LABURA, METRODAILY - SMK Negeri Pertanian Pembangunan 1 Kualuh Selatan menggelar rapat finalisasi rancangan anggaran belanja Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun ajaran 2025/2026, Jumat (31/10).
Rapat ini dihadiri oleh Kepala Sekolah, Dame Ginda SS, serta Ketua Komite Agusman Tanjung, dan anggota komite, tenaga pendidik dan kependidikan, tim manajemen BOS yang terdiri dari guru, orangtua siswa dan pemerhati pendidikan juga hadir dalam rapat ini.
Dalam rapat tersebut, membahas berbagai aspek pembiayaan Dana BOS, termasuk alokasi anggaran dan prioritas pembiayaan yang mendukung kegiatan belajar mengajar dan pengembangan sekolah. Diskusi berjalan interaktif dengan banyak pertanyaan dan saran terkait penggunaan dana yang diharapkan bisa meningkatkan kualitas pendidikan di SMK Negeri Pertanian Pembangunan 1 Kualuh Selatan
Kepala Sekolah Dame Ginda, menyampaikan pentingnya transparansi dan kejelasan dalam penggunaan dana agar dapat memberikan manfaat optimal bagi siswa dan sekolah. Diharapkan, melalui rapat ini, rancangan anggaran dapat disetujui dan dilaksanakan dengan baik untuk tahun ajaran mendatang.
Selain membahas dana BOS, Dame Ginda juga membahas rapat kerja dengan dewan guru, dan tenaga pendidik.
Dame Ginda, SS dalam rapat kerja mengatakan, bahwa tindak kekerasan fisik dalam bentuk apapun dilarang dilakukan di lingkungan sekolah. Apalagi itu jika dilakukan oknum guru.
"Jadi, dalam mengajar dan mendidik siswa tidak boleh adanya kekerasan fisik," kata Dame Jumat (31/10/2025).
Dame selalu mengingatkan ke dewan guru dan tenaga pendidik untuk tidak melakukan tindak kekerasan di lingkungan sekolah. Tindakan yang diberikan guru harus tindakan yang mendidik, dan jangan berupa fisik.
"Jangan memberikan sanksi bersifat fisik. Tapi beri sanksi administrasi atau panggil orangtua. Kekerasan fisik Itu sangat dilarang, kita imbau selalu guru dan tenaga pendidik untuk jangan menghukum fisik," jelas Dame.
Komite 1 Kualuh Selatan Agusman Tanjung, mengatakan kunci membangun SDM unggul ada di guru. Tidak ada pejabat, bupati, atau gubernur yang lahir tanpa jasa seorang guru.
Baca Juga: Ketua TP PKK Labura Hadiri Penutupan Sekolah Lansia di Damuli Pekan
Ia menuturkan pendidikan kini telah berubah jauh dibandingkan masa yang lalu. Jika dulu hukuman fisik dianggap wajar, kini pendekatan yang humanis dan penuh kasih sayang menjadi kunci keberhasilan dalam mendidik siswa.
"Dulu kita bangga kalau dipukul guru. Orang tua pun tidak marah. Tapi sekarang tidak boleh lagi. Didiklah siswa dengan kasih sayang. Banyak murid merasa hidupnya berubah karena disayangi oleh gurunya,” kata Agus.
Agusman Tanjung menegaskan pentingnya pendidikan karakter untuk membentuk generasi yang patriotik dan peduli terhadap bangsa.(gus)
Editor : Metro-Esa