BATU BARA, METRODAILY – Hasil ANBK (Asesmen Nasional Berbasis Komputer) di UPT SD Negeri 13 Kuala Tanjung, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batubara, Sumatera Utara, selama ini tergolong rendah. Mencermati kondisi itu, Fasda Perubahan Tim Guru Bisa mengundang guru dari sekolah ini ikut pelatihan mengembangkan media pembelajaran berbasis lingkungan di Batu Bara.
“Ini ada 4 media pembelajaran dari sekolah kami. Kami ada 4 guru yang ikut pelatihan, dan sudah mempraktekkan media yang kami buat di kelas masing-masing. Semua untuk penguatan numerasi yang selama ini masih rendah,” kata Puji Astuti, guru kelas 4 UPT SD Negeri 13 Kuala Tanjung, di sela-sela panen karya media pembelajaran yang digelar Fasda Perubahan Tim Guru Bisa Tanoto Foundation di Batu Bara, belum lama ini.
Ia didampingi guru lainnya, yakni Mei Sei Lina guru kelas 1, Desi Anggraini guru kelas 1, dan Lestari guru kelas 4.
Sembari menunjukkan hasil karyanya berjudul PADI (Papan Diagram), Puji Astuti menjelaskan media PADI itu dipraktekkan untuk anak didik kelas 4 SD, untuk pelajaran Matematika materi pengolahan data.
Bahan yang dibutuhkan adalah kardus, plastik asoy, benang, tuspin warna, kertas manila, kalender bekas, dan aqua cup. Awalnya. guru membentuk kotak dadu dari kalender bekas. Dadu bermata enam itu digambar 6 jenis buah-buahan.
Medianya sendiri dibentuk dari kardus yang ditempel kertas manila seperti bentuk meja rias. Satu kota seperti meja, dan satu papan seperti tempat kaca meja rias. Di papan disediakan kolom lurus dengan angka di sisi kiri dan nama buah di sisi bawah. Ini untuk memudahkan anak didik mengolah data peluang matematika.
“Siswa kelas saya ada 24 orang. Semuanya diberi kesempatan melempar dadu. Lantas angka lemparan ditulis di kolom tabel yang saya sediakan di atas meja. Dalam 24 kali melempar dadu, anak didik akan mencatat berapa kali kemungkinan nama buah tertentu muncul di dadu,” jelas Puji Astuti.
Setelah seluruh data hasil lemparan dadu dicatat, lantas masing-masing dijumlahkan. Misalnya pisang berapa kali muncul, apel berapa kali muncul, anggur berapa kali muncul, dan seterusnya.
Selanjutnya, peserta didik memotong kertas manila setinggi angka yang diperoleh setiap jenis buah, dan menempelnya di diagram. Nanti setelah seluruh data masuk ke papan diagram, hasilnya akan terlihat diagram batang.
Kemudian, peserta didik menusuk tuspin di angka hasil penjumlahan dan menarik benang bersambung ke atas setiap diagram batang. Hasilnya akan terbentuk gambar diagram garis.
“Dengan praktek lempar dadu ini, murid ditargetkan lebih memahami penjumlahan, peluang, dan cara membuat diagram batang dan diagram baris,” kata Puji Astuti seraya tersenyum manis.
Soal yang diciptakan dalam media pembelajaran lempar dadu ini bisa divariasikan, sehingga setiap anak bisa praktek ke depan berpartisipasi membuat diagram.
Media pembelajaran berikutnya masih dari SD Negeri 13 Kuala Tanjung berjudul TAPEDE (Tabung Penjumlahan Bilangan Desimal). Media ini dikembangkan oleh Lestari, guru kelas 4 SDN 13. Bahannya kardus, kaleng susu bekas, botol aqua, pipet, dan aqua cup.
“Media pembelajaran ini untuk mengetahui nilai tempat. Jadi di kaleng susu saya pasang nilai tempat berupa bilangan satuan, puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya,” kata Lestari mengawali penjelasan.
Misalnya berapakah jumlah bilangan desimal 24,5 ditambah 3,5?
Awalnya, anak didik diajari cara menghitung dengan mensejajarkan titik desimal secara vertikal. Isi angka 0 jika perlu. Tambahkan atau kurangi angka-angka seolah-olah merupakan bilangan bulat. Kemudian letakkan titik desimal dalam penjumlahan atau pengurangan sehingga sejajar vertikal dengan angka yang akan ditambahkan atau dikurangi.
Hasilnya adalah 28.
Kemudian lewat media pembelajaran TAPEDE ini, anak-anak diajarkan menunjukkan pemahamannya tentang nilai tempat, dengan cara menggeser pipet ke tabung susu sesuai hasil penjumlahan. Misalnya, anak didik harus memindahkan 8 pipet ke tabung satuan. Dan ke tabung puluhan dipindahkan 2 pipet. Maksimal 9 pipet.
“Ini sangat memudahkan murid memahami nilai tempat dengan sederhana, setelah sebelumnya memahami penjumlahan bilangan decimal,” kata Lestari.
Penjumlahan bisa mencapai angka ribuan, puluhan ribu, bahkan ratusan ribu. “Kita tinggal menyesuaikan saja. Nanti pipetnya bisa diwarnai berbeda untuk angka yang lebih besar,” cetus Lestari.
Praktek media pembelajaran TAPEDE di kelasnya, diakui membuat anak didik lebih antusias belajar karena lebih aktif dan menyenangkan. Serta lebih mudah memahami nilai tempat. “Mereka bilang: ‘Bu, besok bikin media apalagi? Bikin kek gini terus ya bu!’ gitu respon anak-anak,” ungkap Lestari, manis.
Sebenarnya, ada 4 media pembelajaran yang diciptakan keempat guru dari SDN 13 Kuala Tanjung. Dua lainnya diberi judul Tutup Botol Pintar dan Congklang Bikel (Biji Kelengkeng).
Tetapi karena 1 media lagi sedang diikutkan pameran di Kemendikbud, dan seorang guru lagi tidak membawa media yang diciptakannya, alhasil hanya 2 media pembelajaran yang ditampilkan dalam Panen Karya Pengembangan Media Berbasis Sumber Daya Lingkungan untuk Memfasilitasi Pembelajaran Berorientasi pada Penguatan Numerasi di Sekolah Dasar (SD).
Setelah mempraktekkan seluruh media pembelajaran penguatan numerasi di sekolah, keempat guru ini berharap hasil ANBK di sekolah mereka bisa membaik.
Keseluruhan ada sekitar 30-an media pembelajaran penguatan numerasi yang dipamerkan dalam panen karya di aula rumah Dinas Bupati Batu Bara, belum lama ini. Media-media itu diberi judul antara lain Tapede (tabung penjumlahan desimal), Tangga Pintar, Papan M3 (Mean Media Modus), Pizza Puzzle, Papan Statistik, Pantikkam SUT, Tabung Ajaib, Papan Musi (Multi Fungsi), KPK dan FPB, Jam Pecahan, Bilangan Bulat, Misteri Bingkai Pecahan.
Kemudian Pagipit (Papan Pembagian Kantong Ajaib), Papan Walti, Papan Kapurku , Papan Kesetaraan, Pecahan Uang Rupiahku, Amber (Amplop Berpikir), Papan Pengurangan, Papan Perkalian, Papan Pecahan, Warung Kejujuran, Panipat (Papan Nilai Tempat), dan lainnya.
Adapun pelatihan dan pendampingan yang dilakukan Fasda Perubahan Tanoto Foundation terhadap 50 guru di Batu Bara, menurut ketua Tim Guru Bisa, Juni Hariyanto, diharapkan membuat guru memiliki pemahaman mengenai manfaat media numerasi. “Kemudian mampu menciptakan media numerasi menggunakan lingkungan sekitarnya. Dan pada akhirnya mampu meningkatkan rapor numerasi di sekolah mitra Tanoto Foundation,” katanya
Mesri Gultom selaku Facilitator Program Management Unit Tanoto Foundation mengatakan, projek Fasda Perubahan diharapkan bisa memiliki perjalanan yang panjang. “Yang perlu dihighlight dalam proyek ini adalah meningkatkan numerasi. Setelah proyek ini berhasil, tahun depan kita harapkan lebih dari 13 sekolah dasar bisa melakukan praktek serupa dengan bantuan APBD. Karena kemampuan Tanoto Foundation juga terbatas,” katanya.
Kepada para guru yang telah mengembangkan media pembelajaran berbasis numerasi, Mesri menekankan, tetaplah dipraktekkan di ruang kelas agar bermanfaat. “Praktek seperti ini diharapkan terus berkelanjutan dan diimbaskan ke sesama guru di sekolah masing-masing maupun di KKG (Kelompok Kerja Guru), menjadi inspirasi guru mengajar,” katanya.
Kepala sekolah juga diharapkan bisa menganggarkan biaya media pembelajaran di Renstra Sekolah. “Akhir kata, tetaplah berkarya dan meningkatkan pembelajaran di Batu Bara,” tutupnya. (mea)
Editor : Editor Satu