Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Guru SD: Bikin Soal Numerasi Itu Menguras Otak, Apalagi Soal Level 3

Editor Satu • Senin, 18 November 2024 | 09:00 WIB
Beta Erwina Panggabean, guru kelas 4 dan 5 di SDN 13 Pasar Lapas, Desa Pasar Lapan, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara, di sela-sela workshop peningkatan kompetensi guru.
Beta Erwina Panggabean, guru kelas 4 dan 5 di SDN 13 Pasar Lapas, Desa Pasar Lapan, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara, di sela-sela workshop peningkatan kompetensi guru.

BATU BARA, METRODAILY – Kompetensi guru membuat soal narasi literasi numerasi yang mengandung konten, konteks, dan kognitif, masih perlu ditingkatkan. Hal itu diakui Beta Erwina Panggabean, guru kelas 4 dan 5 di SDN 13 Pasar Lapas, Desa Pasar Lapan, Kecamatan Air Putih, Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara.

“Membuat soal narasi numerasi itu ternyata tidak segampang yang saya pikirkan. Menyelesaikan satu soal saja perlu proses dan penalaran yang tinggi,” kata Beta Erwina, saat ditemui di sela-sela workshop peningkatan kompetensi guru melalui pembuatan soal berbasis AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) pada jenjang SD di Batu Bara, belum lama ini.

Ia mengaku senang ikut pelatihan dan pendampingan pembuatan soal berbasis AKM, yang diselenggarakan Tim Lentera Fasda Perubahan Tanoto Foundation.

“Sejak ikut pelatihan kompetensi membuat soal literasi dan numerasi yang digelar Tim Lentera Fasda Perubahan, wawasan saya dan kawan-kawan dalam membuat soal jadi lebih terbuka. Sekarang sudah lebih paham, tetapi belum tahap baik,” katanya.

Ia mengungkapkan, pada awal pelatihan, para guru ikut pretest berupa kuis soal ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer) yang digelar Tim Lentera secara offline pada Agustus lalu sekaligus pemaparan tujuan dan manfaat program.

Setelah itu, bulan September digelar pelatihan cara membuat soal mirip soal ANBK secara zoom. Tim Lentera Fasda saat itu menjelaskan, pembuatan soal harus mengandung konten, konteks, dan kognitif. “Kami diminta membuat 6 soal per orang. Tiga soal literasi dan tiga soal numerasi. Soal tidak boleh plagiat, tidak meniru, dan tidak menyontek,” katanya.

Selanjutnya, guru secara mandiri praktek membuat soal. Setelah soal disetor ke tim, anggota Tim Lentera melakukan review.

“Ternyata, soal yang kami buat kebanyakan masih level 1, yaitu level mudah dan hanya berisi apa yang terlihat oleh mata. Mungkin hanya beberapa soal saja yang level dua, yaitu sudah ada unsur mengapa yang membutuhkan pemecahan masalah. Sama sekali tidak ada soal yang level 3, yakni soal yang teksnya betul-betul harus dinalar dan dipahami anak didik, karena pertanyaan dan jawaban tidak tertulis di teks,” kata Beta.

Boru Butarbutar (kiri) seorang guru SD di Batu Bara, didapuk menjadi role model praktek pembelajaran soal berbasis AKM (Assesmen Kompetensi Minimum).
Boru Butarbutar (kiri) seorang guru SD di Batu Bara, didapuk menjadi role model praktek pembelajaran soal berbasis AKM (Assesmen Kompetensi Minimum).

Tim Lentera mengembalikan soal ke para guru disertai catatan permintaan revisi agar soal memenuhi syarat level 2. Tim juga meminta guru mengujicoba pembelajaran di kelas masing-masing berbasis soal yang sudah dibuat, agar guru paham apakah soal yang dibuatnya layak atau tidak.

Selain membuat soal dan mengajarkannya, guru juga diminta membuat media peraga agar pembelajaran lebih menarik dan mudah dimengerti. Media boleh berupa video, buku, gambar, dan berbagai bentuk stimulus lainnya.

Di saat praktek itulah, Beta menyadari bahwa pembelajaran yang baik dan menyenangkan sesuai soal yang mengandung konten, konteks, dan kognitif itu, perlu persiapan yang matang.

“Intinya, lewat pelatihan ini, pengetahuan, ilmu, dan pengalaman kami bertambah. Kami jadi sadar bahwa soal ANBK selama ini jauh dari yang biasa kami ajarkan di kelas," ungkapnya.

Ia juga menemukan bahwa anak didik ternyata lebih antusias, senang, dan tertarik belajar dengan adanya media pembelajaran.

Beta mengakui, saat ini dirinya sudah paham sekitar 80 persen cara membuat soal level 2. Tetapi untuk level 3, ia masih membutuhkan kompetensi lanjutan. Karena membuat soal level 3, menurutnya, membutuhkan kecerdasan dan penalaran yang tinggi. Sementara target Tim Lentera adalah agar para guru mampu membuat soal level 3 tanpa plagiat.

"Menurut saya, membuat soal level 3 itu cukup menguras otak. Saya jadi kagum pada para pembuat soal ANBK. Hebat betul mereka! Bahkan guru saja kewalahan menjawab soal yang mereka buat," katanya serius.

Mengaku sangat termotivasi untuk terus belajar agar naik tingkat ke level 3, Beta berniat akan terus belajar lewat pelatihan, buku, bahkan saluran YouTube, agar dirinya bisa membuat soal level 3 berbasis penalaran dan bisa menularkan ilmu ke anak didik dan para guru lainnya di Batu Bara. "Tentunya berkomunikasi dulu dengan kepala sekolah, sebelum berbagi ke rekan sejawat," cetusnya.

Baca Juga: Inilah Media Pembelajaran Unggulan Numerasi dari Batu Bara

Tim Lentera: Tim Lentera Fasda Perubahan Tanoto Foundation di Batu Bara, diketuai Arief Mahdian (kanan).
Tim Lentera: Tim Lentera Fasda Perubahan Tanoto Foundation di Batu Bara, diketuai Arief Mahdian (kanan).

Saat workshop peningkatan kompetensi guru yang digelar Tim Lentera, seorang guru SD didapuk menjadi role model praktek pembelajaran soal berbasis AKM (Assesmen Kompetensi Minimum).

Ibu guru Fenny Meluda Manurung membuat soal IPA mengenai siklus air di bumi. Dan ia praktek mengajar tentang siklus air tersebut menggunakan video, kemudian air panas untuk praktek penguapan, berikut gelas, dan tutupnya.

Siswa (diwakili para guru) belajar literasi dan numerasi dengan cara memahami siklus air, menghitung volume air, menghitung suhu yang dibutuhkan, volume penguapan, dan seterusnya.

"Dengan role model mengajar ini, para guru diharapkan semakin paham tentang pembuatan soal berbasis AKM," kata Arief Mahdian, Ketua Tim Lentera.

Para guru juga diharapkan menularkan ilmunya pada guru di sekolah masing-masing. "Pelatihan yang diimplementasikan adalah yang terbaik," katanya.

Mesri Gultom, Facilitator Program Management Unit Tanoto Foundation, mengatakan muara seluruh kegiatan Tim Lentera adalah adanya perubahan proses pembelajaran di dalam kelas. "Guru makin kompeten dalam membuat soal dan mengajarkannya, kemampuan siswa dalam hal numerasi dan literasi juga meningkat," tutupnya. (Dame)

Editor : Editor Satu
#Fasda Perubahan #Literasi numerasi #tanoto foundation #soal anbk