BATU BARA, METRODAILY – Sebanyak 50 guru Sekolah Dasar dari 13 sekolah di Batu Bara, dengan bangga berdiri di depan media pembelajaran berbasis lingkungan yang mereka kembangkan, saat panen karya di Batu Bara pertengahan pekan lalu. Dengan antusias, mereka siap menjawab pertanyaan seputar cara kerja media yang mereka pilih sebagai pembelajaran aktif menyenangkan.
“Media ini kami namai Panipat, yaitu papan nilai tempat. Media ini salah satu yang terpilih dari Batu Bara untuk dipamerkan dalam stand pameran Kemendikbud bulan Oktober 2024. Ini tiruannya, karena media yang saya buat masih di stan pameran. Dengan media ini, anak didik dapat lebih memahami nilai satuan, puluhan, ratusan, ribuan, hingga jutaan dengan memutar roda yang ada di papan,” jelas Marudut Manurung, guru kelas 5 SDN 13 Kecamatan Laut Tador, Batu Bara, di sela-sela panen karya.
Ia didampingi kepala sekolah Pristiwarni, guru kelas 1 Sri Hartini, Tuti Dameiyanti guru kelas 3, dan Siti Hardiyanri guru kelas 6.
Meski dipraktekkan untuk kelas 5 SD, menurut Marudut, media ajar itu bisa diterapkan ke seluruh kelas. Tentu dengan nilai bilangan yang disesuaikan dengan tingkat kelas.
Media pembelajaran Panipat itu berbahan triplek bekas atau papan meja bekas ukuran sekitar 1x0,5 meter sebagai bahan alas agar bisa kokoh berdiri. Kemudian ada kardus untuk dibentuk roda, karton, kertas manila, dan origami.
“Di sini, kebetulan saya menyusun media untuk materi pembelajaran operasi bilangan cacah. Di papan saya menempelkan 7 roda terbuat dari karton di bawah tulisan nilai tempat, yakni satuan sampai jutaan. Di roda itu tertulis juga angka sesuai nilai tempat di atasnya. Misalnya, di roda satuan tertera angka 0-9. Di roda puluhan 00-90. Di roda ratusan 000-900. Dan seterusnya hingga jutaan,” jelas Marudut.
Lantas ada kotak ditempel di sudut kanan papan. Di sana ada soal numerasi beserta uang mainan. Anak didik diminta mengambil satu soal dan menyelesaikannya.
Misalnya soal mengenai harga barang. Anak didik harus menjumlahkan atau mengalikan harga barang yang harus dibeli, kemudian mereka diminta memutar roda sesuai perhitungan harga barang.
Contohnya, harga total barang Rp234,500, maka anak harus memutar 0 di papan satuan, 00 di papan puluhan, 500 di papan ratusan, 4000 di papan ribuan, dan seterusnya.
“Jika anak didik bisa memutar roda angka dengan tepat, artinya dia sudah memahami nilai tempat. Bisa membedakan yang mana satuan, mana puluhan, ratusan, ribuan, dan seterusnya. Angka dalam Panipat bisa diteruskan hingga ratusan juta jika dibutuhkan,” kata Marudut.
Kemudian, anak didik juga diminta menunjukkan uang mainan yang nilainya sesuai dengan perhitungan angka yang dihasilkan. Dengan demikian, anak didik tidak hanya mengenal nilai tempat, tetapi juga nilai uang yang dibutuhkan.
Adapun materi soal yang bisa menggunakan Panipat, menurut Marudut tidak hanya matematika, tetapi juga mata pelajaran lain yang mengandung numerasi.
Praktek media pembelajaran menggunakan Panipat terbukti menyenangkan dan disukai anak didik. “Anak didik senang dan antusias. Mereka minta dipraktekkan lagi dan lagi. Hasil evaluasi terakhir, rapor numerasi anak didik di sekolah kami terbukti meningkat,” cetusnya sambil tersenyum lebar.
SD 13 Laut Tador memang agak menonjol dari antara 13 sekolah yang gurunya dilatih oleh Fasda Perubahan 2.0 Tim Guru Bisa, yang diketuai Juni Hariyanyo dengan anggota Lilis Gusni dan Siti Najaliayah. Dari SD ini, ada 2 media pembelajaran yang terpilih ikut pameran di Kemendikbud Jakarta. Selain Papan Panipat, media pembelajaran berjudul Tangga Pintar juga ikut dipamerkan.
Kasek SD 13 Laut Tador, Pristiwarni, mengatakan dirinya senang sekali karena 4 guru di sekolahnya diundang Fasda Perubahan Tim Guru Bisa Tanoto Foundation, untuk mengikuti pelatihan dan pendampingan menciptakan media pembelajaran berbasis lingkungan untuk penguatan numerasi.
“Bahan yang dibutuhkan cukup barang bekas yang ada di sekolah. Kalaupun ada yang perlu dibeli, tidak harus mahal,” katanya
Salahsatu media pembelajaran yang terpilih ikut pameran di Kemendikbud adalah Tangga Pintar, yang dibuat Sri Hartini, guru kelas 1 SD SD 13 Laut Tador. Tangga pintar ini cocok diterapkan untuk pembelajaran di kelas rendah, yakni mulai kelas 1 hingga kelas 3.
Adapun media Tangga Pintar ini dapat menunjukkan pemahaman anak didik seputar materi penjumlahan dan pengurangan.
“Bahannya triplek bekas, kardus, styrofoam, kertas, lem, lidi, dan pipet. Selebihnya kertas warna untuk hiasan,” kata Sri. Guru membentuk tangga dari kardus, di atas triplek bekas.
Pada materi penjumlahan untuk kelas 1, si anak ditunjukkan metode naik tangga untuk penambahan. Dan turun tangga untuk pengurangan.
Misalnya untuk soal 2 pisang + 2 pisang, jadi berapa pisang?
Si anak diajarkan untuk menancapkan satu tusuk lidi ke tangga nomor 2, kemudian naik dua anak tangga sehingga tusuk lidi berada di tangga nomor 4. Artinya, hasil penambahan 2+2 adalah 4.
Kemhdian di pengurangan, misalnya untuk soal 6 kurang 4, anak menancapkan tusuk lidi di tangga nomor 6, kemudian turun 4 tangga dan tusuk lidi berada di tangga nomor 2. Artinya, hasil pengurangan 6-4 adalah 2.
“Dengan cara ini, anak-anak lebih cepat paham soal penambahan dan penjumlahan, sekaligus lebih cepat menangkap pelajaran. Penambahan dan pengurangan bisa dijadikan numerasi, dengan mencontohkan buah-buahan atau benda lainnya dalam soal. Jawaban yang diperoleh si anak kemudian di ditulis di papan tulis,” terang Sri.
Dua guru SDN 13 lainnya, yakni Tuti Dameiyanti guru kelas 3 dan Siti Hardiyanri guru kelas 6 juga membuat media pembelajaran untuk kelas mereka. Sebagai contoh Siti Hardiyanri guru kelas 6 membuat media berjudul Lingkaran Pecahan yang bisa ditetapkan untuk kelas 4-6. Ini adalah penjumlahan pecahan yang digambarkan dalam potongan puzzle membentuk lingkaran.
“Pertama, anak murid disuruh mengambil soal (ada buku petunjuk). Misalnya, resep makanan berupa 1/2 kg tepung teriugu, 1/8 kg tepung maizena, ¼ kg gula pasir, dan seterusnya. Murid disuruh menyusun puzzle sesuai angka resep, sekaligus menghitung lingkaran. Nanti kalau murid benar dalam menyusul puzzle, angka yang tertera terakhir seharusnya menunjukkan jawaban yang benar,” jelas Pristiwarni, kasek mewakili guru kelas 6 yang berhalangan hadir.
Media berikutnya adalah kreasi Tuti Dameiyanti, guru kelas 3. diputar Bahan triplek, kertas karton, kardus bekas, busa bekas, bambu, kertas manila, stik es, dan kertas berwarna untuk soal.
Caranya, siswa disuruh mengambil soal yang sudah disusun dalam soal perkalian, pembagian, penjumlahan, dan pengurangan. Media dibentuk dalam sebuah roda yang bisa diputar. Misalnya, soal tentang memancing. Jika satu pemancing berhasil mendapat 5 ikan dalam 1 jam, berapa ikan yang diperoleh dalam waktu 4 jam?
Anak didik mesti memutar roda sesuai metode yang dibutuhkan. Dalam hal ini adalah perkalian. Roda perkalian angka 5 diputar sebanyak 4 kali. Hasilnya, roda mesti menunjukkan angka yang benar yakni 20, untuk menunjukkan si anak memang memahami konsep numerasi yang diajarkan.
Menurut Pristiwarni, setelah para guru melakukan praktek media pembelajaran ini di kelas, rapor numerasi di SDN 13 Laut Tador meningkat tajam, dari sebelumnya hanya 60 menjadi 90. “Kami mempraktekkan media pembelajaran ini sejak 24 September lalu. Hasilnya, nilai murid naik signifikan di penjumlahan, pengurangan, pembagian, dan perkalian,” kata Pristiwarni.
Ia berharap, seluruh guru di sekolahnya akan mempraktekkan ide media pembelajaran serupa, untuk meningkatkan nilai numerasi di sekolahnya khususnya, dan di Batubara umumnya.
Mutazar, Media & Communications Coordinator Tanoto Foundation mengatakan tujuan akhir dari pelaksanaan program Fasda Perubahan 2.0 Tim Guru Bisa adalah untuk mendukung implementasi Kurikulum Merdeka melalui program pendampingan yang lebih baik, untuk meningkatkan hasil literasi dan numerasi.
“Tanoto Foundation ingin memperkuat kapasitas fasilitator kabupaten sebagai champion local, sehingga mereka dapat menyebarluaskan praktik-praktik baik dalam pengajaran dan pembelajaran, untuk membantu meningkatkan kompetensi siswa di bidang literasi dan numerasi,” katanya. (mea)
Editor : Editor Satu