Sejak didampingi Tanoto Foundation tahun 2019, kualitas pembelajaran di SD Swasta Hangtuah 1 Medan Belawan, meningkat cukup baik. Guru-guru di sekolah yang berkali-kali kena banjir rob itu mengaku, mereka selangkah lebih update soal materi dan penerapan pembelajaran aktif.
----------------------------
Dame Ambarita, Belawan
----------------------------
Dibanding peserta didik sekolah swasta lainnya di Belawan, peserta didik di SD Hangtuah 1 Belawan dirasakan lebih aktif dan antusias belajar.
Lantas, apa yang berbeda dari pelatihan metode pembelajaran aktif Program Pintar Tanoto Foundation?
“Saya di sini mengajar sudah 5 tahun. Di awal, saya tidak mengikuti pelatihan Tanoto secara langsung. Tapi taulah kisi-kisi pelatihannya. Awalnya itu, guru diajari membuat pojok baca di kelas. Soalnya, saat itu literasi anak didik dianggap masih rendah,” kata Andre Daniel Sitinjak, wali kelas 6 A SD Hangtuah 1 Belawan.
Pelatihan berlanjut ke materi-materi metode mengajar. Misalnya guru diajari soal trik-trik agar anak didik antusias belajar dan lebih cepat mengerti. Konsepnya adalah pembelajaran yang interaktif. Untuk merangsang minat peserta didik, guru diminta memberi pertanyaan pemantik.
“Kami juga diajari bikin ice breaking. Dan banyak materi pembelajaran lainnya. Dibandingkan dengan pembelajaran di bangku kuliah di mana kita lebih banyak difokuskan mengejar penyampaian materi ajar, menurutku pelatihan dari Tanoto itu lebih terarah. Lebih sempurnalah,” kata Andre sembari tertawa.
Dalam pembelajaran aktif yang diajarkan Tanoto, menurutnya, guru diminta agar lebih fokus pada kebutuhan anak didik. “Kami diminta memperhatikan kebutuhan anak didik dan menyesuaikan metode yang cocok dengan kondisi si anak,” kata Andre.
Hasil praktek pembelajaran aktif itu, diakuinya, terjadi peningkatan kualitas pendidikan. Tetapi belum merata karena kemampuan anak-anak tidak sama. Durasi jam pembelajaran yang tidak terlalu panjang juga mempengaruhi pemerataan pemahaman itu. “Kadang waktunya nggak terkejar untuk menjelaskan materi pelajaran agar dipahami seluruh kelas. Soalnya pelajaran berikutnya sudah menunggu,” katanya.
Senada, Dian Nurdiani, wali kelas 5A SD Hangtuah 1 Belawan, juga memuji pelatihan dari Tanoto. “Ya, jujur pelatihan dari Tanoto itu sangat bermanfaat dalam meningkatkan mutu pembelajaran dalam kelas. Kami dapat ilmu tentang cara mengajar yang lebih menarik,” kata Dian.
Misalnya, pihak Tanoto Foundation mengajarkan guru untuk membuat lembar kerja peserta didik (LKPD). Yaitu bahan ajar berupa lembar-lembar kertas berisi materi, ringkasan, dan petunjuk untuk menyelesaikan tugas pembelajaran.
“Sebelum dilatih Tanoto, kami belum pernah menerapkan LKPD ini dalam pembelajaran. Dalam proses mengajar, kami diminta membagi anak dalam kelompok atau grouping. Murid unggul digabung dengan murid yang kurang unggul, agar terjadi saling pembelajaran. Istilahnya tutor sebaya atau peer teaching. Jadi kawan yang lebih pintar bisa langsung mengajari temannya,” kata Dian.
LKPD ini juga bisa dikembangkan sendiri oleh guru kelas. Lewat LKPD, guru bisa langsung mengetahui tingkat pemahaman anak-anak atas materi yang disampaikan. Selain itu, guru juga diajarkan cara membuat media berupa poster-poster pembelajaran, untuk membuat anak didik tertarik dan lebih mudah mengerti materi pelajaran.
“Pelatihan dari Tanoto itu bagus dan selalu lebih awal dibanding pelatihan dari Disdik. Jadi sewaktu ada undangan pelatihan dari Disdik, kami para guru di sekolah ini sudah duluan tau. Bahkan materi pelatihan Tanoto lebih lengkap. Istilahnya, pelatihan dari Tanoto selangkah lebih maju. Jadi kami guru di sini pun selangkah lebih update dibanding guru lainlah,” tambah Muhammad Fikri Ramadhan, wali kelas 5B.
Untuk meningkatkan rapor literasi di sekolah mereka yang sempat menurun, dalam rapat guru beberapa waktu lalu disepakati untuk menggelar kelas literasi di jam pertama setiap hari Selasa. Seluruh anak dari kelas rendah hingga kelas tinggi berkumpul di aula. Anak didik diminta membaca buku yang dibawa dari rumah masing-masing. Tujuannya meningkatkan minat baca anak-anak.
“Usai membaca, kami para guru bertanya apa isi buku yang dibaca. Awal praktek literasi itu, anak-anak murid agak malu-malu tunjuk tangan. Kebanyakan diam. Harus ditunjuk 2-3 orang agar bersedia maju ke depan untuk menjelaskan pemahamannya tentang isi buku yang dibaca,” kata Fikri Ramadan.
Setelah praktek beberapa bulan, sekarang anak-anak berlomba untuk ditunjuk maju ke depan. “Ada perubahanlah. Dulu ditanya, diam. Sekarang berebut tunjuk tangan dan maju ke depan. Mereka juga lebih lancar menjelaskan isi buku, tidak lagi terbata-bata seperti awal. Lebih berani tampil di depan umum,” kata Fikri.
Keberanian siswa untuk aktif menjawab dan maju ke depan dinilai meningkat 80 persen. Literasinya juga meningkat sejak praktek membaca buku bersama di aula. Bahkan meski orang luar yang datang, misalnya mahasiswa praktek ke sekolah itu, murid-murid SD Hangtuah 1 rata-rata aktif dan sigap menjawab pertanyaan. “Hampir setiap kelas berani. Cuma pastinya selalu ada siswa yang lebih menonjol dari yang lain,” cetusnya.
Ia juga menilai pendampingan dari Tanoto Foundation merangsang guru untuk lebih berkreasi mengajar.
Kembali ke Pujiati, ia mendapat pelatihan manajemen sekolah. Sebagai kepala sekolah, ia diharapkan mengelola keuangan sekolah secara transparan, melakukan supervisi ke kelas-kelas. Ia juga diharapkan mendorong guru-guru yang ikut pelatihan untuk melakukan pengimbasan kepada rekan guru lainnya.
“Misalnya ada guru yang baru selesai pelatihan. Sebagai kasek, saya mengajak si guru menerangkan materi yang diperolehnya di pelatihan, agar guru-guru lainnya juga mendapatkan pengetahuan yang sama,” katanya.
Ia juga berupaya merangkul orangtua siswa ikut serta dalam proses pengajaran a nak di rumah. Karena lingkungan di rumah juga sangat membantu proses pembelajaran seorang anak.
“Kemarin saya tanya ke beberapa orangtua siswa, bagaimana ia melihat hasil pembelajaran anaknya selama sekolah di sini. Alhamdulillah, si orang tua itu bilang, sekarang jauh beda dengan yang dulu. Sekarang, guru-guru sekolah lebih membawa anak-anak ke suasana berteman. Jadi guru tidak bersikap: aku guru loh, kamu wajib dengarkan aku. Katanya, para guru terlihat seperti sahabat para anak,” katanya menirukan perkataan si orangtua.
Orangtua lainnya mengatakan, anaknya dulu sering malas pergi sekolah saat ada pelajaran Matematika. Belakangan ini tidak malas lagi. “Kata mereka, kalau dibangunkan untuk pergi sekolah, anaknya tampak senang-senang saja dan tidak lagi malas. Lantas mereka bertanya, apa yang kami lakukan kok anak mereka jadi senang sekolah?” kata Pujiati sambil tertawa lebar.
Ia mengaku terus berupaya melibatkan orangtua dalam beberapa pertemuan di sekolah, untuk mendukung pembelajaran anak. Adapun pekerjaan orang tua murid di SD Hangtuah 1 Belawan rata-rata wiraswasta. Sebagian nelayan, dan sebagian lagi pegawai perusahaan.
Membuktikan pembelajaran aktif di sekolahnya, Pujiati sempat mengajak sejumlah murid yang belum pulang, untuk praktek pembelajaran aktif di dalam kelas. Ia memulai dengan ice breaking. “Semangat pagi!”
“Pagi, pagi, pagi, luar biasa, tetap semangat!” jawab anak-anak itu fasih sambil mengepalkan tangan.
“Pelajaran apa yang baru diajarkan bu guru tadi?” tanyanya.
“Matematika!”
“Soal apa?”
“Pecahan”
“Apa yang dibawa guru sebagai contoh?”
“Gambar semangka.”
“Trus, gambar semangkanya diapain?”
“Dipotong-potong jadi delapan.”
“Kalau pecahan semangkanya dibagi dua potong per orang, berapa pecahannya?
“Dua per delapan!”
Murid juga ditanya apa saja yang diajarkan guru dalam Pelajaran PPKN? Anak-anak menjawab, mereka diberi tugas mencatat apa saja aturan di rumah masing-masing. Kemudian catatan daftar aturan itu diserahkan ke guru.
Pada pelajaran SPDB, anak-anak mengaku disuruh membawa pewarna makanan. “Warna-warna itu digosok pakai sisir, dikeringkan, lalu muncul warnanya,” kata anak-anak.
Mereka mengaku lebih suka pembelajaran seperti itu, karena lebih cepat mengerti. “Saya suka pelajaran menggambar. Karena ada praktek mencampur warna-warna,” kata Risky Mertoedi, siswa kelas 5A menjawab pertanyaan.
Murid lainnya, seperti Alexander kelas 4B, Delima kelas 5B, Kezia kelas 4 B, Rasya Pranata kelas 5B, Arif Utama kelas 5B, Alexander kelas 4B, Delima $B, Kezia 4 B. Rasya Pranata dari kelas 5B, Arif Utama dari kelas 5B, ada yang senang menggambar, ada yang senang IPA, SPDB, PPKN, atau Matematika.
Saat ditanya, mereka juga mengaku lebih senang guru mengajar sambil berdiri daripada duduk. “Suka juga kalau guru membuat kuis,” kata mereka menjawab pertanyaan. (mea/bersambung)
Editor : Editor Satu