah jarang, pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular, pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN), industri semikonduktor, industri sepatu, tekstil, dan kosmetik.

Selain itu, riset juga difokuskan pada penguatan ketahanan pangan nasional, khususnya komoditas strategis seperti bawang putih, kedelai, dan gandum. (Rel)

Editor : Editor Satu
#prodi spesialis