MEDAN, METRODAILY –Sebanyak 40 persen siswa Indonesia masih berada di bawah standar literasi dan 60 persen gagal numerasi. Data itu mencuat dalam Focus Group Discussion (FGD) Literasi dan Numerasi (LitNum) bersama jurnalis mitra Tanoto Foundation di Medan, Rabu (27/8/2025).
Regional Lead Tanoto Foundation Regional Sumatra Utara, Medi Yusva, menegaskan bahwa intervensi pendidikan harus dimulai sejak dini agar kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia tidak tertinggal.
“Investasi terbaik ada pada tiga tahun pertama kehidupan anak. Berdasarkan riset James Heckman (2008), return of investment bisa mencapai 9,20 kali lipat. Itulah periode emas yang tak boleh disia-siakan,” jelas Medi.
Strategi Tanoto Foundation 2025-2030
Tanoto Foundation mengusung empat pilar dalam program regional Sumatra Utara periode 2025-2030, yakni:
- Advokasi kebijakan penguatan literasi dan numerasi,
- Peningkatan kapasitas guru dan tenaga pendidik,
- Riset dan studi berbasis data, serta
- Kemitraan daerah melalui MoU dan PKS di Kabupaten Karo, Batubara, Pakpak Bharat, Pasaman Barat, dan Kota Pematangsiantar.
Data University of Cambridge (2020) menunjukkan keterampilan literasi dan numerasi berpengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Di negara anggota OECD, kenaikan 1 persen kemampuan literasi berdampak pada kenaikan 3 persen PDB per kapita.
“Artinya, memperkuat literasi dan numerasi bukan hanya untuk pendidikan, tetapi juga investasi ekonomi jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045,” tambah Medi.
Indonesia masih menghadapi tantangan besar dengan 53 juta siswa, termasuk 24 juta (45%) siswa SD. Dari 3,4 juta guru, sebanyak 1,47 juta atau 44% adalah guru SD yang memegang peran penting dalam peningkatan kualitas dasar literasi dan numerasi.
“Kalau guru tidak diperkuat, jangan berharap anak bisa melompat jauh dalam prestasi,” tegas Medi. (mea)
Editor : Editor Satu