Sejak para guru mempraktekkan program pembelajaran aktif dari Tanoto Foundation, SD Hangtuah 1 Belawan masuk menjadi salahsatu sekolah barometer di Belawan. Hasil Olimpiade Sains Nasional belum lama ini, anak didik mereka meraih juara 1 IPA di Belawan. Sementara Matematika masuk 10 besar.
----------------------------
Dame Ambarita, Belawan
----------------------------
“Untuk wilayah Belawan, saat ini terus terang saja sekolah kita termasuk barometer sekolah unggulan dan hampir selalu masuk dalam daftar sekolah yang mendapat kunjungan dan kegiatan. Mulai dari Disdik, perusahaan, universitas, dan lainnya, sekolah kita hampir selalu ikut terpilih,” kata Pujiati, Kepala SD Hangtuah 1 Belawan.
Dua pekan lalu misalnya, PT Pelindo Belawan, sebuah perusahaan plat merah yang ada di Belawan datang ke sekolah mereka dan menyosialisasikan kegiatan pilah-pilih sampah kepada murid-murid. Murid-murid diajarkan untuk memilah dan mengumpulkan sampah plastik. Setelah terkumpul, tim dari EcoFriendly akan datang menimbang dan mengambil sampah plastik itu.
“Nantinya, berat timbangan sampah akan dicatat dan menjadi tabungan murid. Kalau sudah banyak, hasil tabungan dari sampah dapat dicairkan dan rencananya akan dibelikan berbagai peralatan untuk keperluan kelas. Misalnya untuk beli tong sampah dan lainnya yang dianggap perlu,” kata Pujiati.
Sampah plastik itu akan didaur ulang oleh EcoFriendly menjadi berbagai produk yang memiliki nilai tambah, seperti souvenir, plakat, dan lainnya. “Ini contoh plakat hasil daur ulang dari sampah plastik yang diambil dari perairan Belawan,” kata Pujiati, menunjukkan sebuah plakat EcoFriendly.
Selain dari perusahaan, ada juga kunjungan dari universitas, dari Disdik, dan sebagainya. Saat ada aksi tanam pohon di Kecamatan Medan Belawan, sekolah Hangtuah 1 ikut terpilih sebagai peserta. Juga saat ada kegiatan Cuci Tangan Sedunia, sekolah mereka ikut diundang sebagai peserta.
Dalam setiap kegiatan yang melibatkan pihak luar tersebut, aksi dan reaksi murid-murid Hangtuah 1 terlihat tangkas dan aktif, dibanding anak-anak sekolah swasta lainnya. “Hampir di setiap acara atau kunjungan, anak-anak didik kita tampil aktif. Mereka mendengarkan penjelasan dengan cermat, dan sigap menjawap pertanyaan. Mereka bahkan berebut tunjuk tangan jika disuruh maju ke depan,” katanya bangga.
Kemudian dalam OSN belum lama ini, murid dari sekolahnya yakni Yolavia Simorangkir, meraih juara Juara 1 IPA tingkat kecamatan. Sedangkan Manuel El Derrent Pasaribu masuk 10 besar OSN Matematika.
Guru dari sekolahnya juga masuk sebagai salahsatu guru pembuat soal ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer.
Di atas semua itu, rapor pendidikan sekolah juga naik. Dulu rating sekolah hanya rata-rata. “Alhamdulillah, rapor pendidikan dari sebelumnya rata-rata hanya 40-50, kini menjadi 70 hingga 90. Terima kasih untuk pendampingan dari Tanoto,” kata Pujiati.
Selain akademis, Pujiati menyebut dirinya selalu menekankan pembangunan karakter kepada anak-anak didiknya. “Saya sebagai kepala sekolah selalu menanamkan jiwa dan karakter yang baik kepada anak didik. Misalnya, tidak boleh membully dan mengejek teman. Selalu sopan santun dan nomorsatukan budi pekerti dari segalanya,” katanya.
Gebrakan-gebrakan di sekolah yang rutin digelar, juga dianggap berhasil meraih kembali kepercayaan masyarakat. Misalnya kegiatan pentas seni yang rutin dihadiri murid Taman Kanak-kanak yang berdekatan dengan sekolah. Kemudian ada ekstrakurikuler tari, futsal, tafiz, pendalaman Alkitab, MIPA, dan sempoa.
Pelajaran di sekolah ini berlangsung mulai Senin-Sabtu, di mana Senin pulang jam 12.30 WIB, Selasa dan Rabu 12.40 WIB, Kamis 12.50 WIB, Jumat dan Sabtu 12.40 WIB.
Ketua Yayasan Hang Tuah Belawan, Erwin Narto, mengakui sejak para guru dan kepala sekolah SD Hang Tuah 1 dan 2 mendapat pelatihan dari Tanoto Foundation, kemampuan guru mengajar relatif meningkat dan pendidikan anak-anak lebih terarah. “Itu saya lihat langsung secara garis besarnya. Guru dan sekolah merasakan manfaat yang sangat besar untuk kemajuan pembelajaran siswa,” katanya.
Selain kelebihan, apakah ada kelemahan pelatihan yang dirasakan?
Menurut Erwin, kelemahannya hanya satu. Yakni saat beberapa guru ikut pelatihan Tanoto, otomatis kelasnya kosong tidak ada yang mengajar. “Nah, kasek dan yayasan harus berpikir cara mengatur jadwal guru agar proses belajar mengajar tetap berlangsung di kelasnya,” katanya.
Selebihnya, menurutnya hanyalah hal positif. Di mana, guru-gurunya menjadi pintar mengajar, bahkan jadi lulus PPPK untuk mengajar generasi muda bangsa.
Ia mengaku, SD Hangtuah 1 masih tetap eksis meski banyak persaingan dengan munculnya banyak sekolah baru. “Prestasi bisa dipertahankan meski kadang ada redupnya. Kami berharap, pihak Tanoto tetap melanjutkan pendampingan ke kedua sekolah kami dan member update, karena dunia pendidikan ini kan tidak statis, melainkan terus berkembang,” katanya. (mea/bersambung)
Editor : Editor Satu