MEDAN, METRODAILY – Upaya peningkatan literasi dan numerasi di Sumatra Utara dinilai masih menghadapi tantangan besar.
Meski sebagian siswa sudah mampu membaca dan berhitung dasar, namun kemampuan memahami teks maupun soal numerasi masih rendah.
Hal itu mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Peningkatan Literasi dan Numerasi Sumatra Utara bersama jurnalis media mitra Tanoto Foundation di Medan, Kamis (29/8/2025).
Menurut Jepri Sipayung, Field Technical Specialist Tanoto Foundation, selama ini kebijakan pemerintah baru menekankan literasi dasar, seperti pengenalan huruf dan peningkatan minat baca, namun belum cukup mendorong kemampuan comprehension atau pemahaman bacaan.
“Anak memang bisa membaca, tapi apakah dia memahami isi teks? Ini yang masih jadi PR. Instruksi literasi di kelas perlu diarahkan ke comprehension, agar siswa tidak hanya learn to read, tapi juga read to learn,” jelas Jepri.
Tantangan di Lapangan
Data Rapor Pendidikan menunjukkan bahwa 83% siswa kelas 3 SD mampu membaca teks sederhana, tetapi hanya 61,5% siswa yang mampu menjawab soal numerasi dasar dengan benar.
Lebih dari separuh siswa kesulitan menjawab soal cerita dan menerapkan konsep matematika ke dunia nyata.
Kondisi ini diperburuk dengan minimnya kebijakan spesifik. Panduan literasi-numerasi bagi guru sebenarnya sudah diterbitkan Kemendikbudristek, namun implementasinya belum optimal.
Kepala sekolah pun belum banyak menyusun program khusus untuk numerasi, dan guru masih mengandalkan metode drilling tanpa konteks nyata.
Shifting ke Pemahaman
Dalam FGD tersebut, Tanoto Foundation menekankan pentingnya membangun ekosistem baru yang menempatkan literasi-numerasi bukan sekadar kemampuan mekanis, tetapi keterampilan berpikir kritis, bernalar, dan memahami teks/informasi.
“Kalau hanya membaca huruf, anak tidak siap belajar. Literasi fungsional adalah ketika anak bisa memahami informasi, merefleksi, dan menggunakannya dalam kehidupan nyata. Karena itu, kebijakan literasi dan numerasi harus bergeser ke arah comprehension,” tambah Jepri.
Dorongan Kebijakan
Tanoto Foundation bersama BPMP Sumut mendorong pemerintah daerah agar menyusun regulasi yang lebih spesifik untuk penguatan literasi dan numerasi.
Termasuk di antaranya menjadikan hasil Rapor Pendidikan sebagai dasar analisis kebijakan daerah, serta memasukkan indikator literasi-numerasi ke dalam rencana pembangunan pendidikan.
“Jika ekosistem literasi-numerasi ini diperkuat, maka target SDG 4, yaitu memastikan semua anak mencapai kompetensi minimum membaca dan matematika di kelas 3 dan 5, bisa lebih realistis dicapai,” tutup Jepri. (Mea)
Editor : Editor Satu