Ekonomi Hukum dan Kriminal Medan Metropolitan Nasional Olahraga Showbiz Sumut Aceh Advertorial Feature Intermezzo Internasional Iptek Kolom Merdeka Belajar Nusantara Politik Seni dan Budaya Wisata

Murid Baru Diajak Bermain sambil Kenalan dan Berbaris Keliling Sekolah

Metro Daily • Kamis, 27 Juli 2023 | 15:15 WIB
MPLS di di UPT SDN 29 Lalang, Batu Bara, Sumatera Utara, yang menerapkan pendekatan Resam Bakal Silang. (Foto: Dok Pribadi)
MPLS di di UPT SDN 29 Lalang, Batu Bara, Sumatera Utara, yang menerapkan pendekatan Resam Bakal Silang. (Foto: Dok Pribadi)
BATU BARA, METRODAILY – Kebijakan Transisi Pendidikan Anak Usia Dini-Sekolah Dasar (PAUD–SD) yang dirilis oleh Kementerian Pendidikan pada seri Merdeka Belajar episode 24, memberikan pijakan peralihan pendidikan anak dari PAUD ke SD agar dilakukan secara menyenangkan. Kebijakan transisi itu dimulai dari tahun ajaran baru 2023.

“Beberapa indikator transisi PAUD–SD yang menyenangkan adalah, ditiadakannya tes calistung (baca, tulis, hitung) untuk peserta didik baru di sekolah dasar,” kata Juwita Rihasnita, SPd SD, saat menjadi pemantik diskusi online dengan topik Resam Bakal Silang guna menyahuti agenda transisi PAUD-SD, belum lama ini.

Indikator lainnya, lanjut Juwita, sekolah menerapkan masa perkenalan bagi peserta didik baru selama dua minggu pertama. Serta menerapkan pembelajaran yang membangun enam kemampuan fondasi anak.

“Kebijakan ini disambut oleh setiap daerah di seluruh Indonesia, termasuk Kabupaten Batu Bara. Dengan jargon Laskar Sipandang, singkatan dari Lakukan Segera Transisi PAUD-SD Menyenangkan, diharapkan seluruh sekolah dasar menghapuskan tes calistung untuk penerimaan peserta didik baru. Serta merancang kegiatan pengenalan lingkungan sekolah selama dua pekan yang diistilahkan dengan MPLS,” kata Juwita, yang juga Fasilitator Daerah Komunikasi Batu Bara Tanoto Foundation, dalam diskusi online tersebut.

Menyahuti jargon Laskar Sipandang yang disosialisasikan oleh Dinas Pendidikan Batu Bara bersama Bunda PAUD, Ibu Maya Indria Sari Zahir, SE sejak 8 Juni lalu, Juwita Rihasnita yang juga fasilitator kelas tinggi Gugus 3 Kecamatan Medang Deras, Batu Bara, menginisiasi diskusi online dengan tema ‘Laskar Sipandang, Bagaimana Penerapannya di Sekolah Kita?

Memanfaatkan aplikasi zoom dengan durasi 2,5 jam, Juwita memaparkan tentang Resam Bakal Silang guna menyahuti agenda transisi PAUD -SD. “Resam bermakna budaya. Bakal adalah singkatan dari baik dan cerdas akal. Sedangkan silang berarti prestasi cemerlang,” kata guru kelas 4 di UPT SDN 18 Lalang, Batu Bara, ini mengawali diskusi.

Pendekatan Resam Bakal Silang ini dikemas dalam kegiatan MPLS melalui sosialisasi kepada orang tua berkenaan dengan penerapan kurikulum merdeka, mengenalkan wawasan wiyata mandala sekolah, budaya positif seperti kegiatan literasi pagi, kegiatan ekstra kurikuler sekolah, serta melakukan asesmen awal diasnogtik kognitif dan non kognitif.

MPLS, jelas Juwita, adalah kegiatan seputar pengenalan sarana dan prasarana sekolah, program sekolah, konsep pengenalan diri, pembinaan awal kultur sekolah, dan pengenalan cara belajar. MPLS menjadi masa anak didik untuk terkoneksi dengan teman sebaya yang baru dikenal. Dan menjadi saat penting bagi peserta didik untuk memulai pembelajaran di sekolah dasar.

Photo
Photo
MPLS di di UPT SDN 29 Lalang, Batu Bara, Sumatera Utara, yang menerapkan pendekatan Resam Bakal Silang. (Foto: Dok Pribadi)

MPLS diharapkan menumbuhkan budaya positif pada peserta didik. Dan membantu peserta didik beradaptasi dengan lingkungan baru.

“Misalnya, kegiatan orientasi hari pertama dimulai pukul 07.15- 07.30, dimulai dari pengarahan oleh Kepala Sekolah di halaman. Kemudian pertemuan dan sosialisasi kepala sekolah bersama guru kelas 1.  Pembagian kelas (jika paralel). Lantas, anak-anak bisa diajak bersama-sama menyebutkan yel-yel, dilanjutkan menyanyikan lagu hari pertama ke sekolah,” kata Juwita.

Berikutnya, anak-anak bisa diajak berkenalan sambil bermain ular tangga. Siswa diminta menyebutkan nama panggilan, kemudian guru memberi badge nama sederhana.

“Penyambutan peserta didik baru di halaman sekolah bisa juga dilanjutkan dengan melakukan senam bersama siswa kelas 1 oleh guru kelas,” katanya.

Selanjutnya, anak baru diajak pengenalan lingkungan dan fasilitas sekolah beserta tata tertib penggunaan. “Mereka bisa disuruh berbaris dipandu oleh kakak kelas, dan diajak berkeliling sekolah,” cetusnya.

Pada MPLS hari ke 2, anak-anak bisa diajak membuat permainan susun puzzle dengan cara berkelompok. Puzzle bisa berupa potongan pakaian sekolah lengkap dengan atribut.

“Untuk refleksi permainan ini, guru bisa menanyakan perasaan anak (boleh disediakan gambar untuk menunjukkan perasaan mereka sambil persiapan pulang). Dilanjutkan kegiatan dalam kelas,” jelasnya.

Pada MPLS Hari ke 3, penyambutan peserta didik baru di halaman depan sekolah bisa diisi dengan “pentas bakat” oleh kakak kelas. Kegiatan ini sebagai bagian dari pengumuman oleh sekolah tentang kegiatan ekstrakurikuler.

“Bisa membuat permainan “Buru Bendera“, yang dibuat dengan menggunakan bendera. Caranya, bendera diletakkan pada beberapa tempat di lingkungan sekolah. Pada setiap bendera dituliskan soal-soal yang harus di jawab oleh peserta didik baru,” katanya.

Photo
Photo
Juwita Rihasnita, Fasilitator Daerah Komunikasi Batu Bara Tanoto Foundation. (Dok Pribadi)

Permainan ini dilakukan secara berkelompok, dipandu oleh kakak kelas mencari bendera. Pemenangnya adalah kelompok yang paling banyak membawa bendera.

“Pada sesi refleksi, guru menanyakan perasaan siswa usai melakukan berbagai permainan hari itu,” katanya.

MPLS hari berikutnya bisa diisi dengan kegiatan mendongeng di halaman sekolah dilanjutkan Tanya Jawab. Atau permainan senam otak, adu konsentrasi, sambung kata, kegiatan keagamaan, dan lain-lain. “Intinya adalah membuat kegiatan yang menyenangkan bagi peserta didik, namun memberi makna pembelajaran,” ungkapnya.

Refleksinya, guru kembali menanyakan perasaan siswa selama hari itu.

Setelah 2 minggu, kegiatan penutupan MPLS dilakukan dengan melibatkan orang tua untuk hadir sekaligus membentuk paguyuban kelas.

“Di sini, bisa diumumkan peserta terbaik dengan berbagai kategori. Misalnya siswa paling rapi, paling sopan, dan sebagainya. Pada sesi refleksi, guru berterima kasih kepada peserta didik karena telah bersemangat mengikuti kegiatan MPLS. Dan seterusnya,” kata Juwita.

Pada diskusi online tersebut, ketua KKG Gugus 3 Medang Deras, Muhammad Supian, sempat mengapresiasi anggota gugus 3 khususnya 12 orang guru kelas 1, yang antusias mengikuti diskusi meski masih suasana liburan. “Termasuk 3 guru dari luar Medang Deras, yaitu dari Kecamatan Tanjung Tiram, Datuk Tanah Datar, dan Talawi,” katanya.

Sejumlah peserta diskusi bertanya seputar cara menyusun kegiatan MPLS  dengan pendekatan Resam Bakal Silang, agar peserta didik baru benar-benar merasa senang dan nyaman berada di sekolah baru.

Seorang guru kelas 1, Ibu Sumiati, mengaku mulai faham cara menerapan Laskar Sipandang ini, setelah dua pekan terfikir terus. “Alhamdulillah, sekarang jauh lebih jelas. Terima kasih ya, teman-teman dari Gugus 3 yang telah mengadakan diskusi online ini. Kami sangat terbantu,” kata Sumiati di akhir diskusi. (juwita/mea) Editor : Metro Daily
#resam bakal silang #Transisi PAUD ke SD #pengenalan sekolah