KABANJAHE, METRODAILY – Skenario pembelajaran atau modul ajar untuk meningkatkan numerasi peserta didik di Sekolah Dasar di Kabupaten Karo, bebas dikreasikan guru asalkan masih sesuai Kurikulum Merdeka. Seorang guru di SD swasta Methodist Kabanjahe, merancang media pembelajaran dengan kalender bekas, untuk mengajarkan materi bilangan kelipatan di mata pelajaran Matematika.
Merlindawati Sinurat, nama guru Matematika di SD itu, memajang dua kalender bekas di papan tulis. Kemudian, ia menjelaskan tentang materi Kelipatan, Kelipatan Persekutuan, dan Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK).
“Kelipatan bilangan adalah hasil kali bilangan apapun dengan bilangan bulat,” jelas Merlinda di awal pelajaran. Contohnya, kata dia, bilangan 2, dikali bilangan bulat 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, hasilnya adalah bilangan kelipatannya. Yakni 2, 4, 6, 8,10, 12, 14, 16, 18.
“Nah, anak-anak, misalnya kalian harus mengikuti les Matematika sekali 2 hari. Coba tunjukkan, berapa kali kalian harus ikut les selama sebulan atau 30 hari?” tanyanya kepada siswa, dalam praktik pembelajaran menggabungkan media pembelajaran numerasi ke mata pelajaran Matematika di kelas V, belum lama ini.
Seorang anak lantas maju ke depan dan mulai melingkari tanggal-tanggal yang tertera di kalender.
Ternyata, tanggal yang dilingkari belum terlalu tepat. Anak lain dipersilakan untuk maju memperbaiki, sekaligus menunjukkan pemahamannya akan kelipatan bilangan. Murid boleh bergantian menjawab hingga jawaban dinilai benar.
Setelah dinilai paham, Merlinda menjelaskan tentang Kelipatan Persekutuan. Yakni bilangan kelipatan dari dua bilangan atau lebih yang besarnya sama. Misalnya, jika kelipatan bilangan 2 adalah 2, 4, 6, 8, 10, 12, 14, 16, 18. Dan kelipatan bilangan 3 adalah 3, 6, 9, 12, 15, 18, 21, 24, 27, maka Kelipatan Persekutuannya adalah 6 dan 12.
“Misalnya kalian harus mengikuti les Matematika sekali 2 hari, dan juga les Bahasa Inggris sekali 3 hari. Coba tunjukkan, di hari ke berapa kalian akan les di tanggal yang sama?” tanyanya.
Murid-murid kembali maju ke depan melingkari tanggal-tanggal di kalender sesuai pemahamannya. Jika kurang tepat, anak lain dipersilakan maju untuk memperbaiki, hingga jawaban dinilai benar. Jika jawaban benar, guru memuji sekaligus menjelaskan metodenya kepada murid lain yang mungkin belum mengerti.
Berikutnya, ia menjelaskan mengenai materi Kelipatan Persekutuan Terkecil (KPK), yakni bilangan bulat positif terkecil yang dapat dibagi habis oleh dua bilangan. Misalnya, jika Kelipatan Persekutuan angka 2 dan 3 adalah 6 dan 12, maka Kelipatan Persekutuan Terkecil-nya adalah 6.
“Jika kita contohkan untuk jadwal les Matematika dan Bahasa Inggris tadi, di hari ke berapakah kalian akan menjalani dua les bersamaan, sesuai dengan konsep KPK?” tanyanya lagi.
Kembali, para murid maju ke depan untuk melingkari sebuah tanggal yang angkanya dinilai benar.
“Jadi anak-anak, kita harus mampu memahami hitungan Matematika dan menerapkannya dalam kegiatan sehari-hari. Contohnya, seperti mengatur jadwal les tadi. Itu ‘kan kegiatan berulang. Kalian bisa menyusun jadwal di kalnder sesuai materi bilangan kelipatan tadi. Bisa juga diterapkan dalam mengatur jadwal makan, berenang, seterusnya,” jelasnya.
Selain menggunakan media kalender bekas, Merlindawati juga menggunakan metode hitungan tepuk tangan untuk menguji pemahaman anak-anak tentang kelipatan. Misalnya kelipatan 2, berarti tepuk tangan 2 kali, 4 kali, 6 kali, dan seterusnya.
SD swasta Methodist Kabanjahe, merupakan salahsatu sekolah yang gurunya ikut pelatihan skenario penggabungan literasi numerasi ke mata pelajaran lainnya, yang dirancang Fasda Karo Maju Tanoto Foundation. Adapun Fasda Karo Maju diketuai oleh Totaria Simbolon, dengan anggota Ervina Tarigan, Susi Purnama Purba, Efrita Saragih, dan Eliana Sembiring.
Kebetulan, salahsatu praktik yang sudah diterapkan di SD ini adalah penggabungan numerasi dengan Matematika.
Merlindawati mengaku, skenario pembelajarannya belum sempurna. Namun ia berharap, lewat media pembelajaran kalender itu, siswa dapat memahami dan menemukan sendiri konsep kelipatan dalam kehidupan sehari-hari. “Karena kelipatan adalah kegiatan berulang,” katanya.
Kepala Sekolah SD Methodist, Widia Kasterina br Ginting, mengatakan pihak sekolah mendukung pengembangan pembelajaran numerasi. “Sekolah akan melengkapi alat-alat media pembelajaran yang dibutuhkan guru. Tapi tentu sesuai anggaran yang tersedia, karena saat ini ada 27 guru untuk 25 kelas,” katanya.
Sementara ini, guru masih memanfaatkan barang sisa dari rumah atau sekolah menjadi media pembelajaran. Apalagi, konsep pembelajaran yang dirancang oleh Fasda Karo Maju adalah memanfaatkan bahan yang ada di sekitar.
Widia mengucapkan terimakasih kepada Tim Fasda yang membimbing guru di sekolahnya. Karena proyek Fasda sangat bermanfaat bagi peningkatan pendidikan, khususnya numerasi.
Tim Fasda Karo Maju yang hadir melakukan monitoring mengatakan, metode pembelajaran pakai media kalender sudah oke. “Guru dan murid memahami skenarionya. Tetapi mungkin perlu penguatan ke depan agar pelajaran terasa lebih menyenangkan,” kata Eliana Sembiring.
Seorang guru yang bertugas melakukan observasi praktik pembelajaran numerasi dengan Matematika di sekolah tersebut, Purnamasari br Purba, menuliskan hasil pengamatannya dalam lembar laporan.
Ia menulis: Siswa dapat memberikan pendapat dan menuliskan informasi; Siswa dapat menjawab/mampu menjawab soal yang diberikan/disajikan.
Pengamat kedua atas nama Savitri Dewi br Tambun, juga menuliskan hasil pengamatannya. Kata dia, siswa mau menjawab pertanyaan dan maju ke depan serta berdiskusi. Siswa dapat menuliskan pada lembar kegiatan siswa. Siswa mampu mengerjakan soal kelipatan bialngan, kelipatan persekutuan, dan KPK.
Kemudian, siswa menemukan bilangan kelipatan melalui tepukan dan bilangan kalender juga grafik, sehingga mampu menjelaskan konsep kelipatan; Siswa berani menanyakan maksud gambar pada lembar kegiatan siswa; Siswa aktif memberi pendapat, bertanya jawab dan berkomunikasi saat mengerjakan lembar kegiatan siswa.
“Siswa juga secara umum serius dan antusias saat belajar. Tapi ada beberapa siswa yang tidak mampu mengerjakan lembar kegiatan siswa,” katanya. (mea)
Editor : Editor Satu