“Festival Project 2023 bertemakan ''Rivers of Life'' ini merupakan proyek perdana, yang menjadi prototipe Sekolah Kalam Kudus Menuju menuju implementasi Kurikulum Merdeka jalur Mandiri Berubah. Jika tahun 2022-2023, Kalam Kudus masih menggunakan kurikulum Mandiri Belajar, 2023-2024, seluruh jenjang sekolah mulai TK, SD, SMP, dan SMA Kalam Kudus akan menggunakan Kurikulum Mandiri Berubah,” jelas Direktur Pelaksana Sekolah Kristen Kalam Kudus Pematang Siantar, Paulina Oscar, kepada MetroDaily, hari ini di sela-sela atraksi seni para siswa.
Setahun mengimplementasikan Kurikulum Merdeka jalur Mandiri Berubah, Sekolah Kristen Kalam Kudus Pematangsiantar menargetkan akan mengimplementasikan Kurikulum Merdeka jalur Mandiri Berbagi, pada tahun ajaran 2024-2025. “Nantinya, proyek festival seperti ini akan digelar setiap semester, sebagai bagian dari Kurikulum Merdeka Berubah. Di Siantar, sudah ada 4 sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka Berubah. Kalam Kudus mungkin menjadi sekolah kelima,” kata Paulina.
Sejak pagi, para siswa Kalam Kudus silih berganti di panggung menampilkan atraksi pertunjukan, seperti seni tari, seni sastra berupa puisi dan drama, seni music, fashion show, dan seterusnya. Sementara seni rupa dipamerkan di sisi kanan, berupa karikatur karya para siswa bertema mayor Rivers of Life dan tema minor Kejatuhan Manusia Dalam Dosa. Juga ada ada video tentang Rivers of Life di Sungai Bah Bolon Pematang Siantar, hasil karya para murid selama tiga kali kunjungan lapangan ke Sungai Bah Bolon. Serta banner karya para siswa Kalam Kudus se-Indonesia bertema Rivers of Life.
“Rivers of Life merupakan salah satu kontekstualisasi dari gaya hidup berkelanjutan, yang dirancang sebagai sebuah projek pembelajaran kokurikuler. Tujuannya, agar peserta didik memahami dampak aktivitas manusia, baik jangka pendek maupun panjang terhadap kelangsungan kehidupan di dunia maupun lingkungan sekitarnya,” kata, Paulina Oscar.
Festival Proyek menjadi panggung kreasi bagi para siswa untuk menampilkan minat dan bakat mereka, sekaligus kampanye untuk mencintai dan melestarikan sungai.
Mengapa memilih tema "Rivers Of Life"?
Kata dia, di lndonesia, terdapat setidaknya 55.900 sungai utama dan 65.017 anak sungai yang tersebar di Nusantara. Hal ini merupakan karunia Tuhan yang luar biasa bagi bangsa lndonesia. “Tetapi perilaku yang salah masyarakat dalam mengelola lingkungan dapat mengakibatkan sungai menjadi sumber malapetaka, ketika terkontaminasi dengan polutan yang berbahaya serta sampah yang mengakibatkan banjir, sehingga mengganggu lingkungan tempat tinggal masyarakat,” katanya.
Dengan membuat proyek "Rivers Of Life", sekolah Kalam Kudus berharap peserta didik dapat membangun kesadaran untuk bersikap dan berperilaku ramah lingkungan, mempelajari potensi krisis keberlanjutan yang terjadi di lingkungan sekitarnya, serta mengembangkan kesiapan untuk menghadapi dan memitigasinya.
“Rivers of Life ini merupakan project Nasional Sekolah Kristen Kalam Kudus yang tersebar di seluruh lndonesia, mulai jenjang TK, SD, SMP, hingga SMA. Proyek ini dipilih untuk menanamkan rasa cinta siswa kepada sungai-sungai yang ada di daerah masing-masing,” katanya lagi.
Project Rivers of Life dilaksanakan oleh 11 Sekolah Kristen Kalam Kudus se lndonesia dengan meresponi sungai-sungai yang ada di kota masing-masing.
Project Rivers of Life telah melalui berbagai tahapan, yaitu tahap pertama pemahaman konsep yang terdiri dari kegiatan literasi tentang sungai, riset dan penentuan tema. Kedua, pembuatan karya dalam bentuk seni. Ketiga, digitalisasi hasil karya seni. Keempat, pameran hasil karya seni di area publik.
Di Siantar, para siswa SD, SMP, dan SMA Kalam Kudus sudah 3 kali turun melakukan kunjungan ke Sungai Bah Bolon. Hasil pengamatan siswa, Sungai Bah Bolon sudah tercemar. Tidak seindah yang dibayangkan. “Mereka bilang, kok kotor ya, Bu? Nah, masuklah edukasi apa yang harus dilakukan untuk mencegah pencemaran. Kita ajak siswa aksi nyata seperti mengutip sampah. Dan tidak membuang sampah sembarangan,” katanya.
Panitia Pameran Hasil Karya Projek Rivers Of Life tahun pelajaran 2022/2023 ini diketuai Vivit Sinaga, dengan Direktur Pelaksana SKKK-PS, Paulina Oscar. Acara dihadiri Wali Kota Pematangsiantar, dr. Hj. Susanti Dewayani, Sp.A.
Mandiri Belajar, Berubah, dan Berbagi
Untuk diketahui, Kemendikbudristek memberi pilihan pada sekolah untuk menerapkan Kurikulum Merdeka jalur Mandiri Belajar, jalur Mandiri Berubah, dan jalur Mandiri Berbagi.
Di dalam Mandiri Belajar, sekolah masih menggunakan Kurikulum 2013 tapi sudah mulai menerapkan prinsip-prinsip yang ada di Kurikulum Merdeka. Terutama dalam rangka peningkatan kompetensi literasi, numerasi, penguatan pendidikan karakter dan lainnya yang ada di Kurikulum Merdeka
Sedangkan Mandiri Berubah, artinya Satuan Pendidikan sudah memanfaatkan sepenuhnya platform Merdeka Mengajar yang disiapkan oleh Kemendikbudristek. Satuan pendidikan dapat memilih CP, TP, ATP, perangkat ajar, dan asesmen di platform Merdeka Mengajar, yang juga sudah memuat segala kebutuhan sekolah untuk menerapkan Kurikulum Merdeka.
Sementara para pilihan Mandiri Berbagi, Satuan Pendidikan diberi keleluasaan dalam menerapkan Kurikulum Merdeka dengan mengembangkan sendiri berbagai perangkat ajar pada satuan pendidikan PAUD, kelas 1, 4, 7 dan 10. (mea) Editor : Metro Daily