BATU BARA, METRODAILY – Proyek Fasda Perubahan Tanoto Foundation 2.0 untuk Kabupaten Karo dan Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, tahun ini sudah selesai digelar. Fasda di kedua daerah sudah sama-sama menunjukkan hasil proyek. Tinggal selebrasi proyek akhir bulan ini. Tim Tanoto Foundation yang melakukan monitoring menunjukkan rasa puas.
“Proyek Fasda di kedua daerah ini berbeda dalam hal skala dan sasaran projek. Dua proyek Fasda di Karo masuk skala large (besar, red) dan dua proyek Fasda di Batu Bara masuk skala medium. Nominal pembiayaan tergantung pada proses pelaksanaan maupun sasaran. Tetapi secara output, proyek Fasda di kedua daerah sama-sama menunjukkan hasil sesuai ekspektasi,” kata Mesri Yanti Gultom, Facilitator Program Management Unit Tanoto Foundation dan Felly Ardan, Coord. Program Mangement Unit Tanoto Foundation, di sela-sela monitoring ke Batu Bara belum lama ini.
Tim Tanoto Foundation yang melakukan monitoring Batu Bara yakni Felly Ardan, Mesri Yanti Gultom, Mutazar (Media & Communications Coordinator), didampingi Litha Purwanti (MLE Program Lead) dan Agata Sofia (Basic Education Specialist).
Proyek Fasda di Karo, jelas Mesri, menawarkan sesuatu yang baru dalam merancang proses pembelajaran untuk meningkatkan literasi dan numerasi di Karo. Tingkat kompetensi guru ditargetkan lebih dalam. Istilah Mesri, layer cake-nya lebih dalam.
“Pendekatannya berbeda. Karo masuk kategori large karena seluruh tahapan mulai perencanaan sampai evaluasi, durasinya lebih panjang, peserta lebih banyak, dan outputnya lebih besar. Di Karo, proyeknya lebih inovatif, memiliki nilai kebaruan yang lebih tinggi, dan lebih banyak intervensi. Ada workshop, ada pendampingan, ada uji coba, penyusunan scenario, observer, dan ada show case untuk produk yang dihasilkan,” jelas Mesri.
Proses proyek di Karo berlangsung hingga tahap lesson study peer teaching, yaitu guru saling mengoreksi bagaimana cara mengajar yang baik. “Praktek yang sudah diujicoba dibahas, diperbaiki, hingga tercapai apa yang ditargetkan dalam proyek,” cetusnya.
Sementara proyek Fasda di Batu Bara, nominal pembiayaan lebih sedikit, dengan durasi lebih pendek, output kategori sedang, dan interaksinya hanya antara Fasda dengan kepala sekolah dan guru. Mulai dari pelatihan dan mentoring agar semua guru mengalami dan bisa mengidentifikasi materi pelajaran yang paling sulit diajari. Hingga kemudian para guru dapat menciptakan media pembelajaran yang bisa dipakai dalam kegiatan di kelas.
“Di Batu Bara juga ada show case. Dalam show case itu, berlangsung transfer inspirasi media, yakni media yang dihasilkan bisa dipakai dan ditiru guru lain untuk materi pelajaran yang berbeda. Selanjutnya, para guru diharapkan melakukan penularan di sekolah masing-masing,” katanya.
Sebelumnya, dua Fasda di Karo menghasilkan proyek peningkatan numerasi. Tim Prabu menghasilkan proyek gamifikasi, sedangkan Tim Fasda Karo Maju merancang metode mengintegrasikan literasi numerasi di mata pelajaran (mapel) lain.
Sedangkan di Batu Bara, Tim Fasda Guru Bisa menghasilkan kelompok guru yang mampu mengembangkan media sederhana berbasis lingkungan untuk penguatan numerasi di Sekolah Dasar (SD). Sedangkan Tim Fasda Lentera berhasil mengkompilasi soal-soal literasi dan numerasi ala ANBK, yang diciptakan oleh para guru peserta pelatihan, dalam bentuk bank soal. “Bank soal yang mereka hasilkan bisa dipakai sebagai bahan drill untuk ANBK nantinya,” kata Mesri.
Diharapkan, seluruh hasil proyek di kedua kabupaten ini bisa masuk modul pembelajaran, setelah tahap ujicoba berhasil lewat praktek di kelas.
“Mengapa Fasda Tanoto Foundation menekankan peningkatan numerasi? Karena rapor pendidikan menunjukkan nilai numerasi kita masih banyak yang rendah. Fasda menganggap anak-anak perlu belajar meng-elaborate angka ke dalam kehidupan sehari-hari,” cetusnya.
Litha Purwanti, MLE Program Lead Tanoto Foundation yang ikut melakukan observasi, menyampaikan rasa salutnya dengan para peserta yang seluruhnya mau mencoba membuat karya yang diminta. Misalnya. menciptakan media pembelajaran numerasi sesuai proyek Tim Guru Bisa, atau membuat soal-soal narasi literasi numerasi ala ANBK sesuai proyek Tim Lentera.
“Salut sih, guru-gurunya semua mau mencoba membuat produk. Tidak ada yang mengeluh ikut pelatihan dari pagi hingga sore. Soal produk yang dihasilkan langsung cocok atau tidak, ini menjadi PR berikutnya,” kata Litha.
Ia melihat, motivasi dan antusias Tim Fasda serta para guru peserta pelatihan untuk belajar terlihat serius dan tidak main-main. “Sangat optimal. Pengen tau juga apa tips dari Tim Fasda membuat para guru termotivasi,” katanya penasaran.
Litha menilai, Tim Fasda yang anggotanya memang merasakan seluruh pelatihan dan berjuang dari nol, dapat menjadi role model yang sangat baik bagi para guru lainnya. “Tim Fasda mampu menjadi influencer sesama guru. Ini yang saya lihat,” katanya.
Senada, Agata Sofia, Basic Education Specialist Tanoto Foundation yang ikut observasi, juga mengatakan, proyek Fasda Batu Bara melebihi ekspektasi. “Sebelum ikut panen karya, saya lihat para peserta sudah punya bekal dan value untuk dibagi. Mereka semangat mau menambah pengalaman. Ada visi di hati mereka yang ingin semakin baik mengajar di sekolah masing-masing,” katanya.
Mesri Gultom mengatakan, akhir tahun akan ada penilaian projek Fasda Tanoto Foundation se Indonesia. “Satu tim yang dinilai paling istimewa tiap provinsi, rencananya akan diundang ke Jakarta,” katanya.
Ditanya rencana proyek Fasda tahun 2025, Mesri belum bisa memastikan. Tetapi menurutnya, ada peluang proyek Fasda masuk new level ke Tingkat SMP. (dame)
Editor : Editor Satu