PASAR LAPAN, METRODAILY – Literasi baca tulis sejak dini menjadi fokus utama di UPT SDN 30 Pasar Lapan. Guru kelas I di sekolah ini menghadirkan inovasi kuis komunikata, metode pembelajaran role play yang mengajak murid belajar membaca dan menulis sambil bermain.
Biasanya kuis komunikata hanya dapat dilihat di televisi, namun guru kelas I memanfaatkan metode ini sebagai joyful learning, sesuai prinsip Kurikulum Merdeka.
Menurut Hotma Wulansari Sitohang (Wulan), metode ini membuat pembelajaran membaca dan menulis menjadi lebih menyenangkan dan interaktif. “Menyajikan materi baca tulis tak melulu guru hanya menulis di papan tulis saja,” ujarnya.
Baca Juga: Anak Indonesia Direkrut Teroris Lewat Game Online dan Medsos, Polri Ungkap 110 Korban
Metode ini mendorong murid untuk berbicara, menyampaikan kalimat, membaca, memahami, dan menyusun kata dengan benar.
Aktivitas kuis juga melatih kepekaan, memperkaya perbendaharaan kata, meningkatkan keterampilan menulis, serta menumbuhkan kepercayaan diri dalam menggunakan bahasa lisan maupun tertulis.
Dalam praktiknya, guru menyiapkan kalimat sederhana di kertas yang digunting, seperti “saya suka susu”, “kamu baju baru”, dan “mama bawa kayu”.
Setiap kelompok yang terdiri dari empat murid memilih ketuanya untuk mengambil kertas secara acak, kemudian membisikkan kalimat itu kepada anggota berikutnya hingga sampai pada murid terakhir yang menuliskannya di papan tulis.
Baca Juga: Hati-hati! J&T Express Ingatkan Warga Pakai 3C agar Terhindar dari Penipuan Online
Momen seru pun terjadi ketika Afifah, murid yang biasanya sulit berinteraksi, berhasil membisikkan kalimat ke teman sekelompoknya. Meski awalnya anggota terakhir, Mikha menulis huruf “S” terbalik, namun akhirnya kalimat berhasil ditulis dengan benar, disambut gelak tawa teman-teman.
Di akhir kegiatan, murid pun antusias. Alya berbisik, “Bu, besok buat gini lagi ya, Alya senang bu.” Antusiasme murid menunjukkan keberhasilan metode ini dalam membuat literasi baca tulis menjadi aktivitas yang menyenangkan dan menantang secara positif.
Wulan menambahkan, guru dengan pola pikir bertumbuh akan meyakini bahwa kecerdasan dan keterampilan murid dapat dikembangkan lewat latihan dan pembelajaran berulang.
Baca Juga: TPP ASN Pemkab Simalungun Bakal Dipotong Hingga 22,5 Persen pada 2026
Fokus guru bukan hanya pada nilai ujian, tetapi pada proses pembelajaran dan upaya murid menghadapi tantangan.
“Saat murid mau menyerah, guru mampu mendorongnya mencoba kembali. Inilah yang dinamakan mendidik,” ujarnya.
Dengan kuis komunikata, literasi baca tulis anak-anak SDN 30 Pasar Lapan berkembang secara alami, sesuai prinsip pembelajaran berkesadaran, interaktif, dan menyenangkan. (rel)
Editor : Editor Satu