“Shane menjadi finalis dalam kategori film pendek (fiksi). Para finalis yang terpilih diberi hak untuk mengikuti babak final FLS2N yang akan dilakukan secara luring,” demikian isi pengumuman dari Balai Pengembangan Talenta Indonesia.
Ada sejumlah kategori lomba yang digelar untuk kategori pelajar SMA/MA yakni Baca Puisi, Cipta Lagu, Cipta Puisi, Desain Poster, Film Pendek (Fiksi), Instrumen Solo: Gitar, Komik Digital, Kriya, Menyanyi Solo Putra, Menyanyi Solo Putri, Monolog, Tari Kreasi, Fotografi (Felsi), Jurnalistik (Felsi), Menulis Cerpen (Felsi).
Sedangkan untuk siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), lombanya yakni Cipta Lagu, Film Pendek (Fiksi), Instrumen Solo: Gitar, Kreativitas Musik Tradisi, Kriya, Menyanyi Solo, Monolog, dan Tari Kreasi,
Shane Aldrich Simbolon, kepada MetroDaily mengatakan, film pendek yang dilombakan mengambil “Talenta Merdeka, Menginspirasi Kebebasan Yang Bermartabat Dan Berprestasi”. Tujuan tema film ini untuk mengajak masyarakat bangga akan kearifan lokal.
“Film pendek yang kubuat untuk ikut FLS2N ada 3. Yang juara 1 kota berjudul Mulak-Ulak (Berulang-ulang). Juara 1 provinsi berjudul Mangarindanghon (Menunjukkan). Dan top 10 Nasional berjudul Dawai dan Doa,” kata Shane kepada MetroDaily.
Inti dari 3 film ini sama, karena harus sesuai dengan tema dan tujuan perlombaan. “Tapi penyampaian dan mekanismenya berbeda. Misalnya dalam film Mulak-ulak, aku masukkan unsur "Dominos Effect". Sekarang lagi final mulai dari tanggal 21-26 dan film kami masih dikonsepkan,” katanya.
Gimana caranya belajar bikin film pendek? “Belajarnya otodidak, pakai hape saja. Ini sudah hobi sejak SD. Ditambah lagi sekolah juga support,” kata pelajar yang bercita-cita menjadi sutradara film ini.
Tapi sebelum dirinya masuk ke babak nasional, ia mengaku dibekali bootcamp singkat dari studio Manu Project Pro sebagai pembimbing dari provinsi ke nasional.
Peralatan apa saja yang digunakannya untuk membuat film pendek? “Untuk tingkat kota dan provinsi, saya hanya menggunakan handphone saja. Tapi untuk top 10 nasional, saya dipinjamkan kamera Sony dan gimbal stabilizer oleh Manu Project Pro,” katanya lagi.
Shane mengatakan, persiapannya menuju final tingkat nasional sudah cukup memadai, karena sudah dibekali dan didukung oleh pihak keluarga, sekolah, pembina, dan dinas provinsi.
Kepala Sekolah SMA Kristen Kalam Kudus Kota Pematangsiantar, Paulina Oscar, ikut bangga dengan keberhasilan siswanya masuk final FLS2N. “Harapan saya, agar siswa tersebut dapat meningkatkan kompetensi di bidang perfilman, dan menginspirasi setiap siswa di Kota Pematang Siantar untuk berprestasi,” katanya.
Sebagai apresiasi dari pihak sekolah terhadap prestasi Shane, Badan Pengurus Yayasan Kalam Kudus Indonesia memberikan beasiswa kepada Shane.
Jelang keberangkatan mengikuti FLS2N Tahun 2023 di Jakarta pada 21-26 Agustus mendatang, Shane Aldrich Simbolon didampingi gurunya melakukan audiensi ke Wali Kota Pematang Siantar, dr Susanti Dewayani SpA, Sabtu (19/8/2023).
Wali Kota mengaku sangat bangga atas prestasi siswa yang memberikan kontribusi kepada nama Kota Pematang Siantar. “Dorongan dan semangat anak-anak ini harus kita dukung,” ucapnya.
Ditanya akan mengambil jurusan apa kelak, Shane mengatakan nasih sedikit ragu untuk jurusan, karena takut salah ambil. “Tapi target saya jika tidak Teknik Komputer, Ilmu Komunikasi,” katanya menutup pembicaraan. (mea) Editor : Metro Daily